Ribuan Pelayat Padati Pemakaman KH Syukron Makmun di Jagakarsa, Wasiat Terakhir: Jangan Lama-lama, Cepat Kubur

Jakarta, NUCOM — Ribuan pelayat memadati kompleks Pondok Pesantren Daarul Rahman, Jagakarsa, Jakarta Selatan, untuk mengantarkan ulama kharismatik ‘Singa Podium’ Prof. Dr. KH. Syukron Makmun ke tempat peristirahatan terakhirnya, Ahad (18/10/2026).
Sejak pagi, arus pelayat dari kalangan habaib, kiai, santri, alumni Daarul Rahman dari berbagai angkatan, hingga masyarakat umum terus berdatangan. Shalat jenazah dilaksanakan di Masjid Daarul Rahman sebelum pemakaman dilakukan sekitar pukul 13.30 WIB, dilanjutkan dengan pembacaan tahlil dan doa bersama di area pemakaman pesantren.
Sebelum shalat janazah, suasana haru pecah saat putra almarhum, KH Muhammad Faiz Syukron Ma’mun (Gus Faiz) didampingi adiknya KH Ahmad Zaenal Ridlo Syukron Ma’mun (Gus Ridho), menyampaikan kisah detik-detik terakhir ayahandanya di depan jamaah.
Dengan suara bergetar, Gus Faiz menceritakan bahwa ayahnya telah sakit selama dua pekan karena gangguan jantung berat. Dokter menyebut kondisinya tidak memungkinkan untuk operasi pasang ring karena faktor usia.
“Ayah saya itu sakit sudah 2 minggu. Pikirannya itu ada 3. Yang pertama, tolong ke Habib Hasan temannya yang di Singapura. Yang kedua, ngomong berkali-kali ingin ke makam ayahnya di Madura. Yang ketiga, tadi subuh kepengen keluar batang (ziarah),” tutur Gus Faiz.
Menurutnya, dalam beberapa hari terakhir kondisi Abuya sempat terlihat membaik. Bahkan pada Sabtu malam, ia masih sempat ngobrol setelah Gus Faiz pulang mengaji dari Tangerang pukul 01.30 WIB.
“Tidurnya enak, beliau membuka mata, ngobrol sebentar, ada saya terus tidur,” kenangnya.
Namun Ahad subuh, kebiasaan Abuya yang selalu bangun jam 02.30 bersama sang istri untuk jamaah, terhenti. Beliau mengaku lemas.
“Tadi subuh sepanjang hidupnya itu ayah saya jamaah sama ibu. Tapi tadi bilang, agak lemas. Saya bilang sakit Bi? Enggak, tidur ajalah nanti sarapan. Habis salat subuh itu ngobrol kayak biasa,” ujar Gus Faiz.
Setelah sarapan, Abuya tiba-tiba sesak. Sang ibu berteriak. Gus Faiz yang sempat tertidur karena lelah, langsung membawa ayahnya ke rumah sakit sekitar pukul 08.00 WIB. Namun dokter menyatakan kondisinya sulit tertolong.
“Tatapan mata terakhir itu bilang, ‘Is, bawa saya dulu ke rumah sakit.’ Itu bagian dari ikhtiar. Takdir itu enggak ada yang tahu,” ucapnya.
Sekitar pukul 09.00 WIB, Abuya berpulang. Sempat direncanakan pemasangan ventilator, namun kondisi beliau tidak memungkinkan.
Gus Faiz mengungkapkan, di hari-hari terakhir ayahnya sering bertanya lirih, “Is, saya sesak napas ini apa sudah mau mati ya?”
Wasiat Akhir Almarhum Jangan Lama-lama, Cepat Kubur
“Nanti kalau saya mati, Is, jangan lama-lama, cepat kubur. Yang paling penting, teman-teman saya, kamu kan tahu siapa yang sering saya sebut, itu nanti tolong ada yang ngimami, ada yang mentalkinkan,” pesan KH Syukron Makmun yang ditirukan putranya.
Abuya juga telah mewasiatkan letak makamnya sendiri sejak lebih dari lima tahun lalu: di belakang pesantren, di bawah pohon kelapa yang beliau tanam sendiri.
“Beliau bilang, nanti kepala saya di sini. Dan itu saya wujudkan,” kata Gus Faiz.
Gus Faiz juga menyampaikan nazar terakhir ayahnya untuk “keluar batang” yang akan ia tunaikan pada malam harinya sebagai bentuk bakti, dengan membaca wirid yang biasa dibaca almarhum.
“Ayah saya pesan, kalau saya mati sekarang, biar santri-santri saya yang baca Quran agar menjadi saksi di hadapan Allah bahwa saya itu tidak pernah berpikir apa pun kecuali dakwah dan pesantren,” tutupnya.
Atas nama keluarga, Gus Faiz memohon maaf atas segala kehilafan almarhum dan memohon keikhlasan doa, serta meminta agar para santri dan alumni tetap tertib di masjid mengingat lokasi pemakaman yang sangat terbatas.
Prosesi shalat jenazah diimami oleh KH Mahfudz Asirun, sesuai permintaan almarhum. Tampak hadir sejumlah tokoh, di antaranya Habib Muhammad Hanif bin Abdurrahman Alatas, Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi Kuitang, dan Pimpinan Majelis Ta’lim Al-Munawwir Jakarta KH Munawir Aseli, beserta ribuan alim ulama dan habaib lainnya.
Setelah pemakaman, tahlil akan digelar pada malam harinya selama sepekan di Pondok Pesantren Daarul Rahman Jagakarsa.
Lahu Al Fatihah.
Baca juga: Innalillahi, Singa Podium, Pendiri dan Pengasuh PP Daarul Rahman Jakarta KH Syukron Makmun Wafat





