Inilah Generasi Pahlawan dari Rahim Pesantren; Kakek, Anak dan Cucu

NU Cilacap Online — Baru-baru ini Presiden keempat KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) menerima anugerah gelar pahlawan nasional, dua sebelumnya adalah kakek dan ayah Gus Dur, yakni Hadratusyaikh KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahid Hasyim. Inilah generasi pahlawan yang lahir dari rahim pesantren, Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.

Penetapan Pahlawan, Keputusan Presiden

Presiden Republik Indonesia keempat, KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur resmi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada Senin, 10 November 2025, bertepatan dengan Hari Pahlawan Nasional.

Penetapan Gus Dur sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 116/Tanda Kehormatan/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.

Dengan pengakuan ini, Gus Dur menjadi sosok ketiga generasi pahlawan dalam keluarga besar Pondok Pesantren Tebuireng Jombang yang menerima gelar pahlawan nasional.

Dua pahlawan nasional sebelumnya adalah kakek dan ayah Gus Dur, yakni KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahid Hasyim.

Keunikan dari ketiga pahlawan ini adalah mereka berasal dari satu trah garis keturunan, yaitu kakek, anak, dan cucu.

Simbol Makam Pahlawan

Pada makam KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahid Hasyim, terdapat hiasan bambu runcing yang ujungnya berhias bendera merah putih, simbol kepahlawanan, kemerdekaan dan semangat perjuangan cinta tanah air.

Kehadiran mereka dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia begitu signifikan.

Kakek, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari

Adalah Kakek Gus Dur, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari sang ulama besar, sosok patriot yang menyatukan jihad agama dengan jihad kebangsaan.

Pada masa pendudukan Hindia Belanda, beliau mendirikan Pesantren Tebuireng (1899), mendirikan perkumpulan Nahdlatul Ulama (NU) bersama KH Wahab Chasbullah dan KH Bisri Syansuri, Pada tahun 1926

Selama masa pendudukan Jepang, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari dijebloskan ke penjara karena menolak mengikuti upacara seikerei yang oleh Jepang sebagai upacara kebangsaan mereka.

Namun, semangat perjuangannya tetap membara, dan pada 22 Oktober 1945, beliau mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad yang mewajibkan setiap umat Islam untuk berjuang melawan penjajah, mempertahankan kemerdekaan.

Fatwa Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 itu menjadi pemicu, dasar perjuangan daripada pertempuran besar di Surabaya pada 10 November 1945.

Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari mewariskan semangat gurunya, Syaikhona Kholil Bangkalan yang juga Pahlawan Nasional, bahwa Cinta Tanah Air adalah bagian dari Iman (Hubbul Wathan Minal Iman).

Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada 17 November 1964 berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 294 Tahun 1964.

Anak, KH Abdul Wahid Hasyim

Adalah Ayah Gus Dur, beliau sang Perumus dan Menteri Agama Pertama.

Putra Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahid Hasyim ini ditetapkan Pahlawan Nasional 1964, merupakan arsitek konstitusi.

Lahir di Tebuireng pada 1 Juni 1914. Sebagai tokoh terkemuka di kalangan NU, beliau juga memiliki kontribusi besar terhadap kemerdekaan Indonesia.

Sebagai anggota termuda dalam BPUPKI dan PPKI, beliau mengambil langkah strategis dengan menyetujui penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta demi terwujudnya Pancasila dan persatuan bangsa.

BPUPKI dan PPKI, keduanya memainkan peran penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

BPUPKI adalah Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, dibentuk pada 1 Maret 1945 untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.

Sementara PPKI adalah Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang dibentuk pada pada 7 Agustus 1945, merupakan badan yang bertugas untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia dan memilih presiden pertama.

Selanjutnya KH Abdul Wahid Hasyim menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia yang pertama.

KH Abdul Wahid Hasyim adalah simbol kecerdasan politik pesantren dan pengorbanan untuk keutuhan NKRI.

KH Abdul Wahid Hasyim terlibat aktif dalam perjuangan politik dan sosial di Indonesia pada masa awal kemerdekaan.

KH Abdul Wahid Hasyim wafat pada 19 April 1953 akibat kecelakaan saat hendak menghadiri rapat NU di Sumedang, Jawa Barat.

Begitu besar jasanya bagi Kemerdekaan Indonesia dan pembangunan bangsa maka Presiden RI Ir. Soekarno pada 24 Agustus 1964, KH Abdul Wahid Hasyim resmi dinobatkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui Keppres No. 206 tahun 1964 atas jasa-jasanya dalam kemerdekaan Indonesia dan pembangunan bangsa.

Cucu, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Gus Dur adalah tokoh terkenal dengan berjuluk sang bapak Pluralis Indonesia dan Bapak Demokrasi bahkan Ulama linuwih, wali Gus Dur.

Gus Dur, cucu dari KH Hasyim Asyari, adalah sosok yang dikenal luas di Indonesia, baik sebagai Presiden ke-4 RI maupun sebagai tokoh penting dalam Nahdlatul Ulama (NU).

Setelah terpilih sebagai presiden pada 1999 melalui mekanisme pemilihan MPR, Gus Dur memimpin Indonesia dengan pendekatan demokratis yang inklusif dan berbasis pada pluralisme.

Selama masa kepemimpinannya, Gus Dur banyak memprakarsai kebijakan yang memperjuangkan hak asasi manusia, kebebasan beragama, dan demokrasi.

Meskipun masa jabatannya relatif singkat, Gus Dur tetap dikenang sebagai pemimpin yang progresif dan visioner. Selain sebagai Presiden, beliau juga menjabat sebagai Ketua Umum PBNU dan aktif dalam gerakan sosial lainnya.

Dengan penetapan sebagai Pahlawan Nasional, Gus Dur kini dikenang atas dedikasinya dalam memperjuangkan kemerdekaan, perdamaian, dan demokrasi di Indonesia.

Inilah Generasi Pahlawan dari Rahim Pesantren; Kakek, anak, dan cucu yang menjadi Pahlawan Nasional dari Pesantren Tebuireng, Jombang, menunjukkan bahwa perjuangan dan pengabdian tidak mengenal usia atau generasi. Mereka semua telah memberikan kontribusi besar bagi bangsa dan negara Indonesia.

Hadratusyaik KH Muhammad Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahid Hasyim, dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) merupakan contoh kesantunan, keteladanan dalam berjuang untuk bangsa dan negara.

Mereka adalah contoh nyata bahwa keluarga dapat menjadi sumber inspirasi dan kekuatan dalam berjuang untuk kebaikan, dan kemajuan bangsa. (IHA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button