Menag Nasaruddin Umar: MTQ Bukan Sekadar Kompetisi, Tapi Jembatan Silaturahmi dan Persaudaraan

SEMARANG, NUCOM — Di tengah gemuruh pembukaan MTQ Nasional XXXI di Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang, Sabtu malam (12/9/2026), Menteri Agama Nasaruddin Umar menitipkan pesan yang melampaui soal siapa juara. MTQ Bukan Sekadar Kompetisi, Tapi Jembatan Silaturahmi dan Persaudaraan.

Puluhan ribu manusia tumpah ruah, memadati setiap jengkal tanah, menjadi saksi kembalinya perhelatan agung ini ke Pulau Jawa setelah 47 tahun penantian. Ajang ini akan berlangsung hingga 20 September 2026.

Kendati, Presiden RI Prabowo Subianto berhalangan hadir. Namun tetap tongkat amanah itu diwakili Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Prof. Pratikno, selain itu juga dihadiri oleh Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi, Wamenag Romo Muhammad Syafi’i, para gubernur, wakil gubernur, dan Kakanwil Kemenag se-Indonesia.

Ketua Umum LPTQ Nasional, Abu Rokhmad melaporkan ada 8 cabang, 24 golongan, 48 kategori diperlombakan. Tersebar di 12 titik venue dan 13 titik operasional di Kota Semarang, dikawal oleh 155 dewan hakim profesional.

Menag Nasarudin Umar menegaskan, hakikat MTQ jauh lebih besar dari sekadar lomba tilawah.

“Kafilah dari berbagai penjuru Nusantara datang dengan bahasa, budaya, dan tradisi beragam. Mereka bertemu bukan hanya untuk berkompetisi, tetapi juga untuk membangun persahabatan dan memperkuat persaudaraan,” ujar Menag.

Menurutnya, inilah makna sosial dan kebangsaan dari MTQ. Dari Aceh hingga Papua, para qari-qariah dan hafidz-hafidzah datang dengan logat dan tradisi yang berbeda. Namun di Semarang, mereka disatukan dalam satu bahasa: bahasa Al-Qur’an.

MTQ, kata Menag, adalah ruang temu Indonesia. Tempat di mana kompetisi dirawat, tapi silaturahmi diutamakan. Di sanalah persaudaraan kebangsaan dirajut kembali.

Pesan persaudaraan itu diperkuat dengan kehadiran cabang ekshibisi bagi penyandang disabilitas sensorik tuli dan pemanfaatan Mushaf Al-Qur’an Isyarat pada MTQ XXXI kali ini.

“Ini menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi semua, tidak boleh ada seseorang pun yang kehilangan kesempatan mempelajari Al-Qur’an karena kondisi fisik, sosial ekonomi, ataupun geografis,” tuturnya.

Malam itu juga, Menag Nasaruddin Umar mengumumkan kebijakan bersejarah bahwa MTQ Nasional kini resmi menjadi agenda tahunan, dan Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) ditiadakan.

Dari Simpang Lima Semarang, Menag ingin memastikan MTQ adalah tentang merayakan perbedaan, untuk menguatkan persaudaraan.***(IHA)

Baca juga: Presiden Prabowo akan Buka MTQ Nasional Ke-31 di Semarang, Gema Al-Qur’an Gaungkan Kota Atlas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button