H Paiman Sahlan: Ketika Rasulullah ﷺ dan Para Sahabat Menyambut Ramadhan

NU Cilacap Online – Ramadhan selalu hadir membawa suasana yang berbeda. Ketika Ramadhan semakin dekat, hati setiap muslim seakan diajak berhenti sejenak untuk menata niat, membersihkan diri, dan bersiap menyambut bulan penuh keberkahan. Inilah Tausiyah Ramadhan 1447 H, Ketua PCNU Cilacap, H Paiman Sahlan: Ketika Rasulullah ﷺ dan Para Sahabat Menyambut Ramadhan.

ﻗَﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ، ﺷَﻬْﺮٌ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ، ﺍﻓْﺘَﺮَﺽَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺻِﻴَﺎﻣَﻪُ، ﺗُﻔْﺘَﺢُ ﻓِﻴﻪِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

Artinya: “Telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah, diwajibkan kepada kalian ibadah puasa, dibukakan pintu-pintu surga dan ditutuplah pintu-pintu neraka serta setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang tidak mendapatkan kebaikannya berarti ia telah benar-benar terhalang atau terjauhkan (dari kebaikan).”

Bagi Rasulullah ﷺ dan para sahabat, Ramadhan adalah bulan yang dinanti dengan penuh harap. Ia disambut dengan kegembiraan, penuh ketenangan, doa, serta persiapan ibadah yang sungguh-sungguh.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Allah ﷻ berfirman, “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia serta penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang benar dan yang batil.” (Q.S. Al-Baqarah: 185) 

Ayat ini menegaskan bahwa Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an, bulan untuk kembali kepada petunjuk Allah ﷻ, serta waktu terbaik untuk memperbaiki arah hidup dan meningkatkan ketakwaan.

Menyiapkan Hati

Rasulullah ﷺ tidak menunggu Ramadhan datang begitu saja. Jauh sebelumnya, beliau telah menyiapkan diri dengan memperbanyak ibadah di bulan Syakban. Para sahabat memperhatikan bagaimana beliau lebih sering berpuasa pada bulan ini dibandingkan bulan-bulan lainnya.

Ketika Usamah bin Zaid ra bertanya tentang hal tersebut, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa Syakban adalah bulan yang sering dilalaikan manusia, padahal pada bulan inilah amal-amal diangkat kepada Allah ﷻ. Beliau ingin amalnya diangkat dalam keadaan berpuasa (HR. An-Nasa’i).

Dari teladan ini, para sahabat memahami bahwa menyambut Ramadhan tidak hanya soal kesiapan fisik, tetapi juga kesiapan hati. Syakban menjadi masa latihan agar ketika Ramadhan tiba, jiwa telah siap untuk menjalani ibadah dengan lebih khusyuk.

Kabar Gembira

Menjelang datangnya Ramadhan, Rasulullah ﷺ menyampaikan kabar gembira yang menguatkan iman para sahabat. Dalam hadits sebagaimana tersebut di atas yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, beliau bersabda:

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa. Pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” 

Hadits ini menggambarkan betapa besar keutamaan Ramadhan sebagai bulan ampunan, bulan rahmat, dan kesempatan bagi setiap muslim untuk memperbaiki diri serta mendekat kepada Allah ﷻ.

Dalam kitab Lathā’if al-Ma‘ārif karya Ibnu Rajab al-Hanbali, disebutkan bahwa para sahabat dan generasi salaf berdoa selama enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadhan. Setelah Ramadhan berlalu, mereka berdoa enam bulan berikutnya agar amal ibadah yang telah dilakukan diterima oleh Allah ﷻ.

H Paiman Sahlan menegaskan adapun kisah mengenai kebiasaan berdoa enam bulan sebelum Ramadhan dan enam bulan sesudahnya bukanlah hadits nabi atau perkataan langsung dari Rasulullah SAW, melainkan atsar (perkataan/kebiasaan) para ulama Salafus Shalih (generasi terdahulu orang-orwng saleh).

Keterangan mengenai kebiasaan ini diriwayatkan dalam kitab Lathaif al-Ma’arif karya Imam Ibnu Rajab al-Hanbali.

Bunyi Atsar (Perkataan Salafus Shalih) dari Mu’alla bin al-Fadhl (seorang tabi’ tabi’in) berkata:

كَانُوا يَدْعُونَ اللَّهَ تَعَالَى سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ رَمَضَانَ، ثُمَّ يَدْعُونَهُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُمْ

“Dahulu para sahabat (salaf), selama enam bulan sebelum datang Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian selama enam bulan sesudahnya, mereka berdoa agar Allah menerima amal ibadah mereka [di bulan Ramadhan].” (Lathaaiful Ma’arif, hal. 232

Kebiasaan ini menunjukkan betapa Ramadhan begitu dimuliakan karena diyakini membawa keberkahan dan perubahan hidup.

Adapun Doa yang Diamalkan yang masyhur dipanjatkan adalah dari Yahya bin Abi Katsir:

اللَّهُمَّ سَلِّمْنـِي إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِـي رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنِي مُتَقَبَّلاً

Artinya: “Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadhan, dan antarkanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan. (IHA).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button