Khutbah Jumat

Khutbah Jum’at: Pengenalan Diri Sebagai Modal Pengendalian Diri

[no_toc]

Khutbah Jum’at pada kesempatan ini mengusung tema tentang Pengenalan Terhadap Diri Sendiri Perlu Sebagai Modal Pengendalian Diri; tentang siapa diri kita dalam menjalani kehidupan, termasuk berbangsa dan bernegara, manusia perlu memiliki kontrol kehidupan dan sikap yang baik.

Hal ini penting karena manusia menghadapi berbagai bentuk tantangan selama hidupnya di dunia. Kontrol kehidupan dan sikap yang baik dalam menghadapi tantangan kehidupan dimulai dari kecakapan mengenal diri.

Kecakapan mengenali diri sendiri dalam agama sangatlah penting. Imam Al-Ghazali dalam kitabnya berjudul Kimiya’ As-Sa’adah menjabarkan, mengenali diri sendiri merupakan kunci untuk mengenali Allah SWT lebih dekat. Mengenali diri sendiri merupakan salah satu jalan mendekat kepada Allah SWT.

Kecakapan mengenali diri sendiri harus siring sejalan dengan kecakapan dalam mengendalikan diri. Dengan demikian, kehidupan berjalan secara seimbang.

Khutbah Jum’at : Pengenalan Terhadap Diri Sendiri Perlu Sebagai Modal Pengendalian Diri selengkapnya sebagai brikut:

Khutbah Awal

اَلْحَمْدُللّهِ الَّذِى نَوَّرَ قُلُوْبَ الْمُؤْمِنِيْن بِالْمَعْرِفَةِ فَاطْمَئَنَّتْ قُلُوْبُهُمْ بِالتَّوْحِيْد

 اَشْهَدُ اَنْ لَاإِلَهَ اِلّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ يَعْلَمُ مَا فىِ السَّمَاوَاتِ وَمَا فىِ الْاَرْضِ وَهُوَ الرَّقِيْبُ الْمَجِيْدُ

وَ اَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِى اَنَارَ الْوُجُوْدَ بْنُوْرِ دِيْنِهِ وَشَرِيْعَةِ اِلَى يَوْمِ الْوَعِيْدِ

 اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ أَمَنُوْا وَعَمِلُوْاالصَّالِحَاتِ اِلَى يَوْمِ الْمَوْعُوْدِ. اَمّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَاالْمُسْلِمُوْنَ اتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ فَازَالْمُتَّقُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Saudara-saudara Kaum Muslimin yang berbahagia.

Untuk meraih kebahagiaan hidup di alam dunia dan akhirat, marilah kita selalu meningkatkan taqwa kepada Allah SWT dengan melaksanakan segala Perintah-Nya dan berusaha meninggalkan larangan-Nya. Hanya dengan bertaqwa kepada Allah-lah, hidup kita akan selamat, bahagia, aman, damai dalam lindungan Allah SWT.

Dalam kesempatan ini marilah kita melahirkan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan ni’mat sehat jasmani dan rohani sehingga masih bisa melaksanakan ibadah jum’at tanpa halangan suatu apapun.

Perlunya Pengenalan Diri

Mengenali diri sendiri menjadi suatu fondasi dasar guna menentukan langkah kita dalam menjalani kehidupan; juga dalam ikhtiar mengendalikan diri dalam kehidupan itu sendiri.

Sebagai Bangsa Indonesia kita meyakini perlunya pengenalan diri sebagai bagian dari bangsa Indonesia; atau pengenalan diri atas hakikat dari bangunan bangsa Indonesia. Karena dengan demikian, kita akan mudah bersyukur kepada Allah SWT;

Saudara-saudara Kaum Muslimin yang berbahagia.

Bahwa bangsa Indonesia itu mulai dulu hingga sekarang masih tetap dikenal oleh masyarakat dunia sebagai bangsa religius; Bangsa yang religius inilah yang haurs kita kenali sebagai karakter yang tumbuh dari masyarakatnya. Artinya karakter dan jiwa bangsanya tidak pernah lepas dari nilai-nilai agama dalam setiap tindakan dan langkahnya selalu dilandasi oleh ajaran agama dan ahlaq yang mulia.

