Esai Opini Wawasan

Kiai Dalam Lalu Lintas Sosial, Antara Kealiman & Kekeramatan

Kiai Dalam Lalu Lintas Sosial? Istilah Kiai, sangat populer di tengah-tengah masyarakat Islam rural, pedesaan dan tradisional, dan dalam lalu lintas sosial lainnya, baik penisbatan itu menunjuk kepada seseorang yang dianggap alim (karena kealiman), maupun suatu kata benda yang dianggap keramat (kekeramatan).

Di Solo, ada kerbau yang dianggap keramat, bernama kiai Slamet. Bahkan dalam legenda dan sejarah masa lalu, nama-nama pusaka selalu di sebutkan di depannya dengan nama kiai. Contoh, kiai Plered (tombak pusaka mataram), atau pusaka yang sangat legendaris, kiai Nogososro-Sabuk Inten. Nama pusaka ini menjadi ikon dalam novel Api Di Bukit Menoreh karya SH. Mintarja.

Istilah kiai lebih dinisbatkan kepada sebuah “keramat” atau kekeramatan. Bukan kepada ‘alim (karena kealiman), walau setengah saking julukan itu, ada benarnya. Artinya, julukan kiai diberikan kepada sesuatu yang mempunyai nilai lebih, dibanding yang lain. Contoh, bicara alam binatang di hutan, kita menjuluki si macan, dengan sebutan ” kiai-ne”.

Dengan demikian, nama kiai merupakan produk sub-kultur, bukan produk sub-agama. Kalaupun ada, sub-agama menyumbang unsur yang sedikit, tidak dominan.

Maka, karena merupakan produk sub-kultur, seorang kiai tidak harus alim. Karena gelar mereka diberikan oleh masyarakat, bukan agama. Tak ada hadist atau qur’an yang menyebut istilah kiai bukan? Kalau ulama, jelas harus ‘alim. Dan istilah ini pun disebut dalam Al-Qur’an ( QS, Fathir:28 ) dan hadist Nabi, al ‘ulama warasatul anbiyaai’, bahwa Ulama adalah pewaris para Nabi.

Bahkan istilah kiai di wilayah luar Jawa Tengah dan Jawa Timur, nama kiai juga tidak populer. Di Madura ada istilah Lora, di Jawa Barat disebut Ajengan, di NTB disebut Tuan Guru, serta istilah-istilah lain yang banyak jenisnya.

Baca Artikel Terkait:

Jadi, kiai cukup memahami istilah-istilah yang terkait dengat ritual sosio-religi saja sudah cukup. Memimpin doa kenduren, yaasin-tahlil, sholawat, imam sholat berjamaah, dan sebagainya. Tak perlu di-framing, diberi syarat-syarat bahwa kiai itu harus hafal kitab ini, kitab itu, dan sebagainya. kiai itu lebih dalam praktek ibadah praktis dan mempunyai kadar potensi budaya yang lebih besar, bukan kemampuan akademis pesantren yang menguasai khasanah ilmu-ilmu keislaman. Yang menguasai ilmu-ilmu keislaman, itu ulama.

Kiai, belum tentu ulama. Tetapi sebagian dari ulama itu ada kiai, ini benar.

Yang penting dari itu semua, tentu bukan kriteria ilmiah. Tapi fungsi. Seorang kiai itu tokoh yang manjing ajur ajer bersama masyarakat. Membimbing dan mendampingi masyarakat dalam ilmu dan adab. Mendidik masyarakat dalam kehidupan, ilmu kehidupan, sangkan paraning dumadi. Bukan mereka yang ‘alim, tetapi berada di atas menara gading dan air ke-ilmuannya.

Itulah kiai-kiai kampung kita, yang terpingit bersama masyarakatnya. Mereka bersama pergi ke sawah, mencangkul, menanam dan memanen padi. Atau memanjat pohon kelapa untuk mencari legen untuk membuat gula kelapa.

Di situ tak ada bedanya kiai dan bukan kiai. Dan memang mereka tidak mau diistimewakan. Jauh dari kehidupan yang popular, dan glamour seperti para ustadz saat ini dengan honor berjibun dan diendors oleh industri kapital.

Kiai kampung kita sungguh bersahaja. Saat malam tiba, dan pekerjaan sebagai petani selesai, mereka hanyut dalam ibadah bersama masyarakat, melantunkan puja-puji dan syair penuh syukur, walau hidup penuh dengan kesederhanaan, di kampung yang tenang.*

Artikel berjudul Kiai Dalam Lalu Lintas Sosial, Antara Kealiman & Kekeramatan, ini ditulis oleh Taufik Imtihani, Koordinator NU Marginal Forum, Cilacap

Penyunting: Naeli Rokhmah

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button