Mumpuni Handayayekti Bicara Ilmu di Pesantren Assa’idiyah

NU CILACAP ONLINE – Mumpuni Handayayekti, di hadapan jamaah Majelis Taklim Pesantren Assa’idiyah Cibeunying, bicara tentang ilmu dan peradaban, dan menurut dai perempuan Nahdlatul Ulama (NU) milenial itu, peradaban jaman semakin modern, canggih, dinamis, dan kompleks, karenanya manusia dituntut cukup bekal ilmu untuk jalani roda hidupnya.

Bekal untuk mencukupi mesti membutuhkan ilmu yakni mengarahkan pada jalan dan tujuan yang benar. Ilmu merupakan petunjuk. Ilmu itu cahaya yang menerangi kegelapan.

Ustadzah Mumpuni Handayayekti menyampaikan hal itu saat memberi ceramah di depan ribuan jamaah yang hadir di halaman Pondok Pesantren Assa’idiyah Babakan Cigaru, Cibeunying, Majenang, Cilacap pada Ahad, (4/6/2023).

Majelis Taklim, Majelis Ilmu

“Jika kita duduk bersama di majelis taklim ini, tempat berbagi ilmu atau pengajaran. Demikian menunjukkan bahwa kita sedang update dan upgrade ilmu. Untuk menghidupkan hati kita, menerangi hati, menyehatkan hati dan menyuburkan hati kita.” terangnya.

Menurut Mumpuni, Majelis taklim adalah tempat ngaji, ngaos yakni tempat jamaah berjam’iyyah, kumpulan masyarakat dalam membiasakan diri menggali dan menuntut ilmu, guna meningkatkan pengetahuan keagamaannya.

Demikian itu memungkinkan jamaah akan dekat dengan pintu hidayah, dan petunjuk. Saling asah, asih dan asuh dalam ilmu memungkinkan sinyal keimanan akan semakin kuat, sehingga mendorong seseorang untuk berbuat kebaikan, kebajikan, dan beramal sholeh.

“Nabi Muhammad SAW pun berdoa tidak hanya cukup ditambahkan rejeki ilmu saja. Tetapi juga pemahaman dan kemanfaatan atas ilmu itu. Yakni dalam doa “Robbi Zidni ‘ilma Warzukni Fahma”. Yang artinya “Ya Allah ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku dan tambahkanlah pemahaman atasku,” tegas Mumpuni Handayayekti.

Ilmu yang bermanfaat menurutnya adalah ilmu yang aktif, yang pengamalannya dengan aktivitas. Bukan ilmu yang hanya tersimpan, berhenti di kepala, tertutup untuk dirinya sendiri. Akan tetapi bagaimana ilmu itu bisa hidup dalam kehidupan sehari-hari. Dalam diri, keluarga, dan kehidupan sosial. Bermanfaat bagi Agama, Nusa dan Bangsa.

Ustadzah Mumpuni Handayayekti (27), merupakan ustadzah kondang dari Desa Gentasari, Kroya, Cilacap yang merupakan juara 1 kompetisi Dai Aksi Indosiar tahun 2014 dan Dai Aksi Asia Indosiar tahun 2017.

Saat dikonfirmasi NU Ciacap Online NUCOM,  Mumpuni Handayayekti mengaku harus mikir dua kali dalam menyampaikan ceramahnya. Terutama agar hadirin dan jamaah dapat paham apa yang dimaksud dan disampaikan. Pasalnya jamaah yang hadir merupakan mayoritas masyarakat berbahasa sunda.

Majelis Taklim Assa’idiyah

Ketua Panitia, H Muhammad Murtado mengatakan acara pengajian umum tersebut diinisiasi oleh Majelis Taklim As-Sa’idiyah dan Keluarga Besar Gusdurian Majenang.

Pengajian umum pelaksanaanya bertepatan dengan, dan merupakan acara pengajian rutin Ahad Manisan. Untuk kali pertama, mengundang Ustadzah kondang Mumpuni Handayayekti.

“Atas nama panitia kami mengapresiasi pada Ustadzah Mumpuni Handayayekti ceramahnya bagus, Mampu kuasai panggung dan jamaah. Walaupun pada jamaah yang berbeda secara bahasa. Dan itu beri peluang baginya dapat sekaligus privat bahasa sunda secara langsung pada jamaah.” akunya.

Kegiatan Majelis taklim Assa’idiyah dalam rangka pengajian umum bersama Ustadzah Mumpuni Handayayekti berlangsung  dua jam. Pengasuh Pesantren Assa’idiyah KH Agus Salim menutupnya dengan doa.

KH Agus Salim selaku pendakwah pun juga mengaku terkagum dengan kepiawaian Ustadzah Mumpuni. Menurutnya, dalam ceramahnya, sangat komunikatif, runtut, jenaka. Juga memahami kondisi jamaah atau pengunjung.

Jamaah Pingsan

KH Agus Salim mengapresiasi atas kesigapan Mumpuni Handayayekti saat ada seorang ibu, jamaah pengajian yang pingsan. Bahkan ketika ada jamaah ibu-ibu yang pingsan karena pengunjung penuh dan berdesak-desakan, Ustadzah Mumpuni segera memberi komando.

Dengan sigap, ia mengorganisir panitia dan para Banser yang mengawalnya untuk segera melakukan tindakan pertolongan.

“Bukan hanya itu, Ustadzah Mumpuni pun memberikan metode gerakan tubuh cara mengatasi kondisi pinsan pada jamaah. Sambil bershalawat pada Nabi SAW. Inilah yang mungkin belum tentu terjadi di antara para Dai lainnya.” terang KH Agus Salim.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Desa Cibeunying, Lili Warli beserta Perangkat, para sesepuh-binisepuh, kiai setempat, tamu undangan. Juga tokoh masyarakat, dan ribuan jamaah yang berasal dari kelompok atau jamiiyah. Mereka berasal berbagai Majelis taklim di Majenang Raya dan sekitarnya. (IHA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button