Arus Digitalisasi Picu Kegamangan Intelektual Pendidik Muslim

NU CILACAP ONLINE – Arus digitalisasi global dinilai telah memicu kegamangan intelektual (intellectual insecurity) di kalangan ulama dan pendidik Muslim. Fenomena ini disoroti oleh pemateri asal Gambia, Muhammed Ndow, dalam seminar internasional yang digelar atas inisiasi PC ISNU Cilacap.

Seminar internasional ini digelar bersamaan dengan pelantikan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Cilacap di Gedung Sumekar, Senin (9/2/2026).

Mengangkat tema ‘The Crisis of Scientific Tradition in the Digital Era: Repositioning Muslim Teachers and Scholars”, seminar dihadiri berbagai kalangan akademisi di lingkungan Nahdlatul Ulama Cilacap.

Dalam pemaparannya, Ndow menjelaskan bahwa derasnya arus informasi digital telah melemahkan kepercayaan terhadap otoritas ulama dan guru lokal. Baca juga Bupati Cilacap Imbau Santri Jihad Intelektual 

Media sosial dan platform digital kini menjadi rujukan utama generasi muda dalam mencari pengetahuan keagamaan, bahkan sering kali menggeser peran majelis taklim dan madrasah tradisional.

“Siapa pun kini dapat berbicara dan mengajar di ruang digital. Otoritas keilmuan tidak lagi ditentukan oleh kepercayaan komunitas, tetapi oleh popularitas,” tegas Ndow.

Muhammed Ndow merupakan lulusan Sarjana Studi Islam dari University of The Gambia dan memiliki pengalaman sebagai pendidik di lembaga pendidikan Islam di negaranya. Baca juga Intelektual-Organisastoris, Titik Singgung Organisasi

Saat ini, dia engah menempuh studi magister di bidang Manajemen Pendidikan Islam, yang memperkaya perspektif globalnya dalam membahas krisis otoritas keilmuan Muslim.

Ndow menuturkan, tradisi pendidikan Islam di Gambia selama ini bertumpu pada penguatan moral melalui majelis taklim dan madrasah. Namun, pergeseran ruang belajar ke dunia digital membuat generasi muda lebih mempercayai sumber keagamaan daring dibandingkan guru dan ulama setempat.

Ndow menegaskan, kondisi tersebut menuntut reposisi peran pendidik Muslim. Guru, dosen, dan ulama tidak lagi cukup berperan sebagai penyampai ilmu, melainkan juga sebagai pembimbing intelektual dan moral yang memiliki literasi digital dan epistemik.

“Pendidik harus hadir di ruang digital dengan konten keislaman yang moderat, argumentatif, dan berbasis keilmuan,” ujarnya.

Ndow juga mendorong para sarjana Muslim untuk aktif memproduksi pengetahuan melalui riset dan publikasi ilmiah.

Dampak Algoritma AI

Sementara itu, narasumber lain Prof. Dr. Rohmat, Guru Besar UIN Prof. Dr. KH Saifuddin Zuhri (UIN Saizu), menyoroti dampak algoritma kecerdasan buatan (AI) dan menurunnya budaya membaca di kalangan pelajar dan pendidik.

“Algoritma AI bergerak sangat cepat, sementara budaya membaca semakin melemah. Kita dimanjakan oleh kecepatan informasi digital, tetapi kehilangan kedalaman berpikir,” ungkapnya.

Prof. Rohmat menekankan bahwa guru di era digital harus kembali menegaskan perannya sebagai pendidik intelektual dan moral.

Menurutnya, guru memiliki keunggulan yang tidak dapat digantikan oleh teknologi, yakni sentuhan emosional dan proses internalisasi nilai.

“AI tidak memiliki emosi dan nilai. Guru berperan membingkai peserta didik dengan akhlakul karimah, menanamkan keikhlasan, kejujuran, dan integritas. Inilah peran yang tidak tergantikan oleh teknologi digital,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya menghidupkan kembali budaya riset ilmiah sebagai benteng utama menghadapi krisis intelektual.

Meneladani ulama masa lalu yang produktif dalam riset fikih dan keilmuan, para cendekiawan Muslim diharapkan mampu menjadi rujukan sekaligus pelurus di ruang digital ketika terjadi distorsi informasi keagamaan. (Naeli Rokhmah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button