Innalillahi, Singa Podium, Pendiri dan Pengasuh PP Daarul Rahman Jakarta KH Syukron Makmun Wafat

JAKARTA, NUCOM — Kabar duka menyelimuti warga Nahdliyin. Ulama kharismatik asal Madura, yang masyhur dengan julukan Singa Podium, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman Jagakarsa Jakarta, Prof. Dr. KH. Syukron Makmun wafat pada Ahad, 18 Oktober 2026.

Kabar wafatnya Abuya Syukron Makmun Ayahanda dari KH Muhammad Faiz Syukron Makmun (Wakil Ketua Umum PBNU dan Ketua MUI DKI Jakarta) dikonfirmasi melalui unggahan resmi akun Instagram NU Online, @nuonline_id, pada Ahad jam 10 pagi.

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman Jakarta, KH Syukron Makmun, wafat pada Ahad, 18 Oktober 2026,” tulis NU Online.

Hingga berita ini ditulis, unggahan tersebut telah mendapat ribuan pemirsa dan ratusan komentar duka dari warganet, santri, dan alumni. Banyak yang menyebut beliau sebagai sosok ulama pemegang prinsip keislaman yang kuat dan guru bagi warga NU.

“Ya Allah, baru saja kemarin Tuan Guru Turmudzi, sekarang Indonesia kembali kehilangan sosok ulama pemegang prinsip keislaman yg kuat. Husnul khotimah Kyai Syukron. Lahul fatihah,” tulis kang iha seorang warganet di kolom komentar.

Jenazah disemayamkan di Pondok Pesantren Daarul Rahman Jakarta. Beralamat di Jl. Purwa Raya I, RT.6/RW.6, Kavling Komplek DKI, Cipedak, Kec. Jagakarsa, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12630.

Singa Podium dari Madura

KH Syukron Makmun lahir di Sampang, Madura, pada 21 Desember 1941. Putra dari KH. Ma’mun Nawawi dan Hj. Masturah ini dikenal luas dengan julukan “Singa Podium” karena gaya orasinya yang tegas, lugas, retoris dan penuh semangat.

Perjalanan pendidikannya ditempa di dua kutub pesantren: salaf di Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, dan modern di Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo, hingga meraih gelar Sarjana Muda di Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor angkatan pertama.

Dengan bekal itu, beliau mendirikan Pondok Pesantren Daarul Rahman pada era 1970-an di atas tanah wakaf seluas 7.800 m² di Jalan Senopati Dalam II, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, bersama para sahabat seperti KH Antung Ghozali, KH Masyhuri Baidlowi, dan KH Abdul Kadir Rahman.

Kini pesantren tersebut telah berkembang menjadi tiga cabang: Daarul Rahman 1 Jakarta, Daarul Rahman 2 Bogor, dan Daarul Rahman 3 Depok, dan telah mendapatkan pengakuan Mu’adalah dari Kementerian Agama.

Selain sebagai pendidik, Abuya juga pernah aktif di jalur organisasi dan politik. Beliau tercatat pernah menjadi Ketua Cabang IPNU, Ketua LDNU, Wakil Ketua Rabithah Ma’ahid, salah satu pendiri dan Ketua Umum Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia, serta Dewan Penasihat PPP.

Puncak milad ke-50 Ponpes Daarul Rahman pada 25 Oktober 2025 lalu yang dihadiri 20 ribu alumni di Sentul menjadi saksi betapa besar cinta alumni kepada beliau.

Semoga segala ilmu yang telah diajarkan dan kebaikan yang ditanamkan menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa almarhum, menerima seluruh amal ibadahnya, melapangkan kuburnya, serta menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya.

Lahu Al Fatihah.

Baca juga: Gus Mus di Haul ke-38 KH Ali Maksum Krapyak: Semua Santri Merasa Paling Disayang, Itulah Hebatnya KH Ali Maksum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button