Dakwah di Kyungpook National University: Menjawab dengan Hikmah

NU CILACAP ONLINE – Aktivitas dakwah di Korea Selatan menghadirkan pengalaman yang unik. Di tengah lingkungan akademik yang terbuka dan masyarakat yang majemuk, dialog tentang agama kerap terjadi secara langsung dan sederhana, namun tetap bermakna. Seperti halnya yang terjadi di kampus di Kyungpook National University, Daegu, Korea Selatan.
Siang itu, 16 Maret 2026, ketika saya sedang mengambil video suasana kampus di Kyungpook National University, banyak mahasiswa Korea berlalu Lalang di area kampus. Sebagian menyapa dengan ramah, mencerminkan budaya sopan santun yang kuat di kalangan masyarakat Korea.
Ada satu fenomena yang menarik perhatian saya. Di antara para pejalan kaki tersebut terdapat pula sejumlah misionaris Kristen yang aktif berdakwah. Mereka sering menghampiri orang yang lewat, terutama orang asing, untuk mengajak berbincang mengenai Yesus dan tentang Tuhan yang mereka sebut Hananim, yaitu sebutan Tuhan dalam bahasa Korea.
Ketika saya berjalan di area kampus, beberapa di antara mereka juga mendekat. Dengan ramah mereka menawarkan percakapan singkat tentang iman, bahkan memberikan hadiah kecil seperti tisu yang bergambar Yesus.
Aktivitas dakwah para misionaris ini cukup masif. Tidak hanya di kampus, mereka juga sering berdakwah dari rumah ke rumah, di jalan-jalan umum, serta mengajak orang yang lewat untuk mampir ke gereja. Sebagai bentuk pendekatan, mereka kerap memberikan hadiah kecil kepada orang yang diajak berbincang.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kegiatan dakwah tidak hanya dilakukan oleh umat Islam. Di Korea Selatan, para misionaris Kristen juga menjalankan aktivitas penyebaran agama secara aktif dan terbuka. Gereja-gereja mudah ditemukan di berbagai sudut kota.
Bahkan di sekitar Masjid Al-Hikmah Nongong terdapat sekitar empat gereja yang aktif. Hampir setiap sore, para anggota gereja berdiri di depan bangunan gereja untuk menyapa orang yang lewat dan mengajak mereka masuk untuk berkenalan atau berbincang.
Menariknya, Masjid Al-Hikmah Nongong sendiri memiliki sejarah yang unik. Bangunan yang kini menjadi tempat ibadah umat Islam tersebut dulunya merupakan sebuah gereja. Namun karena di sekitarnya telah berdiri banyak gereja lain, tempat itu menjadi sepi. Pada akhirnya bangunan tersebut disewa oleh warga Indonesia yang tinggal di daerah Nongong dan kemudian digunakan sebagai masjid yang kini aktif untuk berbagai kegiatan keagamaan. Baca juga Dari Dapur Masjid, Semangat Beragama Diasah di Negeri Ginseng
Meski masing-masing komunitas menjalankan aktivitas dakwahnya, hubungan sosial di antara masyarakat tetap berjalan dengan baik. Percakapan tentang Tuhan, agama, dan keyakinan sering berlangsung dalam suasana santai dan penuh rasa saling menghormati. Baca juga Serukan Islah, ini Sikap Rais Syuriyah PCNU Cilacap Terkait Dinamika PBNU
Cerita Sakinah, Mahasiswa Asal Indonesia
Salah satu kisah menarik datang dari Sakinah, seorang mahasiswa Indonesia yang telah menyelesaikan studi doktoralnya di Kyungpook National University. Suatu hari ia mendapat pertanyaan dari beberapa teman Korea di kampus.
Mereka bertanya, “Mengapa kalian orang Islam terlihat sangat lelah? Kalian harus salat lima kali sehari. Bukankah itu sangat berat? Mengapa tidak dilakukan sekali saja dalam sehari?”

Pertanyaan tersebut tentu tidak mudah dijawab dengan dalil-dalil agama, karena lawan bicara belum memiliki latar belakang pemahaman tentang Islam yang cukup. Karena itu, Sakinah mencoba mencari cara menjelaskan yang sederhana dan mudah dipahami.
Dia kemudian berkata kepada temannya, “Bukankah ketika kamu sedang jenuh atau memiliki masalah, kamu sering mencari saya untuk mengobrol dan curhat?”
Temannya mengangguk. Ia memang sering datang kepada Mbak Sakinah untuk berbincang ketika sedang merasa bosan atau memiliki persoalan.
Sakinah kemudian melanjutkan penjelasannya, “Begitu juga dengan saya terhadap Tuhan. Salat itu seperti curhat kepada Tuhan. Semakin sering saya berbicara kepada-Nya, semakin ringan beban hidup saya.”
Mendengar penjelasan tersebut, temannya pun berkata, “Oh, begitu ya.” Ia akhirnya dapat memahami makna di balik ibadah salat yang sebelumnya terasa berat dalam bayangannya.
Kisah sederhana ini menggambarkan bahwa dakwah di lingkungan internasional sering kali membutuhkan pendekatan yang bijaksana. Tidak selalu dengan penjelasan dalil yang panjang, tetapi dengan bahasa yang logis, dekat dengan pengalaman hidup, dan mudah dipahami oleh orang yang berbeda latar belakang.
Pengalaman ini juga menunjukkan bahwa dakwah di negeri minoritas menuntut kemampuan menjelaskan ajaran Islam dengan hikmah. Jawaban yang rasional, sederhana, dan menyentuh sisi kemanusiaan sering kali menjadi jembatan efektif untuk memperkenalkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat yang belum mengenalnya.
Di tengah dinamika kehidupan masyarakat Korea Selatan yang modern dan plural, dakwah menjadi ruang dialog yang membuka kesempatan untuk saling memahami. Dari percakapan sederhana di kampus hingga diskusi santai di jalan, nilai-nilai Islam dapat disampaikan dengan cara yang penuh kebijaksanaan dan kedamaian.
Penulis: Mahmud Salim/Daegu, Dai internasional LD PBNU yang bertugas di Koreas Selatan





