Ranting NU

Ranting NU Bumireja Rutinan Ahad Pon Di Masjid Tertua

Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (NU) Bumireja Kedungreja Cilacap kembali menggelar Pengajian Rutinan Ahad Pon dan kali ini mengambil tempat di Masjid Miftahul Huda, sebuah Masjid tertua di Desa Bumireja tersebut, Ahad (02/01).

Pengajian setiap selapanan sekali tersebut secara rutin yang mengambil tempat di Masjid dan Mushalla secara bergiliran di wilayah Desa Bumireja.

Ketua Tanfidziyah Ranting NU Bumireja Kiai Sirojudin mengungkapkan, kegiatan pengajin rutinan Ranting NU adalah agar para pengurus NU khususnya; dan juga umumnya warga Nahdliyin, dapat bergerak aktif dalam berorganisasi.

“Melalui pengajian rutinan, kekompakan dan kebersamaan dapat terus terbina dan meningkat tahap demi tahap; untuk tetap terlaksananya kegiatan pengajian rutinan secara istiqomah.” katanya.

Kiai Sirojudin menambahkan, kita akan merasakan betapa nikmatnya hidup rukun dalam sebuah perbedaan yang terbingkai atas dasar ukhuwah Islamiyah.

Artikel Terkait

Imam Masjid Miftahul Huda KH Mustofa dalam sambutannya menyampaikan bahwa NU zaman dulu dengan NU sekarang berbeda. NU sekarang sudah semakin kepenak karena apa? Karena organisasi NU sudah semakin meningkat dalam melayani kebutuhan masyarakat.

KH Mustofa mencontohkan, sekarang orang meninggal dunia sudah tidak susah payah lagi untuk ditandu diantarkan ke pemakaman. Karena sekarang sudah ada mobil layanan jenazah.

“Cukup lapor ke pengurus NU saja, mobil selalu siap dan gratis, ini adalah berkat kita semua yang selalu istiqomah dalam berinfaq di lNU Care Lazisnu melalui Gerakan Koin NU Cilacap (Gocap),” kata KH Mustofa.

Ranting NU Bumireja

Sementara itu, Kepala Desa Bumireja Bambang menyampaikan ucapan terima kasih kepada pengurus NU Ranting Bumireja karena dapat bersinergi bersama pemerintahan Desa.

Pengurus Ranting NU Bumireja telah tebukti memberikan andil besar bagi Desa; dalam menjaga kenyamanan dan keamanan, misalnya. Serta mampu berjalan bersama dalam mensukseskan vaksinasi yang berada di Desa Bumireja,” katanya

Kepala Desa Bumireja berharap NU kedepan akan lebih jaya lagi dan bisa menjadi contoh untuk semua orang. Dia juga berharap di Desa bumireja semua warganya menjadi warga NU.

Dalam kesempatan pengajian rutinan Ahad Pon ini KH Ahmad Taufikin Soleh Rais Syuriyah MWCNU Kedungreja; menyampaikan atau bercerita tentang sejarah NU di Desa Bumireja dan Masjid Miftahul Huda.

Perkembangan NU di wilayah Kecamatan Kedungreja merupakan bagian dari hasil kesemangatan pengurus NU di Desa Bumireja sejak sekitar tahun 1970 an. Bagi KH Ahmad Taufikin, Pengurus NU Desa Bumireja adalah contoh bukti kesemangatan dalam berjuang, karena dahulu sebelum ada Drum Band atau Kentongan, NU Bumireja sudah memiliki.

Lebih lanjut, KH Ahmad Taufikin menjelaskan, NU Bumireja juga melahirkan sosok “singa podium” yakni KH Mafakhir.

‘Pada zamannya, KH Mafakhir adalah orator dan juru dakwah yang sangat disegani oleh masyarakat. Beliau adalah ayah dari Ketua Tanfidzyiah PRNU Bumireja Kiai Sirojudin. Sehingga wajar saja ketika orang orang menyebut Kiai Sirojudin mewarisi semangat ayahnya; tegas dan pemberani,” katanya.

Masjid Tertua

Di Desa Bumireja Kecamatan Kedungreja Kabupaten Cilacap terdapat Masjid Miftahul Huda yang diyakini sebagai Masjid tertua di desa tersebut.

Lewat Masjid ini, lanjut KH Ahmad Taufikin menelaskan, bukti sejarah peradaban NU di Desa Bumireja begitu kuat tertanam; mensyiarkan Paham Ahlussunah Wal Jamaah An Nahdiyah. Masjid tertua ini di rintis oleh Al Mukarom KH Abu Nasir Malik. Beliau adalah santri dari Pondok Pesantren Al Ihya Ulumaddin Kesugihan Cilacap.

Tidak hanya mendirikan Masjid saja, beliau juga merintis dan menjadi muasis pondok pesantren Miftahul Ulum. Saat ini bangunan pondok pesantren digunakan untuk santri mengaji TPQ dalam asuhan KH Mustofa.

Pengajian Rutinan Ahad Pon Ranting NU Bumireja melibatkan kaum ibu atau para istri pengurus NU. Selain pengajian, juga melaksanakan pembacaan Sholawat Al Barjanzi dan Istighitsah. Bertindak sekalu Imam Istighotsah, Kiai Dalail Kherot, Mustasyar PRNU Bumireja.

Kontributor: Anas Mubarok
Editor: Munawar AM

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

20 + fourteen =

Baca Artiikel Rekomendasi Lainnya
Close
Back to top button