Gus Mus di Haul ke-38 KH Ali Maksum Krapyak: Semua Santri Merasa Paling Disayang, Itulah Hebatnya KH Ali Maksum

YOGYAKARTA, NUCOM — Suasana haru dan tawa bercampur dalam Mauidloh Hasanah KH Musthofa Bisri (Gus Mus) pada peringatan Khotmil Qur’an dan Haul ke-38 KH Ali Maksum di Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta, Jumat (16/10/2026) malam. Semua Santri Merasa Paling Disayang, Itulah Hebatnya KH Ali Maksum
Khataman Qur’an dan Haul “Pak Ali”
Pengasuh Ponpes Leteh, Rembang itu mengawali dengan makna menggabungkan khataman Qur’an dan haul Kiai. Menurutnya, itu sangat pas.
“Kok khotaman Qur’an dibarengno karo haul Kiai. Niki pancen wis pas. Mergo Kiai niku asumsinya adalah sing gowo Qur’an, sing nyebar Qur’an teng masyarakat. Mboten namung secara lisan tapi secara laku,” ujar Gus Mus.
Gus Mus lalu mengisahkan keunikan sosok KH Ali Maksum yang tidak pernah dipanggil “Kiai Ali” oleh santrinya, melainkan “Pak Ali”.
“Kiai Ali Maksum meniko meh mboten wonten santri sing ngaturi beliau Kiai Ali. Sedoyo ngaturi Pak Ali. Sing cilik-cilik, sing gedhe-gedhe ngaturi Pak Ali. Nek ono sing ngaturi Kiai Ali mesti dudu santri Krapyak,” kenangnya.
Bagi Gus Mus, panggilan Pak Ali itu menunjukkan bahwa KH Ali Maksum bukan hanya pengasuh pondok, tapi pendidik sejati, bapak bagi santri-santrinya.
“Pak Ali mboten namung Kiai, pengasuh pondok pesantren tapi sing utama beliau itu pendidik. Bapak tumraping santri. Niki sing arang-arang. Kiai sing nganggap santrine anake dewe,” tuturnya.
Semua Santri Merasa Paling Disayang
Kehebatan Pak Ali, lanjut Gus Mus, adalah membuat semua santri merasa paling disayang.
“Santri Krapyak iku kabeh do GR kabeh. Rumangsa dikasihi karo Pak Ali. Padahal ya kabeh santrine dikasihi. Tapi nek kono, aku iki sing paling disenengi Pak Ali,” ujar Gus Mus disambut tawa jamaah.
Gus Mus kemudian bercerita pengalaman pribadi yang membentuk karakternya. Suatu pagi setelah ngaji kitab Irsyadul Ibad bakda Subuh, ia dipanggil Pak Ali dan ditakzir menyapu serambi dan halaman masjid.
“Eh iki saponi kabeh iki. Serambi masjid, halaman. Wah iki takzir iki,” kenang Gus Mus.
Alasannya membuat kaget: “Salahe kakangmu ora ngaji.”
“Sing ora ngaji kakak saya, Kiai Khalil Bisri, kok saya sing ditakzir, piye?” ceritanya.
Baru setelah dewasa ia paham maknanya yang luar biasa.
“Pak Ali mengajarkan, ora keno kowe iku ngalim dhewe. Podo karo kowe ojo wareg dhewe, tanggamu kelaparan kowe masuk neraka jahanam. Kowe ngalim, kiwo tengene goblok kabeh mergo kowe gak gelem bagi-bagi ngilmu. Tidak boleh puas alim sendirian,” tegas Gus Mus.
Ingat Nama Santri Satu per Satu
Gus Mus juga menyebut keistimewaan Pak Ali yang hafal nama santrinya satu per satu.
“Pak Ali niku karo santrine ora ana sing lali, sak jenenge. Sekali menyebut namanya, Pak Ali eling terus,” ujarnya.
Bahkan jika mengundang santri, undangan ditulis tangan dengan tambahan catatan khas: “Waladi Musthofa, kudu teko” dengan tanda seru.
Baca juga : Puji-pujian Kuno Eling-eling Siro Manungso Karya KH Ali Maksum
Ijazah Pakai Tanda Tangan Saja
Kisah paling mengundang gelak tawa adalah saat Gus Mus hendak berangkat ke Mesir. Ia tidak punya ijazah karena ijazah SR (Sekolah Rakyat) hilang, sekolahnya pun berpindah-pindah: dari SR (Sekolah Rakyat), ke Ibtidaiyah Lirboyo, hingga akhirnya dititipkan ayahnya, KH Bisri Mustofa, ke Krapyak.
