Pititur Dhuwur Para Leluhur dan Refleksi Nyata Hidup Zaman Ini
Oleh: Toufik Imtikhani

NU CILACAP ONLINE – Leluhur kita, telah meninggalkan ajaran dan ujaran luhur. Itu bukan suatu kebetulan, melainkan suatu sedimentasi dari berpikir falsafati, serta bukan tidak mungkin, hal itu lahir pula dari konfigurasi keimanan dan keagamaan yang mendalam secara inhern dan esoteris. Tak selalu dikemas dengan dalil, agar seolah nampak suci, yang terkadang menimbulkan antipati dari sasaran dakwah, yang notabene beragam.
Dalam situasi kehidupan yang absurd ini, dan kadang bersifat amorf, perlu kiranya kita melakukan review dan reaktuisasi kembali terhadap ajaran dan ujaran para leluhur.
Sangkan Paraning Dumadi
Sangkan paraning dumadi, dapat diterjemahkan secara gamblang, sebagai darimana dan kemana kita hidup. Dari ajaran yang penuh makna mendalam ini, kita menjadi tahu, betapa sangat religiusnya para keluhur kita tempo dulu.
Pada waktu kita kecil, di surau, diajarkan suatu sair puji-pujian seperti ini:
Laa ilaaha illalloh3x
Muhammadurrosuululloh
Aku biyen ora ono saiki dadi ono
Mbesuk maneh ora ono
Podho bali maring rohmatulloh
Mulane wong uripe
Kariyo ndonga kariyo ndonga
Ben supoyo ben supoyo
Matine sak uwiseng taubat.
Pengertian sangkan paraning dumadi, kemudian diperlebar maknanya dalam kehidupan sosial. Mendapat kelengkapan kata purwoduksino, yang maknanya awal mula atau asal mula. Baca juga Tradisi Sedekah Gunung
Orang yang lupa pada makna dua kata ini, disebut orang yang lupa daratan, lupa asal usul, bisa sebab “kere munggah balai”. Yaitu orang miskin yang tiba-tiba menjadi kaya, atau naik derajad jadi pejabat, siniwaka, sepert Petruk dadi Ratu.
Adigang adigung adiguna
Orang yang kemudian mempunyai kedudukan, kekayaan dan kekuatan, berpotensi bersikap sombong, angkuh, takabur. Baik memang asalnya dari keluarga brewu, kaya dan terhormat, ndugal keturutan, atau dari kere munggah bale, Petruk dadi ratu. Semuanya menggambarkan, lali purwoduksino sangkan paraning dumadi, baik secara sosial atau spiritual.
Aja kagetan, aja gumunan, aja dumeh
Istilah ini sering disampaikan mendian Pak Harto. Pemimpin Orba. Pemimpin yang penuh wibawa siniwaka. Sugih bandha bandhu mbaudenda. Pemimpin yang pernah membawa Indonesia pada keemasan. Pemimpin yang sangat menguasai falsafah jawa.
Orang yang mudah lupa daratan, biasanya disebabkan oleh cultural shock. Dirinya terkejut, dan heran bisa berada posisi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya,. Tiba-tiba jadi kaya, tiba-tiba jadi pejabat. Jalmo tan keno kiniro. Kekucah berupa kekayaan dan kedudukan ini dapat menyebabkan orang menjadi dumeh. Mentang-mentang, sewenang-wenang. Sopo siro sopo ingsun. Siapa aku siapa kamu. Ia mulai menciptakan jarak feodalisme kepada orang lain, apalagi yang mempunyai kedudukan yang lebih rendah. Ini berpotensi mendikte dan mengatur. Bahkan menjajah, memperbudak orang lain.
Surodiro jayaningrat lebur dening pangastuti
Suradira jayaningrat lebur dening pangastuti adalah ajaran untuk mengingatkan bahwa penyalahgunaan kekuatan, kekuasaan, kekayaan dengan melakukan kesewenang-wenangan, dapat hancur oleh kebenaran. Ini sesuai dengan bunyi ayat,
وَقُلْ جَاۤءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۖ اِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا
Oleh karena itu, para pemimpin tidak boleh bersikap sewenang wenang. Sebab mereka menjadi pemimpin karena mendapat mandat dari rakyat. Rakyat adalah pemilik kebebaran, karena suara rakyat adalah suara Tuhan. Vox populi vox dei. Jika rakyat sudah bergerak, maka siapapun pemimpin, walau kuat dan sakti, pasti akan runtuh.
Urip kadya cakra manggilingan
Politik dapatlah disebut sebagai tajalli kehidupan itu sendiri. Politik adalah permainan. Penuh dengan sandiwara, tipu daya. Gusti Allah menyebut kehidupan sebagai la’ibun wa lahwun.
Datang dan pergi dalam politik bisa begitu cepat, demikian juga naik atau turun. Pergantian kekuasaan dan jabatan begitu mudah. Dengan politik, derajat seseorang, atau kelompok, mudah sekali diangkat, tetapi juga mudah untuk jatuh.
