Ranting NU

Sarasehan Ranting NU Gumilir: Dua Konsep “Jihad” Milenial

Sarasehan Ranting NU Gumilir mengungkap dua konsep “jihad” dengan penuh totalitas, untuk menjaga kekuatan NU ranah paling bawah termasuk juga kalangan kaum milenial NU. Demikian ungkap Ketua Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Gumilir Cilacap Utara Kiai Sakirin.

Kiai Sakirin menyampaikan dua konsep “jihad” yang harus dimiliki oleh mereka sebagai kader NU Milenial, dalam acara rapat Rutin yang dikemas dalam sarasehan Bersama Banom Ranting NU Gumilir.

“Jihad dalam perspektif saya ialah jitu dan harus nekad (tekad yang kuat, red), atau “jihad”. Pengurus NU yang masih muda atau kaum melinial ini harus memiliki 2 konsep tersebut,” katanya.

Kiai Sakirin menjelaskan jitu dalam hal ini yakni jeli melihat permasalahan atau tantangan masa depan; mampu mencari solusi dan jitu dalam mengimplementasikannya.

“Jika dulu jihad hanya melawan penjajah bangsa, tapi sekarang harus bisa melawan dua musuh terbesar masyarakat yakni kebodohan dan kemiskinan,” ungkap beliau.

Kebodohan di sini bukan hanya untuk orang yang tidak memiliki pangkat. Sebab tidak menutup kemungkinan orang yang berpangkat pun juga termasuk kategori bodoh, seperti halnya hoaxs yang mudah mempengaruhinya.

“Tugas untuk mengatasi kebodohan itu tugas kita. Dan itu sudah menjadi kewajiban kita untuk mengatasinya,” tegasnya.

Milenial NU Mengikuti Zaman

Hal senada diungkap oleh Hermanto, Bendahara Unit Pengelola Zakat Infaq dan Shadaqah (UPZIS) Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Cilacap Utara. Ia pun menambahkan, kaum milenial harus nekad untuk memulai sesuatu.

“Milenial tidak selayaknya menjadi safety player. Sebab dengan nekad yang kuat, milenial bisa mencoba banyak inovasi baru, terobosan baru dan hasil yang baru,” ujarnya.

Hermanto beralasan zaman terus berubah seiring bergantinya waktu. Kaum milenial harus mampu mengikuti perkembangan agar tidak tergilis oleh zaman. Ranting NU juga mempunyai peran aktif dalam mengikuti zaman, seperti banyaknya organisasi – organisasi saat ini menyesuaikan dengan perubahan zaman.

“Oleh karena itu NU melalui Program KOIN harus bekerjasama antar Banom NU. Di tingkatan Ranting harus mulai berfikir science, economy, digitalisasi,” sambungnya.

“IPNU-IPPNU, Ansor, Fatayat NU, merupakan masa-masa muda yang harus disyukuri dan dirayakan. Dirayakan dalam arti bisa membuat perubahan. Dsyukuri dengan pergerakan yang tertata dan terarah. Untuk itu di tahun 2022 harus ada perubahan, tangtangan ke depan lebih komplek,” lanjutnya.

Selanjutnya, Hermanto meminta agar seluruh Banom NU merancang program yang berkolaborasi dengan KOIN NU. Program meliputi penguatan kelembagaan, kesehatan, pendidikan dan kemandirian ekonomi. Oleh karenanya, santri NU milenial harus memiliki tendensi untuk berinovasi dalam perkembangan zaman.

“Kaum NU milenial harus mampu menjadi pemain bukan penonton, menjadi kontributor ekonomi serta produsen Informasi dan mampu memanfaatkan teknologi sebaik-baiknya,” tandasnya.

Kontributor : Hermanto
Editor : Naeli Rokhmah

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button