PBNU Luncukan Logo, Tema dan Pedoman HSN 2026, Instruksikan Mujahadah untuk Palestina

JAKARTA, NUCOM — Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi meluncurkan logo, tema serta pedoman Hari Santri Nasional 2026 dengan pesan yang kuat yakni “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri”, PBNU juga Instruksikan Mujahadah untuk Palestina.
Tema Tak Sekedar Slogan
Tema tersebut diluncurkan bersamaan dengan pengumuman struktur baru susunan PBNU Masa Khidmah 2026-2031 di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya No.164, Senen, Jakarta, Rabu (30/9/2026) malam.
“Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, tiga, dua, satu, dengan ini logo dan tema Hari Santri 2026 secara resmi telah diluncurkan,” ucap Ketua PBNU, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) saat peluncuran diiringi hitung mundur hadirin.
Tema ini bukan sekadar slogan. Dia adalah pengingat bahwa kokohnya tradisi keilmuan pesantren dan nilai luhur para muassis adalah fondasi utama merawat persatuan.
“Tema ini adalah pengingat bagi kita semua bahwa kokohnya tradisi keilmuan pesantren dan nilai-nilai luhur para muassis NU adalah fondasi utama dalam merawat persatuan dan menjaga kebinekaan,” tegasnya.
Hari Santri Tak Berhenti Seremoni
Tak berhenti di seremoni, PBNU langsung menerbitkan Pedoman Pelaksanaan Hari Santri Nasional 2026 melalui Surat Edaran Nomor 3/PB.01/A.II.10.47/99/10/2026 tertanggal 1 Oktober 2026 yang ditujukan kepada Pengurus NU semua Tingkatan: PWNU, PCNU, hingga PCINU di seluruh dunia.
Baca juga: Pengurus PBNU 2026-2031 Siapa Saja?
Pedoman HSN 2026: Apel Serentak, Ziarah, dan Khidmah Nyata
Dalam pedoman yang ditandatangani Rais Aam KH Miftachul Akhyar, Katib Aam Prof. Dr. KH Mohammad Nuh, Ketum KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), dan Sekjen H. Gudfan Arif, PBNU meminta Hari Santri dilaksanakan dengan prinsip kekhidmatan, kesederhanaan, dan berorientasi pelayanan.
Tiga agenda utama digariskan:
- Apel Hari Santri Serentak, 22 Oktober 2026.
Dilaksanakan Kamis pagi secara serentak di halaman sekretariat NU, pesantren, RS/klinik, sekolah, madrasah, dan perguruan tinggi NU. Peserta pria mengenakan sarung gelap, atasan putih, peci hitam. Peserta perempuan busana muslimah putih. Dalam apel, Naskah Resolusi Jihad akan dibacakan. - Ziarah Muassis dan Muallim.
Rangkaian diawali ziarah ke makam ulama, aulia, dan muharrik NU di wilayah masing-masing sebagai ikhtiar menjaga kesinambungan tradisi - Khidmah Sosial.
PBNU meminta Hari Santri diisi kegiatan yang manfaatnya dirasakan langsung: layanan kesehatan gratis, donor darah, konsultasi keluarga dan zakat, peduli lingkungan seperti sanitasi pesantren dan bersih masjid, serta halaqah keulamaan.
Baca juga: Kemenag Luncurkan Logo dan Tema Hari Santri 2026: Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas

Mujahadah Kemanusiaan untuk Palestina
Yang paling istimewa tahun ini, Hari Santri 2026 dikaitkan langsung dengan solidaritas global untuk Palestina.
PBNU menginstruksikan seluruh tingkatan — PWNU, PCNU, MWCNU, hingga PRNU — menggelar Malam Mujahadah Kemanusiaan untuk Palestina melalui istighotsah, shalawat, zikir berjamaah, dan majelis doa.
Ketua Umum PBNU Gus Kikin menegaskan, perhatian ini berakar sejarah panjang.
“Ini perjalanan dan hubungan yang sangat panjang antara Indonesia dengan Palestina,” kata Gus Kikin, Sabtu (3/10/2026).
Dia mengingatkan dukungan untuk Palestina telah disuarakan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari sejak 1938, sebelum Indonesia merdeka, dan dirawat hingga kini lewat Qunut Nazilah di Tebuireng.
Komitmen itu juga ditegaskan Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar saat menerima tokoh-tokoh Palestina — Penasihat Presiden Palestina Mahmoud S.A. Al-Habash, Imam Besar Masjid Al-Aqsa Sheikh Mohammad A.M. Hussein, dan Dubes Palestina Abdulfattah A.K. Al-Satar — di Ponpes Miftachussunnah Surabaya, Ahad (27/9/2026).
“Selamat datang di rumah Anda sendiri dan di tengah saudara-saudara Anda,” sambut Kiai Miftach.
Dia mendoakan keselamatan rakyat Palestina dan berharap terbukanya jalan bagi umat Islam beribadah di Masjid Al-Aqsa dalam keadaan merdeka dan bermartabat.
Dengan pedoman PBNU ini, Hari Santri 2026 diarahkan tidak sekadar seremoni. Ia adalah pertemuan kembali antara akar tradisi pesantren dan khidmah nyata: menjaga Indonesia tetap utuh, dan menjaga kemanusiaan tetap hidup.***(IHA)
Baca juga: Muhadharah Ammah Tebuireng: Teguhkan Solidaritas NU-Palestina