Itulah makna kehidupan yang sebebarnya. Hidup bagaikan roda berputar. Yang dulu kaya, menjabat, berkuasa, dapat tiba-tiba menjadi rakyat jelata, miskin dan hina. Sementara orang yang dahulu miskin, hina,, dapat berubah menjagi mulia. Hidup bagaikan cakra manggilingan. Gusti Allah menyebutnya:
وَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ
Oleh karena itu, bagi yang sedang berada di atas, tidak boleh memandang rendah yang di bawah, dengan bersikap adigang adigung adiguna. Sebab jalmo tan keno kiniro, manusia tidak ada yang bisa memperkirakan nasibnya. Orang miskin, bisa jadi berubah menjadi kaya atau sebaliknya.
Urip sawang sinawang
Setiap orang bergulat dengan masalahnya sendiri. Setiap orang mendapatkan ujian hidup masing-masing. Setiap individu sedang melakoni drama dan sandiwaranya. Bahkan dengan seluruh masalah dan kepalsuan.
Ada yang nampak kaya serta bahagia di mata orang lain. Seluruh kebutuhan hidupnya terpenuhi. Keadaan ini membuat iri orang yang memandang. Padahal yang sebenarnya tidak demikian. Otaknya terus berputar. Hutang terus menumpuk, dan usaha terancam bangkrut. Orang-orang akan sadar, jika kemudian di rumah mewahnya tertulis plang, disita oleh bank. Mobil-mobilnya tak tampak lagi lalu lalang. Pemilik rumah dan keluarganya hilang bagai di telan bumi.
Sebaliknya ada keluarga yang sederhana. Orang-orang pun melihat sebelah mata. Tapi yang di dalam penuh canda tawa. Dan secara tiba-tiba tanpa diduga, jalmo tan keno kiniro, anak-anak mereka sukses semua dalam pendidikan dan sosial.
Gajah ngidak rapah
Gajah ngidak rapah. Gajah adalah lambang orang besar, berkuasa, para pemimpin. Ngidak, artinya menginjak. Rapah adalah hukum, aturan. Gajah ngidak rapah mempunyai arti, pemimpin yang menginjak aturan yang dibuatnya sendiri.
Dalam negara demokrasi modern, aturan dibuat secara kolektif oleh pemerintah dan DPR. Landasan idiil kita Pancasila, dan landasan konstitusinya adalah UUD 1945.
Pemerintah dan DPR membuat Undang-undang, konstitusi atau peraturan hukum turunan, tidak boleh bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.
Aturan dibuat, untuk mengatur kehidupan bernegara. Semua elemen negara, pemerintah dan rakyat harus tunduk kepada aturan.
Orang-orang kuat, yang merasa surodirojayaningrat, bertindak adigang adigung adiguno, dan dumeh, berpotensi melanggar hukum, mengatur dan mengarahkan para penegak hukum. Dia merasa di atas hukum. Hukum, konstitusi ditabrak karena menghambat keinginannya. Padahal aturan itu adalah aturan yang dirinya ikut membuat. Namun ketika nafsu kekuasaan menggodanya, aturan hukum dan konstitusi ditabrak, diinjak. Inilah istilah gajah ngidak rapah.
Asu gedhe menang keraeh
Demokrasi tidak selamanya ideal. Demokrasi kadang membuka ruang lebar bagi kemenangan yang besar dan kuat. Atau istilahnya, single mayority.
Politik adalah cermin atau wujud sebenarnya dari kehidupan. Dalam politik yang penuh aturan, regulasi, etika saja, yang menang yang kuat, atau asu gedhe menang keraeh, apalagi dalam relasi sosial yang banyak diatur dengan nilai2 adat, konvensi, yang dari segi law enforcement, itu sangat lemah. Mendekati hukum rimba. Sehingga konflik-konflik sosial dan personal, akan dimenangkan oleh mereka yang kuat.
Kutuk ngemong babon
Rakyat yang lemah, tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka menyaksikan berbagai akrobat para penggede. Rakyat adalah silent mayority. Bukan karena mereka setuju dengan tingkah para elit, program-program yang anomalis, kontroversi dan tidak produktif. Juga bukan karena mereka setuju dengan berbagai manipulasi kebijakan dan program. Bukan.
Tapi rakyat diam untuk menonton, sejauhmanakah para penggede itu berfoya-foya, dengan berbagai program-program pembangunan. Rakyat sedang diam, untuk ngemong, mengasuh para pemimpinnya. Inilah makna kutuk ngemong babon. Orang kecil, mengasuh orang besar. Membuat mereka gembira Membiarkan orang besar suka-suka dia. Sebab kalau dikritik, diingatkan akan ngambek dan marah.
Dan kemarahan itu akan berdampak kepada rakyat. Menggunakan senjata kekuatan politik, massa, dan hukum yang diinjak-injaknya sendiri. *
Cilacap, 15 Oktober 2026
*) penulis warga NU pinggiran.





