Tasawuf Tarekat

Syukur Adalah Buruan Segala Kenikmatan, Apa Maksudnya?

Syukur adalah buruan segala kenikmtan. Jika kamu sudah mendengar suara syukur, berarti kamu sudah siap untuk menerima tambahan. Ketika Allah mencintai hamba, dia akan menguji hamba tesebut. Bila ia bersabar dan bersyukur maka Allah juga akan memeliharanya.

Sebagaian dari mereka bersyukur pada Allah karena kemurkaanya dan sebagaian lagi bersyukur karena kelembutannya. Keduannya adalah baik, sebab ungkapan syukur adalah penangkal racun yang menyulap kemurkaan menjadi sebuah kelembutan.

Seorang hamba yang berakal sempurna adalah dia yang bersyukur atas kekerasan yang nampak maupun yang yang samar, sebab semua itu adalah pilihan yang diberikan Allah kepadanya.

Dikisahakan ada seorang  yahudi yang hidup berdampingan dengan seorang sahabat Nabi. Orang Yahudi itu tinggal di ruang atas, di mana semua limbah, kotoran, air kencing bayi dan air cucian jatuh ke ruangan keluarga sahabat tadi.

Tetapi sahabat itu selalu berterimakasih pada si Yahudi dan memerintahkan keluargannya untuk selalu bersyukur. Keadaan ini  terus berlanjut selama delapan tahun sampai sahabat itu wafat dan orang Yahudi itu membesuk keluargannya,  ketika dia melihat segala kotoran mengotori bagian dalam rumah tetangganya itu ia bergegas melihat jendela di kamarnya.

Artikel Terkait

Seketika itu ia menyadari apa yang terjadi sekilan lama dan sangat menyesali perbuatannya.

Ia berkata kepada keluarga sahabat yang meninggal: “kenapa kalia tidak pernah memberitahuku tentang  hal ini dan malah selalu berterimakasih kepadaku?”

Keluarga sahabat itu menjawab: “ayah kami selalu memerintahkan kami untuk berbuat demikian dan mengancam jika kami berhenti melakukannya.” Orang  yahudi itu pun kemudian beriman.

Karena itulah Allah menyebut pada Nabi dan hamba-hambanya yang saleh di dalam Al-Qur’an dan berterimakasih pada mereka semua atas apa yang telah mereka lakukan terhadap seorang pemaaf.

Syukur itu seperti menghisap puting kenikmatan: meski payudara itu dipenuhi dengan air susu, selama kamu tidak menghisapnya maka susu itu tidak akan mengalir.

Seseorang bertanya: “apa penyebab tidak adannya rasa syukur dan apa yang menghalangi rasa syukur?”

Seoraang syekh menjawab: yang menghalangi rasa syukur adalah ketamakan yang tanpa batas, karena seberapa pun banyaknya orang memiliki benda, ketamakan akan menginginkan lebih dari itu.

Jadi, ketika ia mendapatkan lebih sedikit dari apa yang dibayangkan hatinnya, hal itu akan menghalanginya untuk bersyukur. Ketamakan yang tanpa batas seperti memakan buah mentah, roti tengik dan daging busuk, yang bisa menimbulkan penyakit dan meyebabkan tidak adanya rasa syukur.

Bila manusia memakan sesuatu yang membahayakan, maka seharusnya ia berhenti. Allah menguji seseorang dengan hikmah agar ia bersyukur, terbebas dari prasangka yang keliru, dan agar satu penyakit itu tidak berkembang menjadi  banyak. (Dikutip dari Buku: Fihi Ma Fihi Pasal 48) [Anas Mubarok]

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

6 − five =

Baca Artiikel Rekomendasi Lainnya
Close
Back to top button