Esai Opini Wawasan

Testimoni Covid-19, Dari Ilmu Sampai Lelaku (Satu Kesaksian)

Coronavirus Disease 2019 (covid-19) atau akrab disebut dengan corona telah menghilangkan begitu banyak nyawa sejak pertama kali kemunculannya pada akhir 2019 silam. Namun  begitu masih saja ada yang tidak mempercayainya dan menganggapnya sebagai sebuah konspirasi belaka. Melihat fenomena ini, Kordinator NU Marginal Forum Cilacap Taufik Imtihani tergerak untuk berbagi Testimoni Covid-19 atau pengalaman dan kesaksian pribadinya saat dirinya dan keluarganya dinyatakan positif terkonfirmasi covid-19. Berikut ulasannya.

Dalam hal ilmu agama, hendaknya sedikitlah kita bertawadlu kepada para kiai, walau kita mengetahui satu dua hal tentang agama. Para kiai berarti mengandung pengertian kolektif, ijma’i, jumhur atau mayoritas. Terutama dalam hal fatwa. Karena kita saat ini sulit menemukan figur mujtahid dan mujadid seperti para imam madzhab yang empat.

Jadi, kita harus berpegangan kepada fatwa yang bersifat kolektif-kolegial dari para kiai dan ulama kita. Di sini ada MUI, NU, atau Muhammadiyah yang merupakan representasi umat Islam secara keseluruhan. Bukan kepada fatwa-fatwa yang bersifat pribadi, karena tingkat kesalahannya tentu sangat lebih besar.

Dalam ilmu kesehatan, sedikitlah kita tawadlu kepada para dokter kita, yang berada pada lembaga-lembaga pemerintah, walau kita tahu satu dua hal tentang kesehatan. Pendapat para dokter yang bersifat kolektif-kolegial tentang suatu wabah, tentu didasari atas kepentingan politik pemerintah, untuk kemaslahatan rakyat, bukan pendapat dokter-dokter secara pribadi yang mungkin mewakili kepentingan politik dan bisnis kelompok tertentu.

Taat kepada pemerintah, atau ormas tempat kita bernaung, jam’iyyah, adalah kewajiban kita.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (Annisa: 59)

Orang awam, dalam hal ilmu, wajib ittiba’ atau taqlid kepada orang alim, dalam segi keilmuan tertentu. Dalam hal agama, kita tunduk kepada para ulama. Dalam bidang kedokteran, kita tunduk kepada dokter.

Ulama tunduk kepada aturan-aturan syariat, dokter tunduk kepada sumpah dan kode etik profesi serta aturan organisasi.

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya Yang Takut Kepada Allah Diantara Hamba-Hambanya Adalah Mereka Para Ulama” (Alfatir: 28)

Ulama juga al warasyatul an-biya, yang di dalam dirinya mengalir sifat-sifat Nabi, yaitu sidiq, amanah, fathonah, dan tabligh, yang tentu dalam kadar yang berbeda. Tapi jika ulama itu berkumpul dalam organisasi, yang satu dapat saling menyempurnakan yang lain.

Dalam konteks wabah covid-19, yang menjadi masalah nasional, kita harus tunduk kepada kesepakatan para ulama dan pemerintah tentang protokol kesehatan sampai pengaturan secara detail tata cara ibadah di era pandemi. Ini saya kira sudah mewakili konsensus nasional yang valid dan komprehensif, dari berbagai tinjauan ilmu, dengan satu tujuan, mendahulukan keselamatan rakyat.

Kita tidak boleh tunduk dan ikut pernyataan-pernyataan yang bersifat pribadi, orang per orang, yang bebas tidak terikat kepada aturan profesi atau organisasi karena ini sulit untuk dipertanggung jawabkan.

Sebagai orang awam, saya tunduk terhadap ketentuan para alim Ulama dan para pemimpin kita. Namun, berita hoaks, dan beredarnya fatwa-fatwa yang bersifat pribadi, dengan didukung media sosial serta endors politik bisnis-kuasa, bisa mempengaruhi kepercayaan publik terhadap ikhtiar pemerintah. Hoaks itu sangat masif membombardir social equilibrium dan self-control masyarakat.

Baca Artikel Terkait

Testimoni Covid-19, Corona Itu Ada

Di tengah kebimbangan tersebut, di sholat tengah malam, terselip doa, semata-mata ingin memperkuat hujjah saya tentang eksistensi covid-19. Karena masih saja ada orang yang tidak percaya akan adanya corona. Saya memohon kepada Rabb yang menciptakan seluruh alam raya, untuk memberitahu apakah corona itu ada atau tidak.

Kejadian ini kurang lebih awal Juli. Melalui sholat malam itulah saya mendapatkan petunjuk melalui mimpi bahwa corona itu ada. Digambarkan dalam mimpi ada sebuah lorong yang bundar, yang dipenuhi oleh gumpalan-gumpalan putih yang licin. Terlihat orang yang berjalan di lorong itu pasti akan terpeleset karena gumpalan yang berwarna putih tersebut. Saya menakwili bahwa lorong bundar itu adalah tenggorokan/kerongkongan manusia. Dan gumpalan putih itu merupakan corona.

Dan di minggu terakhir bulan Juli ini, saya dinyatakan positif covid, melalui tes Swab PCR, dengan gejala sakit kepala, batuk, demam, dan lemas. Tuhan mengabulkan doaku. Dia menunjukkan dengan bukti yang nyata, bahwa corona itu ada.

Saya yang tunduk kepada ilmu para ulama, taat kepada aturan pemerintah, percaya adanya corona, ditakdirkan terkena wabah ini beserta seorang anakku dan istri. Saya melihatnya sebagai ujian dan juga petunjuk, untuk tidak meremehkan ilmunya orang-orang berilmu.

Jika anda tidak percaya corona, dan kebetulan tidak terkena bagian dari wabah ini, mungkin sebaiknya jangan jumawa dahulu, karena barangkali anda berada jauh dari petunjuk tentang ilmunya para alim dan ketaatan kepada pemerintah, suatu hal kewajiban yang harus kita jalani dalam bernegara. Artinya, anda menuai dosa dari masalah ini.*

* Artikel berjudul Testimoni Covid-19, dari Ilmu sampai Lelaku ditulis oleh Toufik Imtikhani Kordinator NU Marginal Forum Cilacap.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button