Pitutur Dhuwur Luhur Para Leluhur Bagian Dua

NU CILACAP ONLINE – Urip kudu urub. Hidup harus menyala, hidup. Jangan hidup tapi mati. Ada orang hidup, tapi mati, tidak memberikan manfaat,, baik bagi dirinya sendiri, apalagi bagi orang lain.
Hidup harus bisa urub, bermanfaat bagi dirinya sendiri dan jika perlu juga untuk orang lain. Khoirunnaas anfa’uhum linnaas, sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lain.
Hidup dapat urub, hidup, itu dengan ilmu. Tanpa ilmu, hidup tidak akan urub. Tanpa ilmu hidup akan mati, stagnan,, tidak dinamis, tidak berkembang. Karena berkembang, tumbuh, adalah indikasi bahwa sesuatu itu disebut hidup. Orang yang tidak berilmu atau orang bodoh, diibaratkan seperti orang yang mati. Seperti kata sebuah syair:
أَخُو الْعِلْمِ حَيُّ خَالِدٌ بَعْدَ مَوْتِهِ ۞ وَأَوْصَــــالُهُ تَحْتَ التُّرَابِ رَمِيْـــــمُ
وَذُوالْجَهْلِ مَيْتٌ وَهُوَ يَمْشِى عَلَى الثَّرَى ۞ يُــظَنُّ مِنَ اْلاَحْيَـــاءِ وَهُوَ عَدِيْــمُ
Artinya:
Orang yang berilmu akan tetap hidup setelah matinya walaupun tulang-tulangnya telah hancur di bawah bumi. (Sementara) orang yang bodoh telah mati walaupun masih berjalan di atas bumi, dia menganggap bahwa dirinya hidup padahal sebenarnya dia telah tiada
Orang berilmu, walaupun sudah mati, dia seperti hidup. Namanya hidup abadi, karena dengan ilmunya dahulu, dia bermanfaat bagi orang lain. Bahkan setelah matinya pun, dia bisa “memberi kehidupan” bagi orang-orang yang masih hidup. Contohnya adalah para wali. Namanya tetap hidup di ingatan dan hati masyarakat. Kuburnya banyak diziarahi, dan membuat perekonomian masyarakat di tempat kuburnya, tumbuh serta berkembang sejahtera. Inilah makna, urip kudu urub.
Orang yang bodoh juga ibarat ikan yang sudah mati. Ia tergantung kepada lingkungannya. Ikan yang mati di laut akan ikut asin, tetapi jika dia hidup, ikan itu akan tetap terasa tawar.
Hidup itu harus nampak terlihat. Orang bisa terlihat dan dilihat juga karena ilmu. Orang mau melihat, sebab ada sesuatu keindahan yang terpancar. Keindahan itu bersumber kepada ilmu dan amal atau akhlak, moralitas.
– ilmu dapat menjadi hiasan bagi pemiliknya.
– khoirunnaas ahsanuhum khuloqon.
Ada suatu untaian mutiara hikmah yang indah:
– dengan agama, hidup menjadi terarah
– dengan ilmu hidup menjadi mudah
– dengan seni hidup menjadi indah.
Urip kadya ancik-ancik pucuking eri
Realitas kehidupan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Fakta kehidupan juga tidak menyajikan pola hitam putih. Hidup itu penuh disparitas dan ambiguitas serta jarak antara das-wollen, das sollen, dengan das sein.
Untuk menggambarkan kehidupan yang tidak mudah, seorang bijak berkata, sepanjang bayi masih lahir dengan menangis, sepanjang itu pula hidup manusia berada dalam kepungan penderitaan. Jika bayi lahir dengan tertawa, barulah manusia berharap bahwa hidup akan dipenuhi dengan kebahagiaan.
Kitab suci seperti Quran, banyak menyajikan narasi tentang ujian bagi manusia, dengan berbagai ujian yang bisa membuatnya menderita. Seperti kekurangan pangan, bahkan kematian jiwa. Tetapi itu semua adalah ujian bagi sebuah keimanan. Tuhan tidak begitu saja percaya akan klaim keimanan, sebelum Dia mengujinya.
اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ
Dalam dunia keimanan kristen, Yesus bahkan kematiannya diuji di tiang salib. Suatu ujian yang berat. Sebab kematian itu sendiri ujian, ditambahkan lagi dengan kematian di tiang salib.
Usman bin Affan, wafat, dengan darah yang membasahi tubuh, jenggot, dan musaf Quran yang sedang dibacanya. Ia adalah korban fitnah politik yang membunuh dan mengakhiri hidupnya.
Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Umar bin Abdul Aziz, atau pun Socrates, semua wafat dengan cara-cara yang secara kasat mata, sangat tragis.
Jadi, hidup itu tidak mudah. Jika hidup mudah, maka tidak ada istilah perjuangan hidup. Yang namanya berjuang, tentu membutuhkan pengorbanan, baik pikiran, tenaga, waktu, tempat, bahkan darah dan nyawa. Itulah mengapa, Tuhan mengatakan bahwa setiap ujian itu untuk membuktikan siapa sesungguhnya yang benar-benar menjadi seorang mujahid.
Kita juga tidak boleh berpikir bahwa hidup dari waktu ke waktu akan mudah, walau zaman semakin maju, dan teknologi semakin canggih. Kemajuan zaman ini justru membuat hidup semakin ruwet dan tidak mudah.
Pergaulan semakin luas. Interaksi semakin rigid. Pergumulan budaya semakin intens, dan konflik semakin meluas dan terbuka.
Hidup tidak sesederhana masa lalu. Manusia banyak mengalami dilema. Margaret Mead dalam buku, Culture and Comitment, the Study of Generation Gap, menyebut masyarakat berada di era pre figurative yang penuh kegoncangan dan pertentangan antar nilai.
Ronggowarsito, menyebutnya, zaman edan. Yaitu zaman ketika manusia berada di berbagai persimpangan jalan. Sebagaimana ditulis dalam syairnya:
Amenangi jaman edan
Ewuhaya ing pambudi
Melu edan ora tahan
Lamon tan melu anglakoni
Baya kaduman melik
Kaliren wekasanipun
Ndilalah kersa Allah
Begja begjane kang lali
Isih begja kang eling lawan waspada.
Pertentangan antar berbagai nilai kehidupan dan kepentingan membuat hidup itu menjadi sulit. Termasuk di kantor-kantor dan tempat kerja, bahkan dalam kehidupan rumah tangga. Ronggowarsito menyebhtnya ewuhaya ing pambudi. Serba dilematis, beguni salah begitu salah. Seperti makan buah simalakama.
Ndugal Keturutan
Namun dalam hidup yang serba sulit itu kadang ditemui juga orang yang nampak kehidupannya serba mudah. Segala keinginannya terpenuhi, semua cita-citanya tercapai. Lahir sempurna, menjadi anaknya orang kaya, pejabat dan berpangkat, sehingga hidupnya terhormat. Begitu muda, hidupnya foya-foya, bersenang senang. Tuanya kaya raya, dan mati masuk syurga. Orang jawa bilang, ndugal keturutan. Dalam lakon kehidupan, selalu ada saja ilustrasi orang semacam itu, namun tidak banyak. Hal ini kemudian sering membuat banyak orang menjadi iri, sehingga menyesali nasibnya yang diuji dengan kekurangan.
Urip Sakderma Nglakoni
Urip sakderma nglakoni adalah cara pandang orang jawa, dan merupakan refleksi dari kesadaran theologis yang amat mendalam. Hidup bagaikan wayang yang dimainkan ki dalang. Gusti Alloh adalah dalang kehidupan,. Apa yang akan Dia lakukan terhadap manusia, ya suka suka Dia serta tidak ada yang dapat menghalangi. Fa’alun liiman yuriidi.
Sehingga kesadaran theologis tadi menciptakan kepasrahan bagi manusia, ridlo terhadap qodlo dan qodar, apa pun yang terjadi. Sabar Narimo. Ajaran-ajaran ini memberi kesan bahwa manusia itu bersifat fatalistik. Dalam istilah ilmu kalam, masuk katagori jabariyah. Semakin mendalam keimanan seseorang,, maka dia semakin pasrah dan sumarah, rela dan ridlo ( fatalistik) terhadap apa yang telah diperbuat Tuhan terhadap alam semesta dan seisinya.
