Harapan Pengasuh Pesantren: PBNU Jadi Rumah Besar, Tempat Umat Mengadu Soal Korupsi, Ekologi, dan Kesenjangan

JAKARTA, NUCOM – Tuan rumah pelantikan PBNU Masa Khidmat 2026-2031, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hamid Cilangkap, Jakarta Timur, KH Lukman Hakim Hamid menyampaikan sambutan penuh harapan pada pengurus PBNU Jadi Rumah Besar, Tempat Umat Mengadu Soal Korupsi, Ekologi, dan Kesenjangan. Sabtu, (24/10/2026)

Dengan bahasa yang puitis, Kiai Lukman Hakim berharap sebagaimana harapan pesantren pada umumnya bahwa momentum pelantikan pebgurus baru PBNU ini membekas seperti “awan tak lapuk oleh hujan, tak lekang karena panas.”

“Harapan kami agar PBNU senantiasa menjadi rumah besar khususnya bagi kami pondok-pondok pesantren dan umumnya bagi umat Islam Indonesia bahkan bagi negara yang kita cintai. Sebagai tempat bernaung, tempat berteduh dari terik panasnya kehidupan zaman,” ujar Kiai Lukman.

Dari pinggiran Jakarta sebagai kota global, Pesantren Al-Hamid memberikan dukungan dan doa agar PBNU di abad kedua ini mampu memaksimalkan perannya.

Kiai Lukman Hakim menyebutkan tiga peran besar yang diharapkan dari PBNU:

1. Sebagai social security (jaminan sosial) umat.
2. Sebagai kontrol sosial.
3. Sebagai penyambung lidah umat atas berbagai permasalahan yang dihadapi: masalah korupsi, rusaknya ekologi, merosotnya ekonomi, hingga kesenjangan sosial yang eskalasinya semakin tinggi.

“Kami berharap dengan sangat agar PBNU menjadi tempat umat mengadu, ruang bagi mereka yang kesulitan mencari solusi atas permasalahan yang sedang dihadapi,” tegasnya.

Dia mengajak seluruh hadirin menyatukan niat dan membulatkan tekad dalam pengabdian.

“Kita semua yang ada di sini adalah santri para muassis. Kita adalah santri Hadratussyekh Mbah Kiai Hasyim Asy’ari, Mbah Kiai Wahab Hasbullah, Mbah Kiai Bisri Syamsuri. Mari bersama-sama kita buat beliau tersenyum, jangan buat beliau menangis,” ajaknya yang disambut haru hadirin.

Di akhir sambutan, dengan kerendahan hati dan menggunakan bahasa Jawa halus, beliau memohon maaf jika ada kekurangan dalam jamuan dan memohon doa restu.

“Estu-estu dalam sekeluarga nyuwun pangestu mugi-mugi Pondok Pesantren Al-Hamid ingkang wonten Jakarta menika menjadi salah satu benteng Nahdlatul Ulama, benteng Ahlussunnah wal Jamaah wonten Provinsi DKI. Amin ya Rabbal Alamin.” Pungkasnya.

Acara dilanjutkan dengan prosesi baiat 210 Pengurus PBNU Masa Khidmat 2026-2031 diawali dengan pembacaan Surat Keputusan (SK) oleh Ketua Umum PBNU, KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin).

Namun sebelum membacakan diktum SK, Ketum Kikin mengingatkan kembali pesan paling fundamental dari para muassis NU tentang bagaimana seharusnya kita masuk dan berkhidmah di NU.

Beliau mengutip dawuh Hadratussyekh Hasyim Asy’ari dalam Qonun Asasi:

فَهَلُمُّوا مَعَ كُلِّكُمْ مَنْ تَبِعَكُمْ جَمِيعًا مِنَ الْأَغْنِيَاءِ وَالْفُقَرَاءِ وَالضُّعَفَاءِ إِلَى هٰذِهِ الْجَمْعِيَّةِ الْمُبَارَكَةِ الْمَعْزُومَةِ بِجَمْعِيَّةِ نَهْضَةِ الْعُلَمَاءِ. فَهَا بِمَحَبَّةٍ وَالْوِدَّةِ وَالْأُلْفَةِ وَالْإِتِّحَادِ وَالْإِتِّصَالِ بِأَرْوَاحٍ وَأَجْسَادٍ.

Kutipan ini yang merupakan bagian dari teks Muqaddimah Qanun Asasi (Anggaran Dasar) Nahdlatul Ulama yang ditulis oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari yang Artinya: Maka hendaklah kalian semua, baik orang-orang kaya, fakir, maupun dhuafa, yang mengikuti kalian, masuk ke dalam jam’iyyah yang diberkahi dan agung ini, yaitu Jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Maka masuklah dengan penuh kecintaan, kasih sayang, kerukunan, persatuan, dan keterhubungan dengan segenap jiwa dan raga.

“Inilah yang menggambarkan inklusivitas organisasi ini,” jelas Kiai Kikin.

“Muassis berpesan kita masuk ke NU itu dengan catatan, dengan penuh kecintaan, kasih sayang, rukun, bersatu, dan dengan segenap jiwa raga,” tambahnya.***(IHA)

Baca juga: 210 Pengurus PBNU Masa Khidmat 2026-2031 Resmi Dilantik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button