Esai Opini Wawasan

Qurban, Sebuah Refleksi

Agama mengajarkan kita itu untuk memberi, bukan untuk mengharap diberi. Tangan di atas tentu lebih mulia dari tangan di bawah. Hal ini menjadi refleksi dari perintah untuk berkurban. Lantas di manakah kita akan memposisikan diri, sebagai yang berkurban atau justru sebagai penerima kurban?

Ketika sebuah pusat perbelanjaan menggelar diskon, maka beramai-ramailah masyarakat berbondong-bondong untuk membeli barang murah. Apalagi kalau ada pusat perbelanjaan yang bangkrut, hampir pasti diserbu masyarakat. Contoh terakhir pada waktu penutupan Giant Super Market yang pailit. Masyarakat menyerbu dengan tak mengingat lagi di masa apa sekarang mereka hidup. Masa pandemi. Tapi itulah masyarakat kita.

Dulu pun sering kita dengar, kerumunan dan desak-desakkan yang tidak manusiawi, seperti pembagian zakat, infaq, sodaqoh dll. Semua menimbulkan pemandangan yang tidak sedap.

Intinya, masyarakat kita selalu fokus kepada istilah-istilah diskon, gratis, bantuan, infaq, sodaqoh, sampai kepada masalah zakat. Pasti kelompok kegiatan ini mengundang antausiasme masyarakat.

Persoalan sesungguhnya bukan terjadi kepada rendahnya pendapatan masyarakat. Tapi mungkin sebagian iya. Artinya, kemiskinan ekonomi bukanlah faktor tunggal sehingga masyarakat menyerbu aktifitas diskon, gratis,bantuan, infaq,sodaqoh, hingga zakat. Bukan. Kita lihat kebanyakan mereka cukup, saya katakan cukup berada. Punya kendaraan bermotor, bergelang dan berkalung emas, serta berpakaian yang fashionable.

Semua menunjukkan kelas sosial-ekonomi yang baik. Bahkan didapati rumah yang cukup bagus, berkeramik, berinterior indah serta perabotan yang cukup mahal. Tapi jika persoalan diskon,bantuan, gratis, infaq, sodaqoh dan seterusnya, Kelompok ini pasti ambil bagian sebagai peserta.

Sebentar lagi, datang Hari Raya Qurban. Pastilah sejak pagi banyak masyarakat berharap memperoleh daging qurban dan berdesak-desakan untuk yang pertama memperoleh pembagian daging. Syukur-syukur dapat memperoleh yang banyak.

Di saat datang momentum yang tepat untuk memberi, mereka justru berlomba-lomba untuk “mendapatkan”. Pada saat perintah Allah telah jelas, dirikanlah sholat dan berqurbanlah, mereka justru mengais-ais dari serpihan-serpihan pengorbanan orang lain.

Padahal telah jelas pula, lan tanalul birra khattaa tunfiquu mimmaa tuhibbuun. “Tidaklah engkau sampai kepada kemulyaan, sehingga engkau menginfaqkan sesuatu yang paling kamu cintai.” Inilah pengorbanan, pemberian, bukan menerima atau mendapatkan.

Pokok persoalanya itu terletak kepada kemiskinan harga diri. Harga diri saat ini menjadi barang yang langka, karena awalnya dianggap tidak penting. Masyarakat menganggap bahwa kemakmuran ekonomi itulah satu-satunya tujuan hidup, sehingga apapun ditempuh untuk memperolehnya.

Agama mengajarkan kita itu untuk memberi, bukan untuk mengharap diberi. Tangan di atas tentu lebih mulia dari tangan di bawah. Dalam syariat zakat sesungguhnya tersimpan suatu perintah agar kita menjadi orang yang mampu untuk memberi kepada orang yang membutuhkan, bukan yang mengharap untuk diberi. Jika kita mampu untuk memberi, berarti kita orang yang kaya. Kaya Hati, kaya harta, kaya keberkahan, dan kaya harga diri.

Adapun mereka yang selalu meminta, selalu mengharap pemberian, adalah orang-orang yang faqir sesungguhnya.*

Topik Imtihani

Pojok Lapas Cilacap.
Penulis adalah anggota NU Marginal Forum Cilacap

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

2 × 1 =

Back to top button