Tasawuf Tarekat

7 Ajaran Tarekat Qodiriyah Syekh Abdul Qadir Al Jailani

Ada 7 ajaran Tarekat Qodiriyah Syekh Abdul Qadir Al Jailani, yaitu taubat, zuhud, tawakal, syukur, sabar, ridha, dan jujur, sebuah ajaran yang selalu menekankan pada pensucian diri dari nafsu dunia dan diamalkan oleh para penganut/pengamal Tarekat Qodiriyah.

Atas 7 ajaran tarekat Qodiriyah tersebut, Syekh Abdul Qadir Al Jailani memberiikan beberapa petunjuk untuk mencapai kesucian diri yang tertinggi tersebut. Berikut ini 7 Ajaran Tarekat Qodiriyah Syekh Abdul Qadir Al Jailani selengkapnya.

Pertama, Taubat. Taubat adalah kembali kepada Allah dengan mengurai ikatan dosa yang terus-menerus dari hati kemudian melaksanakan setiap hak Tuhan. Ibnu Abbas ra. Berkata: ”Taubat al-nashuha adalah pentesalan dalam hati, permohonan ampun dengan lisan , meninggalakan dengan anggota badan, dan berniat tidak akan mengulangi lagi.” Jadi taubat al-nashuha tidak hanya di mulut yang menyatakan penyesalan dan bertaubat, sementara hati tidak mengikuti apa yang dikatakan oleh mulut, tidak bersungguh-sungguh bermaksud untuk menghentikan perbuatan-perbuatan dosa itu, dan tidak melakukan tindakan nyata untuk menghentikanya.

Taubat ini sangat dianjurkan kepada setiap orang mukmin, sebagaimana firman Allah, “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (at-taubah: 31)

Menurut Syekh Abdul Qadir Al Jailani, taubat itu ada dua macam, yaitu: Taubat yang berkaitan dengan sesama manusia. Taubat ini tidak terealisasi, kecuali dengan menghindari kezaliman, memberikan hak kepada yang berhak, dan mengembalikan kepada pemiliknya; dan Taubat yang berkaitan dengan hak Allah. Taubat ini dilakukan dengan cara selalu mengucakan istigfar dengan lisan, menyesal dalam hati, dan betekad untuk tidak mengulanginya lagi di masa mendatang.

Kedua Zuhud, Zuhud  secara bahasa adalah zahada fihi, wazahada’anhu, dan wazahadan yaitu berpaling darinya dan meninggalaknnya kerena dosa. Sedangkan secara istilah zuhud menurut pendapat yang paling baik adalah dari Ibn Qadamah al-Maqdisi, bahwa zuhud merupakan gambaran tentang menhindari dari mencintai sesuatu yang menuju kepada sesuatu yang lebih baik darinya. Atau dengan istilah lain, menghindari dunia kerena tahu kehinaannya bila dibandingkan dengan kemahalan akhirat.

Menurut Syekh Abdul Qadir Al Jailanijilani, bahwa zuhud ada dua macam, yaitu: zahid hakiki (mengeluarkan dunia dari hatinya) dan mutazahid shuwari/ zuhud lahir (mengeluarkan dunia dari hadapannya). Namun hal ini tidak berarti bahwa seorang zahid hakiki menolak rezeki yang diberikan Allah kepadanya, tetapi dia mengambilnya lalu digunakan untuk ketaatan kepada Allah.

Zuhud memang membawa kesucian kepada diri si salik. Zuhud mengajarkan betapa si salik harus menahan hawa nafsu (sesuatu yang kita sayangi) serta menolak semua tuntutannya. Kita tahu bahwa dalam berbagai hal, hawa nafsulah puncak segala kecelakaan diri, baik di dunia, terlebih lagi di akhirat. Oleh kerena itu, nafsu tidak boleh dijadikan sebagai teman, justru harus dianggap sebagai lawan dan pembinasa manusia.

