Quotes Inspiratif dan Bermakna dari Pendiri, Tokoh, dan Pengurus NU, Berikut Redaksinya

NU Cilacap Online — Peringatan Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) pada 31 Januari 2026 merupakan tonggak sejarah 100 tahun berdirinya organisasi ini dalam penanggalan Masehi (1926–2026). Perayaan ini mengusung tema resmi “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia”. Berikut redaksi kumpulan kutipan quotes inspiratif dan bermakna dari para Pendiri, Tokoh, dan Pengurus NU.

Ada dawuh (ucapan) legendaris dari pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Dan kutipan ini sering dijadikan motivasi bagi para nahdliyin (warga NU), terutama saat peringatan satu abad NU (1926-2026), untuk tetap setia berjuang di NU dalam kondisi apa pun.

Berikut adalah kutipan lengkapnya:
“Jika NU ada seribu orang, carilah aku pasti ada di sana.
Jika NU ada seratus orang, percayalah aku di antaranya.
Jika NU hanya sepuluh orang, akulah salah satu darinya.
Dan jika NU hanya satu orang, akulah orangnya.”
— Hadratussyaikh KH M. Hasyim Asy’ari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama (NU).

Kutipan ini menggambarkan totalitas, dedikasi, dan komitmen mutlak Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari terhadap organisasi yang didirikannya. Ia menegaskan bahwa dalam keadaan NU berjaya dengan banyak pengikut, maupun saat NU dalam keadaan sulit dan sedikit pengikut, beliau akan selalu ada untuk mengawal Nahdlatul Ulama.

Inilah simbol loyalis sejati yang tidak bergantung pada besar kecilnya pengikut, melainkan pada keyakinan perjuangan.

Ada Pernyataan legendaris yang merupakan merupakan wasiat atau dawuh beliau; “Barangsiapa yang mau mengurus NU akan aku anggap sebagai santriku. Siapa yang menjadi santriku akan kudoakan khusnul khatimah beserta anak-cucunya”.

Wasiat Hadratussyaikh KH M. Hasyim Asy’ari, memberi makna bahwasannya “Mengurus NU”, tidak hanya ditujukan bagi mereka yang duduk di struktur kepengurusan resmi, tetapi mencakup siapa saja yang ikhlas berkhidmah untuk kepentingan umat dan Islam melalui jam’iyah NU.

Beliau menjanjikan doa husnul khatimah (akhir yang baik) bagi para “santrinya” tersebut, beserta anak cucu atau keturunan mereka.

Kalimat tersebut sering dikutip dalam acara pelantikan pengurus maupun pengaderan seperti Pendidikan Kader Penggerak NU (PKPNU) untuk memotivasi para kader agar murnikan niat dalam berjuang.

Berikut adalah redaksi lengkap dan beberapa kutipan inspiratif lainnya dari tokoh-tokoh Pendiri, Pengurus NU.

KH. Wahab Chasbullah (Rais Amm PBNU 1947–1971). Semangat beliau tentang kemandirian dan militansi organisasi:

“Jangan jadi NU yang tanggung. Kalau mau jadi NU, jadilah NU yang benar-benar berjuang.”

“Sebab, kalau kita berhenti di tengah jalan, maka musuh-musuh kita akan tertawa terbahak-bahak. Teruskanlah perjuangan ini sampai titik darah yang penghabisan.”

KH. Achmad Siddiq (Rais Aam PBNU 1984–1991). Terkenal dengan konsep trilogi ukhuwahnya,

“Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim), Ukhuwah Watoniyah (persaudaraan sesama bangsa), dan Ukhuwah Basyariyah (persaudaraan sesama manusia) harus dijalankan secara seimbang.”

KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur-Pahlawan Nasional):
“Islam itu datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya Arab… Kita pertahankan milik kita. Kita harus serap ajarannya, bukan budaya Arabnya”.

“Tidak penting apa pun agama atau sukurmu. Kalau kamu bisa berbuat baik untuk semua orang, orang tidak tanya apa agamamu.”

“Sabar itu tidak ada batasnya, kalau ada batasnya berarti bukan sabar.”

KH. Maimoen Zubair (1928-2019)
“Hubbul wathon minal iman (cinta tanah air adalah sebagian dari iman). Menjaga Indonesia adalah kewajiban kita semua sebagai umat Islam.”

“Jangan jadi guru yang hanya mengajar, jadilah guru yang mendidik dengan hati.”

KH Mustofa Bisri (Rais Amm PBNU 2015–2020 ):
“Tugas kita adalah berikhtiar, soal hasil itu wilayah Tuhan. Jangan ambil alih wewenang Gusti Allah.”

“Mari kuatkan niat kita, kita bulatkan tekad kita, terus lanjutkan amal kita, mengembangkan khidmah kita”.

Berikut adalah kumpulan quotes inspiratif dari tokoh-tokoh NU Cilacap bertema Utama 1 Abad NU (1926-2026) “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia”.

KH Su’ada Adzkiya (Rais Syuriyah PCNU Cilacap)
“Warga Nahdliyyin mesti mempelajari apa dan bagaimana NU, lalu diamalkan, diajarkan, dan memiliki keyakinan terhadap perjuangannya.”

KH Aziz Muslim (Wakil Katib Syuriyah PCNU Cilacap)
“Satu abad sudah Nahdlatul Ulama berdiri menjaga agama, merawat umat, dan mengawal bangsa. Jangan sampai NU besar secara angka, tetapi lemah secara gerakan,”

KH. Paiman Sahlan (Ketua PCNU Cilacap)
“Seratus tahun Nahdlatul Ulama bukan hanya tentang usia, tetapi jejak perjuangan, pengorbanan, dan keberanian para ulama dalam menjaga agama, merawat umat, dan mengawal bangsa,”

“Orang terpelajar tidak menjamin organisasi baik, melainkan akhlaknya NU baik, karena orang-orangnya baik-baik akhlaknya.”

KH Khazam Bisri (Instruktur Nasional PKPNU)
“Selamat Harlah satu abad Nahdlatul Ulama. Mari kita bulatkan tekad, satu komando, satu barisan, menuju abad kedua NU yang lebih digdaya serta terus menjadi pilar persatuan bangsa,”

H. Munawar Amin Ma’ruf (Wakil Ketua PCNU Cilacap)
“Semangat ‘Jaga Kiai Jaga Negeri’ bukan sekadar slogan, melainkan bentuk fardu kifayah yang menjadi tanggung jawab kolektif kita.”

KH. Hizbulloh Huda (Gus Huda) (Katib MWCNU Majenang)
“Abad kedua NU harus semakin visioner dalam menjawab tantangan zaman dan mengutamakan hal-hal yang mempermudah umat.”

Ajaran dari para pendiri NU dan laku lampahnya mencakup pentingnya dakwah dengan santun, dan bertujuan, NU melestarikan ajaran Islam Ahlussunnah Waljamaah.
Semoga kutipan-kutipan di atas menjadi motivasi bagi warga Nahdliyin dalam menjaga persatuan dan praktik keislaman yang moderat. (IHA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button