Bakso Bejo, Penopang Operasional Masjid Agung Daegu

Catatan Dai Global LD PBNU

NU CILACAP ONLINE – Perjalanan dalam rangka tugas dakwah sebagai utusan Dai Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) di menghadirkan cerita berharga bagi saya, salah satunya Bakso Bejo. Bukan hanya tentang cita rasa yang tak terlupakan, melainkan peran di balik usaha milik H Subandi yang menopang pendanaan masjid Baitul Makmur, Daegu, Korea Selatan. Satu masjid yang menjadi pusat beribadatan bagi ratusan warga Muslim perantauan di negeri ginseng.

Masjid Agung Baitul Makmur yang terletak di kota Daegu, Korea Selatan, menjadi salah satu pusat kegiatan ibadah dan kebersamaan bagi warga Muslim Indonesia di perantauan. Masjid ini memiliki kisah yang istimewa, karena dibeli secara gotong royong oleh warga Indonesia yang tinggal di sekitarnya.

Bangunan masjid terdiri dari empat lantai dengan fungsi yang terstruktur. Lantai empat digunakan untuk kegiatan rapat, musyawarah, serta aktivitas kebersamaan lainnya. Lantai tiga difungsikan sebagai tempat tinggal para pengurus masjid (maqom).

Sementara itu, lantai dua menjadi pusat kegiatan ibadah, seperti shalat berjamaah dan berbagai aktivitas keagamaan. Adapun lantai pertama dimanfaatkan sebagai area usaha yang hasilnya digunakan untuk menopang operasional masjid.

Kepemimpinan masjid saat ini diamanahkan kepada Amir (ketua) masjid, Kang Munawir, yang berasal dari Cirebon. Sementara itu, untuk menjaga kualitas ibadah dan pembinaan keagamaan, masjid ini juga menghadirkan imam tetap yang diundang langsung dari Indonesia, yaitu Dr. Abdullah Haidar dari Kampus Tri Bakti Kediri, Jawa Timur. Baca juga Batumi : Kota Sejarah, Budaya dan Wisata Terkemuka di Eropa

Dalam hal operasional, Masjid Agung Baitul Makmur memiliki kemandirian ekonomi yang patut diapresiasi. Salah satu penopang utamanya adalah usaha Bakso Bejo, milik Bapak Haji Subandi. Usaha ini tidak hanya mendukung kebutuhan operasional masjid, tetapi juga telah berkembang dengan memiliki sekitar enam cabang di berbagai wilayah di Korea Selatan. Baca juga Membludag, Shalat Ied di Masjid Al-Hikmah Nongong Digelar Tiga Kali

Menariknya, Masjid Baitul Makmur juga kerap menyelenggarakan berbagai kegiatan keagamaan dengan mengundang para dai dari dalam maupun luar negeri. Kegiatan-kegiatan tersebut, seperti kajian Islam, tabligh akbar, dan pembinaan umat, dapat terlaksana dengan baik berkat dukungan operasional yang bersumber dari usaha Bakso Bejo.

Keberadaan usaha ini menjadi bukti nyata bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan umat yang mandiri secara ekonomi. Semangat kebersamaan dan kontribusi warga menjadi kekuatan utama dalam menjaga keberlangsungan dakwah di negeri perantauan.

Penulis: Mahmud Salim, Utusan Dai Global LD PBNU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button