Kesederhanaan Sebagai Integritas Moral
Oleh: Toufik Imtikhani*)

NU CILACAP ONLINE – Beberap tahun yang lalu, tapi masih ingat, saya bersama istri sedang naik mobil, mobil aerio tahun 2004. Mobil out of date. Padahal saya bekerja sudah 33 tahun. Hidup tanpa warisan, dan hanya bekerja sebagai staf biasa, tidak pernah indisipliner, dalam kondite baik, Pangkat juga sudah mentok lama, IIID. Dan sebentar lagi insya Alloh pensiun.
Kembali ke cerita perjalanan. Sampai di dekat terminal, lampu lalu lintas menyala merah. Mobil aerioku berhenti. Seorang laki-laki tua mengetuk kaca samping supir menawarkan dagangan pisang. Saya melihat pembatas jalan searah tempat laki-laki tua itu mangkal. Memang ada beberapa tandan pisang yang sudah masak. Mungkin saya adalah konsumen ke-sekian yang ditawari.
Kaca mobil saya buka, sambil mengulurkan uang Rp. 20 ribu. Ini untuk Bapak saja. Pisang bisa dijual lagi, Pak. Saya berkata demikian.
Saya berjualan, Mas, bukan mengemis. Kata bapak tua itu sambil menolak uang pemberianku. Lampu merah kemudian menyala hijau. Saya terus berjalan meninggalkan laki-laki tua itu terus berjuang hidup di kerasnya zaman.
*
Tetapi, pikiranku terus membayangkan kata-kata lelaki tua itu. Saya berjualan, Mas, bukan mengemis. Hari gini masih ada orang susah, yang menjaga harga dirinya, daripada melacurkan diri dengan menerima penberian orang selama dirinya masih bisa bekerja. Apalagi meminta-minta. Kan bisa saja bapak tua tadi menerima uang dari saya, kemudian pisangnya dijual ke orang lain, sehingga mendapatkan rezeki yang berlipat ganda?
Tapi laki-laki tua yang kira-kira berumur 70 tahun itu menolak uang dari saya. Sebab pada konteks waktu tersebut dia sedang berjualan.
Saya jadi teringat hadist Nabi Muhammad SAW, yang bersalaman dengan orang yang tangannya kasar karena bekerja. Beliau bersabda, tangan inilah yang terbebas dari api neraka.
Nabi SAW juga melarang untuk meminta-minta ( mengemis)
مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ.
Barang siapa meminta-minta kepada orang lain tanpa adanya kebutuhan, maka seolah-olah ia memakan bara api.
*
Sulit membayangkan, ada orang tua, hidup susah, tapi menahan diri dari mengharap belas kasih orang. Bahkan diberi pun dia menolak karena sedang berdagang.
Padahal secara umum, masyarakat kita sedang kurang sehat. Kemiskinan meningkat, pengangguran bertambah. Harga-harga kebutuhan melonjak.
Pemerintah pun melakukan pendekatan sesaat untuk mengatasi persoalan pangan, tepatnya masalah ekonomi. Pemerintah meluncurkan program jaring pengaman sosial, melalui berbagai meksnisme, baik bantuan sembako atau tunai. Berjuta-juta orang mengharapkan bantuan dan mendaftarkan diri dengan mengaku sebagai kelompok masyarakat miskin. Dan ini kenyataan faktual yang dijumpai di masyarakat. Jika nama mereka tidak masuk daftar penerima bantuan, mereka marah kepada Ketua RT atau RW.
Lembaga-lembaga filantropi pun giat melakukan penggalangan dana untuk bantuan sosial. Lembaga yang berbasis agama juga melakukan optimalisasi pungutan zakat, infaq dan sedekah. Program-program peningkatan kesejahteraan di luncurkan, baik berupa bantuan sembako, pasar murah, hingga bedah rumah.
Para aghniya pun tak mau kalah dengan pemerintah atau lembaga-lembaga keagamaan. Para aghiya secara pribadi mengumpulkan orang-orang dan membagikan sedekah atau uang. Momen ini selalu disambut antausias oleh masyarakat, dan seringkali menimbulkan insiden kerumunan dan kekacauan.
Para pelaku usaha juga ikut memanfaatkan situasi yang sulit ini. Mereka seolah mengobral barang dagangan dengan mode discount. Pasar-pasar dan supermarket diserbu para ibu karena menjanjikan harga murah dan barang yang berkualitas.
*
Namun, di sudut kota yang sunyi, masih ada orang yang kaya hati. Kaya harga diri. Bukan gengsi. Selama masih bisa mencukupi kebutuhan hidup dengan bekerja, mereka tetap fokus untuk bekerja, bukan berpangku tangan mengharap.
Pernah juga, penulis jumpai, seorang tukang becak. Saat itu, profesi ojol atau grab belum ada. Becak masih cukup ramai.
Tukang becak ini mempunyai anak yang sekolah di taman kanak-kanak. Yayasan menginisiasi, sebab anak tukang becak, maka diberi keringanan untuk tidak membayar SPP satu tahun. Apa yang terjadi kemudian?
Bapaknya anak, ya si tukang becak itu datang ke sekolah, dan membayar SPP anaknya langsung selama satu tahun, cash.
Hal ini tentu mengherankan. Disaat banyak orang menaruh harapan kepada berbagai bantuan, masih ada orang-orang yang menjaga integritas moral. Dirinya terlalu mahal untuk dibeli, apalagi oleh bantuan-bantuan yang sifatnya politis. Mereka mungkin saja masih memegang prinsip tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah.
Penulis: Toufik Imtikhani