Semangat 45 Muktamar NU, Ketika Rumah Besar Bernama NU Punya Gawe

NU CILACAP ONLINE – Pada tanggal 27-31 Agustus 2026, di Pesantren Tambak Beras, Jombang, NU punya gawe,, ewuh, hajatan, yang bernama Muktamar. Sehingga pasti sibuk, riweh, ewuh, dan berbagai perasaan berkecamuk.
Kegiatan Muktamar itu adalah bagian dari ” mekanisme lima tahu-an”. Kita Bangsa Indonesia, memang senang angka-angka lima. Apalagi umat Islam, terlebih tentu saja NU, Nahdlatul ‘Ulama. Pancasila, berjumlah lima. Sholat, berjumlah lima. Di simbol NU, bagian atas, bintangnya pun lima. Sampai pun sebuah lagu, judulnya, balonku ada lima. Ada juga istilah asketik jawa, sedulur papat lima pancer. Di pewayangan, Pandawa, figur central lakokon, berjumlah lima. Kesaktian tertinggi yang sulit tertandingi, adalah tokoh yang mempunyai ajian bernama Pancasona.
Kembali ke soal muktamar NU. Secara kebetulan, atau disengaja, atau desakan situasi inter-eksternal, Muktamar NU dilaksanakan pada Bulan Agustus. Tidak ada pertentangan sedikit pun di kalangan NU. Artinya, ini sebuah tahkim.
Muktamar di Bulan Keramat
Momentum muktamar di Bulan Agustus, atau bulan-bulan lainnya, adalah sesuatu yang normal. Mekanisme organisasi yang lima tahunan itu, bisa saja terjadi di bulan-bulan yang berbeda saat terjadinya muktamar.
Tetapi di Bulan Agustus tentu kita bisa menarik spiritnya agar mengilhami kegiatan muktamar dilakukan secara semangat dan penuh dengan nilai-nilai perjuangan, tentu saja untuk NU dan Bangsa Indonesia. Baca juga Muktamar NU ke 33 di Jombang
Masih segar dalam ingatan kita semua, dan tentu saja para muktamirin, bahwa beberapa hari yang lalu, kita semua baru saja merayakan HUT RI ke-81, dengan berbagai kegiatan perayaan, renungan, tirakatan, upacara, pawai, karnaval dan kegiatan-kegiatan lainnya yang semua itu menggambarkan rasa gembira, syukur, dan penuh makna atas perjuangan para pendahulu. Baca juga Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia
Tentu dan hendaknya, semua perayaan itu menimbulkan sedimentasi dan residu semangat juang, keikhlasan, bagi para muktamirin, sebagaimana diteladankan oleh para pejuang bangsa.
Perjuangan para muktamirin, dan pengurus serta seluruh warga NU di semua level, tentu perjuangan untuk NU utamanya. Keikhlasan dalam berjuang, tidak memanfaatkan NU utuk kepentingan politik, tentu harus mendasari setiap gerakan warga dan pengurus NU. Saya kutipkan pesan KH. A Dahlan tentang Muhammadiyah. Tapi itu tentu tepat juga untuk NU. Redaksi pesannya tentu saya sesuaikan dengan NU.
Aku, titipkan NU kepadamu. Hidup-hidupkanlah NU dan jangan mencari hidup di NU.
Nilai juang itulah semangat 45, yang menjadi sedimen dan residu dari pewarisan nilai-nilai semangat dan keikhlasan yang harus kita adopsi dari para pejuang negara, dan harus bisa diterapkan oleh para pemimpin NU untuk NU.
Reposisi Nn, redefinisi, dan reak-kontektualisasi Khittah 1926
Isu yang terus menghangat, m JJengiringi setiap langkah dan dinamika sosial-politik NU, di tengah perkembangan bangsa dan dunia, adalah persoalan Khittah.
Perbedaan dan perdebatan tentang khittah, dan implementasi politiknya, masih menjadi schrimit, turbulens bahkan disrytmic di internal NU. Khittah menjadi seperti “karet” yang bisa ditarik ulur sesuai kepentingan masing-masing orang, faksi, dan genk politik, genk politisi yang ada di NU.
Khittah secara tegas menyebutkan netralitas NU dalam politik. NU adalah ormas, bukan orpol. Basic ormas ini menjadikan lahan sosial, pendidikan-agama,,sebagai bidang garapannya.
Tetapi ketika”cengkeraman”politik terjadi, konsentrasi NU sebagai ormas, terpecah. Masing-masing faksi bergerak ke arah tiupan politik yang berbeda. Apakah ini bagian dari “fleksibilitas ” Khittah, yang bebas dimaknai, walau harus terlepas dari “Paradigma” aslinya?
Secara kasat mata, NU, atau faksi-faksi politik NU, bermain dalam politik pilpres, pilkada, pileg. Bahkan proses dukung mendukung membawa nama NU terus terjadi. Semua fakta ini tidak bisa dibantah. NU bermain di wilayah yang abu-abu. NU bersikap subhat dalam politik.
Oleh karena itu, saya sebagai kader NU pinggiran,,berharap, muktamar tahun 2026, meredefinisi, mereposisi mereformulasi, mereak-kontekstualisasi Khittah 1926.
Contoh, misalnya, jika ada kader NU yang jadi Capres-cawapres, Cagub-cawagub, Cabup-cawabup, sampai Cakades sekalian, maka NU secara kelembagaan, menjalankan fungsi politik mendukung secara total, dan menggerakkan seluruh elemen, kekuatan, banomnya, untuk memenangkan seluruh kader NU yang bertarung dalan kontestasi politik.
Sebaliknya, jika tidak ada kader-kader NU yang maju dalam kontestasi politik, maka NU kembali ke paradigma awal khittah, yaitu netral.
Itulah makna redefinisi, reformulasi, reposisi dan reak-kontekstualisasi khittah yang saya maksud.
Penulis: Toufik Imtikhani. Seorang warga NU pharia.