210 Pengurus PBNU Masa Khidmat 2026-2031 Resmi Dilantik

JAKARTA, NUCOM – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Masa Khidmat 2026-2031 resmi dilantik hari ini di Pondok Pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur. Sabtu, (24/10/2026).

Rangkaian acara diawali dengan lantunan shalawat yang dipimpin oleh Habib Ahmad Idrus Al-Habsyi. Suasana khidmat menyeliputi ruangan yang telah dipadati para tamu undangan, mulai dari jajaran pengurus, warga Nahdliyin dari unsur kultural maupun struktural, dari Pengurus Wilayah, Pengurus Cabang, hingga Pengurus Ranting yang hadir memenuhi lokasi.

Sebanyak 210 pengurus PBNU dilantik pada hari ini. Jumlah tersebut bertambah 21 orang dibandingkan periode sebelumnya yang berjumlah 189 orang. Susunan kepengurusan tersebut meliputi jajaran Syuriyah, Mustasyar, A’wan, dan Tanfidziyah.

Prosesi pelantikan ditandai dengan pembacaan Surat Keputusan kepengurusan oleh Ketua Umum PBNU, dilanjutkan dengan pembacaan baiat yang dipimpin langsung oleh Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar.

Usai baiat, Rais Aam menyampaikan amanat penting kepada seluruh pengurus. Beliau mengingatkan bahwa kepengurusan ini adalah kepengurusan pertama di abad kedua Nahdlatul Ulama.

“Ini adalah kepengurusan pertama di abad kedua sebagai awal titik langkah kita bagaimana membuat para muassis bisa tersenyum, bangga melihat kita,” pesan Rais Aam.

Amanat tersebut menjadi pengingat bahwa amanah kepengurusan tidak hanya sebatas menjalankan roda organisasi, tetapi juga meneruskan cita-cita para pendiri NU melalui kerja nyata, keteladanan, dan pengabdian kepada umat, bangsa, dan negara.

Untuk pengurus lembaga dan Badan Otonom (Banom), akan dikukuhkan bersamaan dengan pelaksanaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PBNU mendatang. Hari ini, yang dilantik hanya pengurus harian.

Khidmah NU tidak berhenti pada prosesi pelantikan. Amanah berikutnya adalah bagaimana seluruh pengurus mampu menerjemahkan komitmen tersebut menjadi kerja nyata yang dirasakan manfaatnya oleh warga Nahdliyin dan masyarakat luas.

Catatan Redaksi

Sebelum amanah itu datang, sebelum nama tercatat dalam susunan kepengurusan, ada perjuangan yang diwariskan. Para muassis meletakkan fondasi, menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), merawat tradisi keilmuan.

Warisan itu bukan sekadar untuk dikenang, tapi untuk dihidupkan. Qonun Asasi dijaga, tradisi dirawat, khidmah dilanjutkan. Nahdlatul Ulama kembali ke akar.

Selamat melanjutkan perjuangan.***(IHA)

Baca juga: PBNU Masa Khidmat 2026–2031 Bakal Dilantik 24 Oktober 2026 di Pesantren Al-Hamid Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button