“Waktu mau ke Mesir harus bawa ijazah. Saya bingung. Moro teng gene Pak Ali,” kata Gus Mus.
Awalnya Pak Ali mengerjainya, disuruh minta ke kepala sekolah, Gus Zainal (almagfurlah KH Zainal Abidin Munawwir-red)
“Bocah sing wis lulus Aliyah wae nek durung pengabdian minimal setahun ora tak wenehi ijazah. Lah kowe namung kelas siji Tsanawiyah njaluk ijazah,” kata Gus Zainal menolak.
Kembali ke Pak Ali, Pak Ali justru tertawa dan langsung membuatkan ijazah dengan kertas folio kosong.
“Aku pengasuh pondok pesantren. Pangkatku luwih dhuwur. Wis tak gawekno,” kata Pak Ali menirukan.
Isinya hanya kesaksian bahwa santri tersebut punya semangat menuntut ilmu yang besar, lalu tanda tangan.
“Ojo mbok salah gunakan yo,” pesan Pak Ali sambil memberi banyak kertas kosong bertanda tangan.
Ajaibnya, berkas itu diterima di Al-Azhar, Mesir, tanpa ujian. Bahkan temannya yang ijazahnya lengkap justru kebingungan bagaimana Gus Mus bisa lolos.
Menangis Karena Didukani Kiai Ali
Gus Mus juga menceritakan momen langkanya. Gus Mus ditugasi para sesepuh NU untuk membujuk Pak Ali. Namun Pak Ali justru murka.
“Kowe gak ngakoni aku kiaimu. Kowe lapo melok-melok?” kata Pak Ali marah besar.
Pak Ali memarahinya, hingga dirinya menangis, dan saat itu Pak Ali menolak jabatan Rais Aam PBNU.
Padahal, kata Gus Mus, saat itu Kiai As’ad Samsul Arifin dan Kiai Machfudz Siddiq pun menolak jabatan itu dengan dalih didatangi Malaikat Jibril dan Izrail. Karena Pak Ali tidak hadir, Maka para kiai Sepuh sowan ke Krapyak, mau tidak mau KH Ali Maksum harus mangku jabatan Rais Amm.
“Pak Ali niku wis masyaallah. Kulo dereng nate selawase mondok, ora tau didukani. Niki kok didukani koyo ngono. Dipqringi Jabatan kok emoh, kok ngamuk,” kenang Gus Mus.
Gus Mus menyindir kondisi sekarang yang terbalik.
“Saiki wong golek jabatan. Pak Ali kok gak menangis sampeyan saiki. Menangi ngguyu ngekek-ngekek Pak Ali. Molek jabatan ya. Dulu dikasih jabatan kok dadak meksa barang.”
Ilmu Diangkat dengan Wafatnya Ulama
Di akhir mauidloh, Gus Mus mengingatkan hadis tentang dicabutnya ilmu.
“Innallaha la yantazi’ul ilma intiza’an min suduril ulama, wa innama yantazi’uhu bi qabdil ulama. Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabut dari dada ulama, tapi dengan mewafatkan ulama,” tuturnya.
“Kiai Hasyim Asy’ari sak ilmu hadise, Mbah Munawwir sak ilmu Qur’ane, Kiai Ali sak ilmu lughote, dicabut. Hatta idza lam yabqo alimun, ittakhadzan nasu ru’usan juhala, fa su’ilu fa aftau bi ghairi ilmin, fadallu wa adallu.”
Jika sudah tidak ada orang alim, manusia akan mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin, lalu mereka berfatwa tanpa ilmu, sesat dan menyesatkan.
Karena itu, Gus Mus berpesan agar para santri tidak cepat puas.
“Tambah pinter tambah bodho. Tambah pinter tambah ngroso bodho. Nek ana wong kok ngroso pinter, ya iku bodhone nemen. Mulane tholabul ilmi minal mahdi ilal lahdi. Cita-cita kok ketum PBNU, cita-cita kok ecek-ecek,” selorohnya.
Gus Mus pun memuji orang tua yang menggerakkan hatinya untuk memondokkan anak.
“Jenengan diusik-no manahe karo Gusti Allah, mondokno anake. Ora mesti wong sedio mondokno anake, nek gak diusikno karo Gusti Allah.” Ungkapnya.
Acara ditutup dengan doa bersama, dipimpin oleh KH Indris Hamid dari Pasuruan, dengan memohon berkah Mbah Munawwir dan Mbah Ali Maksum agar para santri dan alumni menjadi insan sholeh dan mendapat rahmat Allah.***(IHA)
Baca juga: Terjemah Kitab Hujjah Ahlussunnah Wal Jamaah KH Ali Maksum





