Gus Yusuf Ingatkan Warga NU: Pesan KH Hasyim Asy’ari, Luhur Derajatnya Mukmin adalah Ajarkan Agama

Majenang, NUCOM – Pengasuh Asrama Perguruan Islam (API) Pondok Pesantren Salafi Tegalrejo Magelang, KH Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, mengingatkan warga Nahdliyin untuk kembali pada pesan paling fundamental dari Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Pesan itu adalah: Wa A’la Darajatil Mukminin annat ta’lima min ahammil umuriddin — luhur derajatnya orang mukmin adalah mengajarkan agama.

Hal tersebut ditegaskan Gus Yusuf saat memberikan tausiyah di hadapan ratusan kader, warga NU, dan alumni Pesantren Tegalrejo di Ndalem Syuriyah PRNU Cilopadang, Kiai Rakhmad Irfangi, Majenang, Cilacap, Senin (26/10/2026).

“Ini yang perlu kita garis bawahi situasi saat ini. Jadi mulang ngaji sampeyan, tlateni lare-lare nang musala, nang masjid, nang madrasah, TPQ, pesantren itu adalah kunci. Kunci keberlangsungan agama,” tegasnya.

Gus Yusuf mengutip langsung dawuh Hadratussyaikh dalam kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim, syarah Ta’limul Muta’allim:

Ala ta’lima Min ahammil umuriddin wa a’la darajatil mukminin annat ta’lima min ahammil umuriddin. Wa a’la darajatil mukminin.

Secara makna artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya mengajar atau belajar agama adalah termasuk urusan agama yang paling penting, dan merupakan derajat orang mukmin yang paling tinggi.”

Menurutnya, inilah pilar utama Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Bukan jabatan, bukan popularitas, tapi ta’lim wat ta’allum yang istiqamah.

Waspada Framing Negatif yang Melemahkan NU

Gus Yusuf menilai NU hari ini tengah menghadapi ujian berat. Ada upaya sistematis melemahkan NU lewat framing negatif di media sosial.

“Kita melihat hari ini nang media sosial, senajan Muktamar NU wis rampung masih terus digoreng soal rishwah, soal korupsi. Seakan-akan kiai-kiai ki doyan sogokan kabeh. Ini akan terus, tren ini akan terus muncul. Memang ada upaya orang yang ingin melemahkan NU,” ujarnya.

Begitu juga pesantren yang diserang dengan narasi pencabulan dan kekerasan, serta kader-kader NU di politik yang terus disorot. Dia menyebut kasus yang menimpa mas Bupati Cilacap SAR, Gus Yaqut, hingga Nusron sebagai bagian dari target yang diciptakan.

“Tujuannya satu, agar masyarakat menjauh dari agama dengan cara menjauhkan dari NU dan pesantren,” katanya.

Benteng NU Ada di Akar Rumput

Karena itu, benteng pertahanan terakhir NU bukanlah di pusat, melainkan di akar rumput.

“Nah bentenge itu tadi. Asal di Cilacap iki musala, masjid, madrasah, kiai-nyai alumni santri pesantren ikhlas mulang ngopeni lare-lare, Islam, Jamiiyah NU akan tetap terjaga dan lestari,” tegasnya.

Gus Yusuf juga mengingatkan agar warga NU maupun santri alumni tidak mudah terprovokasi dan ikut ikutan menyebar (ngeshare) isu-isu yang membenturkan NU dengan soal Ba’alawi, korupsi, dan pencabulan. Jika terpengaruh, tugas sesungguhnya yaitu mengajar ngaji akan terbengkalai.

“Ojo gampang terpengaruh. Akhirnya garapan saktemene yaitu tanggung jawabe, mengaji ora kegarap, terbengkalai. Malah melu-melu sing ora jelas tujuane,” pesannya.

Dia menekankan, mengajar ngaji adalah jalan sunyi, sepi, tapi justru mulia di langit.

Dia jugq menekankan pentingnya istiqamah dalam ta’lim wat ta’allum. Mengajar ngaji adalah jalan sunyi, sepi, tapi mulia di sisi Allah SWT.

“Ora usah golek kondang, sing penting mulya luhur nang ngarsane Gusti Allah. Ngaji kuwi Jalan sepi, sunyi, tapi rame dihadapan Allah. Ciri-cirinya, saat jamaah subuh, sepi, tapi di langit rame. Wa a’la darajatil mukminin. Dawuh KH Hasyim Asy’ari,” tuturnya.

Di akhir tausiyah, Gus Yusuf mendoakan agar warga NU istiqamah berjuang dalam pendidikan dan politik. Gus Yusuf akui, meski sudah tidak lagi menjabat struktural PKB, dia menegaskan hakikatnya masih bertanggung jawab untuk kebesaran PKB Jawa Tengah.

“Mengapa? Karena PKB satu-satunya wadah perjuangan politik NU. Jangan terpengaruh suasana politik yang tidak jelas,” pungkasnya.

Profil Singkat KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf)

KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) lahir di Magelang, 9 Juli 1973. Putra KH. Chudlori, pendiri API Tegalrejo 1944. Sejak wafatnya sang kakak, KH. Abdurrahman Chudlori (Mbah Dur) pada 2011, dia mengemban amanah sebagai Pengasuh API Tegalrejo bidang antarlembaga.

Gus Yusuf pernah nyantri di Lirboyo Kediri (1985-1994), Kedung Banteng Purwokerto, dan Salafiyah Bulus Kebumen. Kini dipercaya sebagai bagian dari Pejabat A’wan PBNU Masa Khidmat 2026-2031.

Gus Yusuf menikah dengan Vina Rohmatul Ummah dan dikaruniai tiga anak di antaranya: Ahmad Haikal Tanjani Khumaid, Yusfina Zahru Tsania, dan Aqila Alaya Sya’an.***(IHA)

Baca juga: Inilah Daftar Nama Pengurus Baru PBNU 2026-2031

Gus Yusuf: Gus Dur hingga Buya Said, Lesbumi Jadi Rumah Kultur, Budaya Muslim Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button