Catatan Redaksi

Media NU, Antara Kebutuhan Organisasi dan Ekspresi Pribadi

Media NU yang bertebaran di dunia maya bisa dilihat dari dua sisi; sisi kebutuhan organisasi (jamiyyah) dan sisi ekspresi pribadi (jamaah). Ada kemungkinan sebuah media organisasi dikelola secara pribadi sebagai warga NU, ada pula kemungkinan media yang dikelola secara pribadi tapi untuk keperluan organisasi NU.

Di antara keduanya, tentu ada media organisasi NU yang dikelola secara organisatoris dalam pengertian sebagai media resmi organisasi. Lazim hari ini dinyatakan bahwa organisasi NU memiliki media berbasis situs web atau media sosial; itu karena sudah menjadi kebutuhan organisasi.

Sementara itu, orang per orang, warga NU dengan latar belakang yang beragam, juga memiliki akun media yang hampir tak terhitung jumlahnya. Kebebasan berekspresi yang disodorkan platform media sosial memungkinkan semua itu terjadi. Dan semua itu di luar kontrol organisasi.

Dulu, mungkin organisasi NU masih enggan memanfaatkan media berbasis internet ini. Jika hari ini masih ada organisasi NU pada tingkatan struktur yang ada belum memiliki akun media, mungkin itu sebuah pengecualian. Mungkin baru tahap akan membuat akun media. Bisa jadi, belum terpikirkan untuk membuatnya.

Dulu, orang orang, jamaah / warga NU atau pengurus NU, Lembaga dan Badan Otonom, juga tidak memiliki akun media. Hari ini ekspresi pribadi warga NU melalui media sosial sudah tak terhitung lagi. Masing-masing hadir mengekrpesikan diri; entah mewakili diri sendiri atau mengekspresikan sebagai bagian dari organisasi NU.

Pertemuan Media Pribadi dan Organisasi NU

Ada titik persinggungan dan pertemuan antara media masing-masing pribadi warga dan pengurus NU (juga Lembaga dan Badan Otonom) dengan media organisasi. Dan pertemuan media pribadi dengan organisasi NU menjadi kekuatan tersendiri di dunia maya. Ini bagaimanapun merupakan aset organisasi yang memerukan pengelolaan.

Di mana letak pertemuan media pribadi dengan organisasi NU ? Yang terutama adalah di perbincangan, percakapan dan lalu lintas isu, wacana atau topik tertentu yang yang berkembang dan menjadi trend juga viral. Akun media pribadi berkebutuhan untuk turut, misalnya, menyuarakan, membagikan hingga masuk dalam ruang ruang diskusi.

Hal itu terjadi karena adanya ikatan emosial yang secara langsung terbangun melalui jejaring media NU. Akun bisa saja personal, akan tetapi isu, wacana, topik hingga propaganda menjadi mungkin bersifat komunal. Saat hal itu terjadi, kekuatan organisasi semakin meningkat.

Baca Artikel Terkait:

Media NU Terorganisir

Rapat Pleno Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) merekomendasikan agar seluruh perangkat organisasi umat Islam terbesar di Indonesia bahkan dunia itu mulai berdakwah di media sosial secara lebih terorganisir untuk merespon tantangan zaman.

Selanjutnya, rapat pleno yang digelar di Pondok Pesantren Al Muhajirin Purwakarta 20-21 September 2019 itu merekomendasikan; agar seluruh perangkat organisasi Nahdlatul Ulama menjadikan bidang dakwah melalui media sosial sebagai kesadaran gerakan organisasi. Gerakan dakwah di media sosial tidak boleh berhenti hanya sebatas dilakukan secara sporadis dan bersifat non-organisatoris.

Apa yang menjadi mandat Rapat Pleno PBNU tersebut saat ini semakin aktual dan faktual. Tidak ada pilihan lain bagi organisasi NU kecuali untuk merealisasikan rekomendasi tersebut. Mengorganisir media media organisasi NU di tingkatan yang ada dan mendinamisir akun akun media warga NU merupakan salah satu strategi yang patut ditempuh.

Saat media organisasi NU mendakwahkan nilai-nilai keislaman Ahlussunnah wal Jamaah dan kegiatan terkait organisasi, maka ekspresi akun akun pribadi harus bisa mendukung gerakan dakwah tersebut. Bagaimana caranya? Mereferensikan materi dakwah yang ada ke media organisasi NU.

Akun-akun pribadi juga harus memahami kebutuhan organisasi akan keberlangsungan media. Apa yang bisa dilakukan? Berpartisipasi dalam membuat dan mengisi konten konten yang mendukung ideologi dan praksis program kegiatan organisasi. Konten bisa berupa artikel materi dakwah hingga teks naskah khutbah.

Antara mendinamisir dan mengorganisir media NU, keduanya merupakan tantangan bersama; baik pengurus organisasi NU, Lembaga maupun Badan Otonom, juga pribadi-pribadi warga Jamiyyah Nahdlatul Ulama (NU). Peran pengurus NU sangat diharpkan dalam konteks keduanya. Mempertemukan kebutuhan organisasi dengan ekspresi pribadi juga merupakan tantangan tersendiri bagi warga NU pegiat media sosial. [Redaksi]

Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

twelve − 9 =

Back to top button