MWCNU

MWCNU Kawunganten Gelar Istighotsah Dan Refleksi Kebangsaan

Dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1443 H dan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke-76 , do’a bersama Istighotsah untuk keselamatan Bangsa dan Negara dan Refleksi Kebangsaan digelar oleh Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kawunganten, Sabtu malam (14/08).

Bertempat di Masjid Tarbiyatul Husna Desa Bojong Kecamatan Kawunganten acara digelar bersama dengan Banom Generasi Muda NU Majelis Dzikir dan Shalawat MDS Rijalul Ansor Kecamatan Kawunganten. Akan tetapi karena pertimbangan suasana pandemi, peserta yang hadir sangat terbatas. Dari 12 Ranting yang ada di Kawunganten, masing-masing hanya nengirimkan 2 orang perwakilan. Adapun selebihnya mengikuti acara secara virtual melalui aplikasi zoom meeting dan juga live streaming di kanal YouTube Media NU Kawunganten.

Acara tersebut dihadiri oleh jajaran pengurus MWCNU Kawunganten dari Rais, Ketua, dan Katib MWCNU Kawunganten. Adapun susunan acara istighotsah dan refleksi kebangsaan hari itu adalah Pembukaan yang dilanjutkan menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Ya Lal Wathon. Selepas itu sambutan sambutan dilanjutkan Istighotsah, acara puncak adalah Refleksi Kebangsaan yang ditutup dengan doa Penutup

Ketua MWCNU Kawunganten KH Mastur Shodik dalam sambutannya menyampaikan apresiasinya.

“Acara ini sungguh sangat sangat baik walaupun masih di suasana pandemi covid 19. Karena sebagai Nahdiyin kita harus selalu bertawakal dan berikhtiyar dengan bermunajat memohon perlindungan pada yang kuasa. Walaupun semua kegiatan serba dibatasi,” kata KH Mastur Sodik.

Hal ini menurut KH Mastur Sodik sesuai dengan tema yang diangkat pada malam itu, Meneladani Para Pahlawan Dalam Berjihad Melawan Penjajah, “Kita terus berihtiyar agar bebas dari wabah. Tentunya dua kegiatan di malam ini sangat baik dan patut kita lestarikan bersama”, ujarnya.

Istighosah dan refleksi kebangsaan
Acara Istighosah dan Refleksi Kebangsaan digelar virtual melalui zoom meeting dan juga live strreaming di kanal Media NU Kawunganten

Sementara itu, Ketua Majelis Dzikir dan Shalawat MDS Rijalul Ansor Kecamatan Kawunganten Gus Ngatoizairin (Gus Ngato) kepada NU Cilacap Online menyampaikan beberapa tujuan dilaksanakannya acara pada hari itu, di antaranya adalah sebagai bentuk syukur kepada Alloh SWT bertepatan dengan Tahun Baru Hijriyah 1443 H.

“Acara ini juga bertujuan untuk menumbuhkan rasa Nasionalis Kebangsaan. Kebetulan momen ini juga dalam rangka memperingati HUT RI Ke – 76. Kita sebagai warga Nahdiyin jangan sekali-kali tidak cinta pada tanah Air,” lanjut Gus Ngato.

Lebih lanjut Gus Ngato yang juga ketua panitia pelaksana mengatakan bahwa do’a bersama untuk keselamatan Bangsa dan Negara dan juga semoga pandemic Covid 19 ini segera di angkat oleh Alloh SWT dari muka bumi ini.

Selepas sambutan, acara dilanjutkan dengan Istighotsah dan Do’a bersama untuk keselamatan Bangsa dan Negara. Dalam hal ini dipimpin olah Rais Syuriyah MWCNU Kawunganten KH Suhud Mawardi.

Refleksi Kebangsaan Memperingati HUT RI ke-76

Setelah acara Istighotsah selesai dilanjutkan dengan acara puncak yaitu Refleksi Kebangsaan dalam Rangka HUT RI KE-76 oleh K Ahmad Marzuki Ahmad.

K Ahmad Marzuki memaparkan banyak hal yang berkaitan dengan Refleksi Kemerdekaan. Dirinya menuturkan bagaimana para pejuang yang tidak pernah lelah berjuang dan berjuang melawan penjajah selama 350 tahun.

“Tentu ini bukan perkara mudah. Jelas para pejuang ini sangat sabar dan mempunyai semangat yang tinggi. Mereka bertawakal, berihtiar, berjuang dan berusaha untuk bangsa dan Negara. Harta dan jiwa raga mereka korbankan tanpa memperdulikan nasibnya sendiri”, ujar kiai Marzuki.

Lebih-lebih lanjut kiai Marzuki, banyak para pahlawan adalah kaum sarungan atau santri. “Sejarah membuktikan yang notabene memperjuangkan kemerdekaan adalah para guru kita, pendiri Nahdlatul Ulama. Tentunya ini sebagai pecut semangat kita sebagai warga NU untuk selalu meneladani pada pandahulu kita”.

Lebih lanjut kiai Marzuki mengungkapkan bahwa mereka para guru telah gigih berani bertaruh jiwa raga demi kemerdekaan NKRI ini. Dirnya berpesan agar kader NU sebagai penerus perjuangan mereka jangan sekali kali mendzolimi apa yang telah diperjuangkan para pendahulu.

“Sejarah membuktikan berdirinya NKRI ini berkat jasa para pejuang dan juga guru kita. Di antaranya KH Hasyim Asyari. Dengan maklumatnya pula maka meletuslah Resolusi Jihad oleh kaum sarungan atau santri dan masih banyak para pejuang yang lain,” tandas Kiai Marzuki.

Pada sesi akhir acara di adakan potong tumpeng. Tumpeng disediakan oleh panitia sebanyak 4 buah yang masing-masing mewakili simbol tersendiri. Tumpeng pertama untuk Tahun Baru Hijriyh 1443, tumpeng kedua untuk HUT RI Ke 76, tumpeng ketiga untuk tasyakuran, dan tumpeng keempat untuk Perayaan Suran.

Kontributor: Sohibul Faih
Editor: Naeli Rokhmah

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button