Meneladani Kecerdasan Spiritual Nabi Muhammad SAW

NU CILACAP ONLINE – Meneladani Kecerdasan Spiritual Nabi Muhammad SAW, berati meneladani sikap beliau dalam memberdayakan diri menjadi pribadi yang memiliki sikap amanah dan terjaga moralitasnya. Hal yang membuatnya begitu dihormati tak hanya pada jamannya namun hingga hari ini.

Memandang sebuah kecerdasan tidak lepas dari bagaimana cara manusia itu berpikir dan mereflesksikan sesuatu yang dilakukan dirinya untuk membangun sebuah cara hidup.

Setidaknya untuk menilik sebuah kecerdasan, secara psikologis dibagi menjadi tiga bagian; yakni kecerdasan spiritual, intelektual, dan emosional yang ada dalam diri manusia.

Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang bertumpu pada suara batin atau intuisi, yang dapat digunakan manusia saat dirinya merefleksi setiap kejadian-kejadian kehidupan yang menimpa dirinya guna menganalisis tindakan menjadi lebih bijaksana.

Sedangkan dengan kecerdasan intelektual, itu tidak dapat dikaitkan hanya dengan kecerdasan dalam menghitung sesuatu atau diasosiasikan dengan prestasi di sekolah yang lebih dibandingkan yang lain.

Namun cerdas secara intelektual disini merupakan kecerdasan yang bertumpu pada penalaran logis dalam manusia menanggapi sesuatu yang membutuhkan pertimbangan nalar bagi kehidupannya.

Sebab apapun yang terkait dalam kehidupan, butuh sesuatu yang logis meski terkadang kelogisan dari cara berpikir itu tertampik dengan sesuatu di luar nalar atau transendensi yang tetap mungkin terjadi dalam fenomena kehidupan semesta ini.

Maka dari itu antara intelektal dan spiritual, memang pada kenyataannya saling melengkapi satu sama lain, yang tentu harus juga dibangun dengan sisi kecerdasan emosional manusia.

Kecerdasan Spiritual Nabi Muhammad SAW

 

Suatu kecerdasan yang mampu mengimplementasikan keadaan emosi dalam diri manusia untuk tetap menggunakan daya nalar intelekual dan sisi spiritualitas yang ada dalam dirinya mengatur diri serta bagaimana sikap diri pada sesuatu fenomena yang terjadi dari luar dirinya.

Tetapi dengan fenomena religiusitas yang saat ini menjadi tumpuan bentuk-bentuk interaksi social baru dalam tataran peradaban abad ke-21 khusunya di Indoneisa. Tidak dapat dipungkiri saat ini “agama” menjadi sarana metode hidup dan berpikir manusia yang sangat dominan.

Untuk itu penting dalam semesta wacana pengetahuan manusia merefleksikan lebih baik manakah antara; kecerdasan religiusitas dan kecerdasan spiritual guna menjadi suatu pegangan dalam mengarungi kehidupan?

Baca juga

Spiritualitas dan Religiusitas Nabi Muhammad  

Berbicara antara kecerdasan religius dan spiritual, ini tentu merupakan sesuatu yang berbeda tetapi saling membutuhkan satu sama lain, di mana cerdas spiritalitas bertumpu pada kekuatan diri dan religiusitas bertumpu pada interaksi diri pada social.

Oleh sebab itu penting, seorang manusia membentuk dirinya baik secara cerdas spiritual maupuan religius untuk lebih optimalnya diri dalam membentuk sisi kemnfaatan pada dampak hidup bukan untuk diri sendiri saja tetapi untuk social.

Sebagai perbandingan dari sikap-sikap mereka seseorang yang mempunyai dampak luas bagi kehidupan khususnya agama yang sinergitas kecerdasan spiritual dan religuisitas telah matang dan berdampak besar bagi umat manusia.

Peran tokoh-tokoh agama dapat disesuaikan dengan fakor kepercayaan masing-masing sesuai ketokohan dan peranannya di dalam agama tertentu tergantung dari pada minat pribadi seseorang.

Jika seorang muslim, Nabi yang menjadi panutan adalah Nabi Muhammad SAW yang membawa ajaran agama Islam lewat kontempalsi diri, di mana wahyu-wahyu dari Allah SWT diturunkan untuk pengetahuan masyarakat Arab yang saat itu masih ada dijaman kegelapan “jahiliyah”.

Oleh karena itu menilik peran kecerdasan spiritual dan religiusitas yang ditampilkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam mengembangkan ajaran islam, yang tidak hanya berkembang di tanah Arab tetapi juga berkembang di dunia.

Sangat penting menjadi bahan refleksi bersama sebagai manusia untuk mampu berdampak bagi kehidupan orang lain layaknya Nabi Muhamad yang secara langsung membawa islam sebagai agama yang memberi pengaruh besar pada rujukan kemanusiaan yang lebih beradab dari sebelumnya.

Cerita sebelum Nabi Muhamad dilantik sebagai rusul di usia yang ke-40, yang mengajarkan agama bagi masyarakat. Nabi Muhamad SAW merupakan orang yang dikenal sebagai orang jujur, amanah, dan dapat dipercaya oleh orang lain disekitarnya dengan standar moral yang sangat baik.

Maka dari itu jauh sebelum Nabi Muhammad diangkat sebagai Rosul dan dipilih oleh Allah SWT untuk menerima wahyu pertama yang saat itu menjemputnya melalui kontemplasi di Gua Hiro.

Nabi Muhammad SAW sendiri sudah cerdas secara spiritual, di mana pemberdayaan dirinya begitu optimal sebagai manusia sehingga dirinya mampu dipercaya oleh orang lain, atau pun memiliki sikap amanah, serta keterjagaan moralitasnya yang membuat dirinya sangat dihormati oleh masyarakat pada saat itu yang masih dalam tatar kegelapan “Jahiliyah’.

Untuk itu kembali pada pembahasan bagaiamaana seharusnya cerdas secara sepiritual atau religius yang harus diterapkan pada diri manusia adalah memilih kedua kecerdasan tersebut sebagai bagian dari hidup manusia.

Cerdas secara spiritual berarti mempunyai kontol diri pada batin menuju menjadi manusia yang bijaksana, mulia, dan mampu menjadi rahmat bagi dirinya sendiri dalam menjalani hidup.

Sedangkan sisi lain dari kecerdasan religius merupakan sarana manusia menjadi rahmat bagi sesama manusia, yang mampu menjadi cahaya untuk orang lain, serta memberi dampak kebaikan pada umat manusia sesuai yang diajarkan pada ajaran-ajaran keagamaan atau religiusitas yang diyakini oleh masing-masing orang.

Jadi antara cerdas secara religius dan spiritual itu adalah bagian dari hal yang tidak terpisahkan, di mana seseorang harus menjadi spiritualis yang mampu mengontrol moralitas diri dengan bijaksana, sebelum menjadi seorang religius yang mampu berdampak pada kehidupan sesama manusia. (Toto Priyono)

Penulis Artikel berjudul Meneladani Kecerdasan Spiritual Nabi Muhammad adalah kontributor NU Cilacap online yang juga aktif menulis humaniora.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button