H Fatkhudin: Inilah Kisah Teladan Kanjeng Nabi Muhammad SAW

NUCOM — Dalam waktu yang sangat singkat, Rasulullah SAW mampu membangun masyarakat Madani yang beradab sekaligus meyetabilkan madinah, sesingkatnya sekitar 1 hingga 2 tahun, setelah hijrahnya dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 M. Berikut ini tausiyah Wakil Ketua PCNU Cilacap, H Fatkhudin: Inilah Kisah Teladan Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Suatu hari ada seorang yahudi yang buta di pojok pasar Madinah, dia kesehariannya hanya mengolok-olok Rasulullah SAW dengan cacimaki, bahkan meludahi, bahkan Rasul Muhammad dianggap orang gila, kondisi demikian bagi Rasul tetap, bahwa ternyata orang itu harus dihormati sehingga Rasul pun memberi makanan padanya, bahkan menyuapinya, dan itu berlangsung beberapa kali.
Selanjutnya adalah Abu Bakar As Shidiq yang menggantikan peran Rasul itu, dengan memberi makanan dan menyuapi orang Yahudi tersebut. Dan pada suatu saat orang yahudi itu merasa ada sesuatu yang aneh, dan berbeda dari sebelumnya, lalu orang Yahudi itu bertanya “Apakah kamu yang biasa memberi makanan dan menyuapiku sebelumnya?”
Jawab Abu Bakar As Shidiq, “Yang biasa menyuapimu adalah Nabiku, Muhammad SAW, dan sekarang beliau sudah meninggal dunia,”
Mendengar jawaban itu, sontak orang Yahudi itu tiba-tiba menangis, saat itu juga dia bersyahadat, masuk Islam. Betapa inilah kisah dari pribadi agung Rasullullah SAW, sebagai pribadi yang dipenuhi kasih sayang.
Adapun pribadi Rasulullah SAW sebagai pemimpin, ketika hijrah ke Yastrib Madinah pada tahun 622 Masehi, Madinah sebagai wilayah yang majemuk, penduduk dengan beragam suku dan agama yang berbeda, maka perbedaan itu memungkinkan terjadi perselisihan, sehingga Rasulullah SAW merumuskan sebuah konstitusi yang disebut Piagam Madinah yang berisi aturan-aturan bagi warga madinah, untuk saling hidup damai, jaga keamanan, saling hormat menghormati dan seterusnya.
Piagam Madinah ini jadi karya agung yang terjadi pada sejarah pedaban manusia yang hingga kini diakui sebagai konstitusi yang menjunjung tinggi hak asasi manusia yakni memandang manusia sama.
Rasul dan seluruh warga Madinah melaksanakan aturan-aturan yang ditetapkan dengan baik sehingga menjadikan beliau pemimpin tertinggi yang sangat dihormati oleh seluruh warga Madinah.
Adapun ketika muncul persoalan, Rasulullah SAW turut serta mengatasinya, Beliau turun tangan menyelesaikan masalah yang terjadi.
Inilah lakulampah Rasulullah SAW yang tidak hanya berperan sebagai pemimpin spiritual, tetapi juga turun tangan secara langsung (aktif) dalam mengatasi berbagai persoalan sosial, ekonomi, pertahanan, dan politik yang muncul di masyarakat Madinah yang majemuk. (IHA)