Bisa rumangsa aja rumangsa bisa
Diksi ini sering disampaikan mendiang Pak Harto,, ketika bertemu dengan rakyatnya. Ini adalah ajaran leluhur agar kita bersikap rendah hati, tidak jumawa dan takabur.
Ajaran ini juga dapat direduksi, agar kita tidak dengki terhadap apa yang dicapai orang lain, terutama terkait dengan kedudukan dan jabatan.
Bisa rumangsa, dapat diartikan sebagai sebuah kesadaran,, sadar diri, sadar rai. Dengan cara instropeksi akan kemampuan dan kesanggupan diri. Jika kita mendapati suatu kesalahan dan kekeliruan seseorang dalam jabatan atau kedudukan, kita pun akan berpikir, bahwa diri kita juga belum tentu bisa melakukannya. Dengan kesadaran ini kiita menjadi tidak mudah secara tergesa-gesa menghakimi kesalahan orang lain, mendahului keputusan hakim yang inkrah. Kita harus berpikir bahwa suatu kesalaha dan kelemahan bisa terjadi kepada siapa saja.
Rai gedhek, kuping gajah, kulit warak
Rai gedhek, adalah cermin orang yang sudah tidak punya rasa malu. Dalam hal keburukan. Walaupun dirinya bersalah, tetap bisa percaya diri, bahkan mungkin menganggap dirinya benar. Orang model begini biasanya tipe penjilat, yang sering menampakan diri kepada orang yang ingin dijilat. Dia tidak peduli terhadap kritik orang lain. Rai gedhek adalah gambaran orang yang sudah ndableg.
Kuping gajah, yaitu orang yang tidak mau mendengarkan kebenaran yang disampaikan atau didengar dari orang lain. Yang didengar adalah setiap sesuatu yang cocok dengan nafsu dan keinginannya,
Kulit warak, atau badak, itu tebal, sehingga istilah ini menggambarkan orang yang sudah tidak punya rasa terhadap keadaan dan orang yang ada di sekelilingnya. Kulit badak tidak mempunyai sense of crissis, sense of responcibility, atau sense of belonging.
Nek landhep ora natuni
Adalah kata-kata yang keluar dari mulut orang yang bijaksana. Ucapan, lidah, mulut, itu sesuatu yang bisa sangat tajam. Orang bisa mudah terluka oleh sebuah kata-kata. Sebuah syair mengatakan,
Mlesete lesan nekakno mbalang endhas
Dene mlesete sikil wesuwe biso waras.
Ada juga ungkapan dalam bahasa arab yang mengatakan, salamatun insan bihifdzil lisan. Selamatnya manusia, karena menjaga lisannya.
Sebuah hadis Nabi SAW mengatakan, tidaklah beriman seseorang, sehingga tetangganya selamat dari lisannya.
Ini semua menggambarkan betapa tajamnya lisan itu. Hanya ucapan orang-orang bijak saia yang keluar sebagai hikmah, bukan untuk melukai.
Nek banter aja mbanteri
Ini adalah gambaran orang pinter, tetapi tidak keminter. Ilmu yang dimilikinya bukan untuk dipamerkan, atau untuk menjatuhkan orang lain. Ilmu dan kepinterannya dipandang sebagai alat untuk memperoleh kebaikan, merawat ahlakul karimah, dan membuatnya rendah hati. Ibarat kata pepatah, bagai ilmu padi. Semakin merunduk, semakin berisi.
Masih banyak sekali contoh-contoh pitutur luhur para leluhur yang mencerminkan dalam dan lamanya proses internalisasi ajaran falsafah dan agama. Hanya saja para leluhur itu, mengemasnya dalam bentuk-bentuk dalil, yang dapat menimbulkan distance dan apriori dari masyarakat. Saat itu tentunya. ***
Penulis : Toufik Imtikhani; Warga NU pinggiran