Lembaga NU

NU Cilacap Peduli Bakal Gelar Simulasi Bencana Tsunami

NU Cilacap Peduli bakal menggelar simulasi penanggulangan bencana tsunami pada pertengahan September mendatang. Keputusan ini diambil berdasarkan hasil mufakat dalam rapat tim NU Cilacap Peduli dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap pada Sabtu (13/8/2022) lalu.

Dikonfirmasi NU Cilacap Online Ketua NU Cilacap Peduli, H Yusro menyampaikan pentingnya simulasi penanggulangan tsunami setelah adanya laporan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahwa Cilacap berpotensi tsunami.

“Kenapa NU Cilacap Peduli serius menangani ini? Karena Cilacap termasuk wilayah yang berpotensi tsunami. Karena Kita menyadari bahwa warga Cilacap mayoritas adalah warga nahdliyin, maka dari itu NU Cilacap Peduli hadir. Jadi saat terjadi tsunami kita sudah siap,” ungkap Yusro (15/8/2022).

Simulasi penanggulangan bencana tsunami akan dilaksanakan pada minggu kedua September. Adapun tempatnya di Desa Welahan, Kecamatan Adipala. Dalam kegiatan tersebut menurut Yusro akan melibatkan beberapa pihak terkait.

“Kegiatan ini akan melibatkan NU Cilacap Peduli, BPBD Cilacap, Forkopimcam Adipala, Kodim 0703 Cilacap, Polres Cilacap, dan Pemerintah Desa Welahan Adipala,” terang Yusro.

Pelaku utama simulasi adalah warga dusun 03 Desa Welahan. Dari keseluruhan jumlah warga 2000 jiwa diambil 150 orang sebagai aktor yang nantinya akan mewakili keadaan warga secara keseluruhan.  Semuanya berada di zona merah bencana tsunami.

Baca Juga

Teknis Pelaksanaan Simulasi

Sementara saat rapat persiapan, Ketua BPBD Cilacap Gatot Arif menyampaikan beberapa poin penting yang harus disiapkan. Di antaranya adalah skenario yang dibuat mendekati ada bencana betulan. Selanjutnya adalah pendamping akan mendampingi pelaku utama ketika menyelamatkan diri. Pendamping ini bisa dari unsur Banser atau TNI atau yang lainnya. Selanjutnya pencatat, petugas pencatat ditunjuk oleh BPBD dan NU Peduli.

“Pelaku utama lebih banyak lebih baik untuk dilibatkan dalam simulasi. Titik start simulasi dimulai dari PAUD dan berakhir di MI Ya Bakii Welahan,” terang Gatot Arif.

Gatot Arif menyampaikan fakta  bahwa panjang zona merah paling selatan ke zona hijau jaraknya 2,5 KM.  Ia pun merekomendasikan titik start untuk simulasi diambil dari yang lebih dekat dengan bibir pantai.

Sosialisasi teknis kegiatan simulasi (Pra dari kegiatan simulasi) dibagi tiap dusun dengan target semakin banyak orang yang mendapat informasi tentang kesiapsiagaan bencana tsunami. Mengingat jumlah penduduk di Desa Welahan totalnya diangka 4000 jiwa, sehingga seharusnya lebih banyak yang terpapar tentang informasi ini.

Dari hasil susur jalur, dari PAUD sampai MI Ya Bakii jaraknya kurang lebih 1,1 KM, waktu yang dibutuhkan 15 menit. Golden Time yang ada untuk menyelamatkan diri dari zona merah ke zona hijau dengan asumsi 2,5 Km adalah 20 menit. Jika hanya melakukan simulasi dengan jarak 1,1 KM, maka golden timenya dipersingkat menjadi 10 Menit.

Sementara Direktur NU Care LAZISNU Cilacap, Ahmad Fauzi, mengatakan pihaknya sebagai bagian dari NU Cilacap Peduli siap untuk ikut serta dalam kegiatan. LAZISNU sekaligus mensupport dalam hal pendanaan dan logistik untuk kegiatan pelatihan mitigasi bencana, simulasi penanggulangan bencana gempa bumi dan tsunami hingga penanganan bencana alam mulai dari rescue hingga recovery.

“Dalam situasi bencana, kita harus bersatu dan saling membantu. Jangan lagi berpikir kalau kita yang paling hebat. Jangan pula berpikir tugas kita hanya ini, di luar itu bukan tugas kita. Tugas untuk kita semua adalah menyelamatkan masyarakat yang rentan dan terdampak. Edukasi bencana sangat perlu dilakukan sebagai pembelajaran dan perkenalan awal pada mitigasi bencana,” ujar Fauzi.

Diharapkan dengan simulasi ini masyarakat dapat menambah pengetahuannya dibidang kebencanaan. Dengan begitu mereka selalu siap dalam menghadapi bencana dan mengetahui tindakan yang harus dilakukan saat evakuasi terjadi. (Naeli Rokhmah)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button