Ketiga Tawakal, Tawakal artinya berserah diri (dalam bahasa arab, tawakal), yakni salah satu sifat mulian yang harus ada pada diri ahli sufi. Bila ia benar-benar telah mengenal Tuhannya melalui makrifat yang telah dicapainya, tidak mungkin sifat tawakal tersisih dari dirinya. Sebab, mustahil jika seorang sufi yang selalu berada di sisi Tuhan tidak memiliki jiwa tawakal. Syekh Abdul Qadir Al Jailanimenekankan bahwa tawakal berada di antara pintu-pintu iman, sedangkan iman tidak terurus dengan baik kecuali dengan adanya ilmu, hal dan amal. Intinya, tawakal akan terrah dengan ilmu dan ilmu menjadi pokok tawakal, sementara amal adalah buah dan maksud tawakal itu sendiri.

Dengan demikian, hakikat tawakal adalah menyerahkan segala urusan kepada Allah dan membersihkan diri dari gelapnya pilihan, tunduk dan patuh kepada hukum dan takdir. Sehingga dia yakin bahwa tidak ada perubahan dalam bagian, apa yang merupakan bagiannya tidak akan hilang dan apa yang tidak ditakdirkan untuknya tidak akan diterima. Maka hatinya merasa tenang kerenanya dan merasa nyaman dengan janji Tuhannya.

Syekh Abdul Qadir Al Jailani menekankan pentingnya tawakal dengan mengutip maksud sebuah sabda Nabi, “Bila seseorang menyerahkan dirinya secara penuh kepada Allah, maka Allah akan mengaruniakan apa saja yang dimintanya.Begitu juga sebaliknya, bila dengan bulat ia menyerahkan dirinya kepada dunia, maka Allah akan membiarkan dirinya dikuasai oleh dunia.”Semakin banyak orang yang mengejar dunia, maka semakin lupa dia akan akhirat,sebagaimana dinyatakan dalamsabda Nabi, “Apabila inngatan manusia telah condong kepada dunia, maka maka ingatannya kepada akhiratakan berkurang.

Di sinilah letak perbandingan antara manusia yang mengejar dunia, sehingg semua hati dan perasaannya ditumpukam kepada dunia yang di kejarnya. Berusahalah dia siang dan malam kerena dunia, padahal urusan keduniaan itu ada akhirnya. Semakin banyak yang diraihnya, semakin serakah ia untuk terus berusaha mendapatkannya. Sebaliknya, bila ingatan manusia condong kepada akhirat maka ingatannya terhadap dunia akan berkurang. Oleh kerena itu, pilihlah akhirat daripada dunia, kerena akhirat lebih baik bagimu.

Keempat Syukur, Syukur adalah ungkapan rasa terima kasih atas nikmat yang diterima, baik lisan, tangan, maupun hati. Menurut Syekh Abdul Qadir Al Jailani, hakikat syukur adalah mengakui nikmat Allah kerena Dialah Pemilik karunia dan pemberian sehingga hati mengakui bahwa segala nikmat berasal dari Allah dan patuh kepada syariat-Nya. Syekh Abdul Qadir Al Jailani menyatakan bahwa hakikat syukur adalah mengakui nikmat Allah Dialah pemilik karunia, Sehingga hati mengakui bahwa segala nikmat berasal dari Allah SWT. Dengan demikian, syukur adalah pekerjaan hati dan anggota badan.

Syekh Abdul Qadir Al JailaniJilani membagi syukur menjadi tiga macam, pertama syukur dengan lisan, yaitu dengan mengakui adanya nikmat dan merasa tenang. Dalam hal ini si penerima nikmat mengucapkan nikmat Tuhan dengan segala kerendahan hati dan ketundukan. Kedua, syukur demngan badan dan anggota badan, yaitu dengan cara melaksanakan dan pengabdian serta melaksanakan ibadah sesuai perintah Allah.

Dalam hal ini, si penerima nikmat selalu berusaha menjalanka perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya.Ketiga, syukur dengan hati, yaitu beriti’kaf/ berdiam ddiri di atas tikar Allah dengan senantiasa menjaga hak Allah yang wajib dikerjakan.Dalam hal ini, si penerima nikmat mengakui dari dalam hatinyabahwa semua nikmat itu berasal dari Allah SWT.

Baca Artikel Terkait:

Kelima Sabar, Sabar adalah tidak mengeluh kerena sakitnya musibah yang menimpa kita kecuali mengeluh kepada Allah kerena Allah SWT Menguji Nabi Ayyub as., dengan firman-Nya, “Kami mendapatinya sebagai orang-orang yang sabar.” Padahal beliau berdo’a dan mengeluh kepada Allah untuk menghilangkan musibah yang menimpanya seraya berkata, “Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia menyeru Tuhannya, ‘(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (al-Anbiya’: 83).

Menurut Syekh Abdul Qadir Al Jailani, sabar ada tiga macam, yaitu: Bersabar kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya; Bersabar bersama Allah, yaitu bersabar terhadap ketetapan Allah dan perbuatan-Nya terhadapmu dari berbagai macam kesulitan dan musibah; Bersabar atas Allah, hyaitu bersabar terhadap rejeki, jalan keluar, kecukupan, pertolongan, dan pahala yang dijanjikan Allah di kampung akhirat.

Keenam Ridha, Ridha adalah kebahagiaan hati dalam menerima ketetapan (takdir). Secara umum para salik berpendapat bahwa orang yang ridha adalah orang yang menerima ketetapan Allah dengan berserah diri, pasrah tanpa menunjukan penetangan terhadap apa yang dilakukan oleh Allah.

Syekh Abdul Qadir Al Jailani mengutip ayat al-Qur’an tentang perlunya sikap ridha, “Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari-Nya, keridhaan dan surga. Mereka memperolehdi dalamnya kesenangan yang kekal.”(At-Taubah: 21). Kemudian Rasulullah bersabda, “Yang akan merasakan manisnya iman adalah orang yang ridha Allah menjadi Tuhannya, Islam menjadi agamanya, dan Muhammad menjadi Rasulnya.”

Tidak diragukan lagi bahwa ridha dapat menenteramakanjiwa manusia dan memasukan faktor kebahagiaan dan kelembutan di dalamnya; kerena seorang hamba yang ridhadan menerima apa yang dipilihkan Allah untuknya, dia tahu bahwa yang dipilihkan Allah untuknya terbaik baginya di segala macam keadaan. Keridhaan ini akan meringankan hidup manusia, sehingga dia akan merasa tenang, hilang rasa gundah, dan kegalauan.

Ketujuh Jujur, Secara bahasa jujur adalah menetapakan hukum sesuai dengan kenyataan. Sedangkan dalam istilah sufi dan menurut Syekh Abdul Qadir Al JailaniJilani, Jujur adalah mengatakan yang benar dalam kondisi apapun, baik menguntungkan maupun yang tidak menguntungkan.

Kejujuran merupakan derajat kesempurnaan manusia tertinggi dan seseorang tidak akan berlaku jujur, kecuali jika dia memiliki jiwa yang baik, hati yang bersih, pandangan yang lurrus, sifat yang mulia, lidah yang bersih, dan hati yang dihiasi dengan keimanan, keberanian dan kekuatan. Itulah yang dilakukan oleh Syekh Abdul Qadir Al Jailani ketika beliau menghadapi para perampok pada saat beliau berangkat menuju baghdad dari negeri Jilan.

Kejujuran adalah kedudukan yang tertinggi dan jalan yang paling lurus, yang dengannnya dapat dibedakan antara orang munafik dan seorang yang beriman. Kejujuran adalah rohnya perbuatan, tiang keimanan, dan satu tingkat di bawah derajat kenabian. Syekh Abdul Qadir Al Jailani mengutip ayat al-Qur’an untuk menjelaskan pentingnya sikap jujur ini dilaksanakan, “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kamu kepada Allah dan hendaklah kamu bersama-sama orang yang benar.” (at-Taubah: 119).

Syekh Abdul Qadir Al Jailani membedakan antara al–shadaq (orang jujur) dengan al–shiddiq (orang yang sangat jujur). Al Shadiq adalah isim lazim dari kata al-shidq, sedangkan al-shiddiq adalah untuk menunjukan kejujuran yang sangat tinggi, sehingga kejujuran merupakan jalan kehidupan baginya. Sikap jujur ini sangat diperlukan dalam ajaran tasawuf kerena seseorang tidak dapat berdekatan dengan Allah kecuali dengan sikap jujur dan bersih.

Demikian 7 Ajaran Tarekat Qodiriyah Syekh Abdul Qadir Al Jailani, semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

5 × 5 =

Back to top button