Terciptanya masyarakat religius dan berperadaban tinggi tersebut, bila dikaji secara cermat dari sejarah perjalanan Bangsa Indonesia sangat panjang, ternyata semua itu tidak lepas dari hasil perjuangan para mujahid Islam, para mubaligh, terutama para wali yang menyebarkan Islam di Nusantara, termasuk wali songo di tanah Jawa ini.

Para mujahid, para wali songo dalam berdakwah selalu disesuaikan dengan kultur budaya di masyarakat setempat sehingga nilai-nilai ajaran agama mudah diterima oleh masyarakat dan sekaligus dipraktekkan dalam kehidupan  di masyarakat yang akhirnya bisa merubah tatanan masyarakat biadab menjadi masyarakat yang beradab atau masyarakat religius seperti yang kita rasakan sekarang ini.

Pengendalian Diri Dengan “Rasa Sejati”

Para Waliyullah, para Ulama dalam mendidik masyarakat dengan bahasa yang sederhana yang mudah dipahami, tetapi mengandung falsafah agung. Contohnya yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga dan berlanjut pada hidupnya pujangga Jawa, yaitu R. Ngabei Ronggowarsito yang berupa ajaran wujudnya RASA SEJATI artinya manusia harus memiliki Rasa lan Rumangsa.

Rasa artinya mempunyai perasaan dan tatakrama dalam bergaul dengan  sesama manusia. Sedangkan Rumangsa artinya menyadari tanggung jawabnya baik terhadap manusia maupun kepada Allah SWT. Ajaran Rasa – Rumangsa inilah sejatinya bagian dari teknik dan ikhtiar pengendalian diri.

ini sangat sedrehana tetapi mengandung hikmah dan falsafah yang tinggi. Dan ajaran ini dimaksudkan agar manusia memiliki Rasa Risi lan Rumangsa artinya supaya manusia isa rumangsa, dudu Rumangsa Isa (Merasa Bisa Segalanya).

Baca Juga

Hadirin Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

Falsafah yang demikian luhur itu adalah realisasi dari hadits yang berbunyi:

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ

Artinya:  “Barangsiapa yang mengenal dirinya  ia akan mengenal Tuhannya

Allah SWT  Berfirman:

إِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ وَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَا

Artinya: “Jika kamu berbuat baik berarti kamu berbuat baik pada dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri.”  (QS. Al-Isra: 47)

Hikmah Pengenalan dan Pengendalian Diri

Hikmah yang terkandung dalam ayat di atas adalah agar kita berhati-hati dalam bertindak dan berbuat; hendaklah mengenali terlebih dahulu sebelum menjalankan segala sesuatu. Dan dalam menjalankan segala sesuatu, perlu sikap dan rasa pengendalian diri yang kuat.

Kita harus bisa mengukur diri, bila kita tidak enak dihina orang lain jangan sekali-kali menghina orang; bila kita merasa tak enak diremehkan orang lain, janganlah sekali-kali meremehkan orang lain; bila pedih rasanya dianiyaya orang lain, janganlah sekali-kali menganiaya orang lain.

Semua itu adalah penjabaran dari ajaran RASA SEJATI yang bersumber dalam Al-Qur’an dan hadits. Nabi Muhammad SAW bersabda yang merupakan do’a:

بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتثُ عَلى اللهِ اللَّهُمَّ إِنِّى اَعُوْذُ بِكَ اَنْ اَضِلَّ اَوْ أُضِلَّ اَوْ اَزَلَّ اَوْ اُزِلَّ اَوْ اَظْلَمَ اَوْ اُظْلِمَ اَوْ اَجْهَلَ اَوْ يُجْهَلْ عِلَيَّ

Artinya: “Dengan Nama Allah aku berserah diri kepada Allah, Wahai Tuhanku aku mohon dipelihara oleh-Mu akan tersesat atau disesatkan, atau tergelincir atau digelincirkan, atau berbuadt aniaya atau dianiaya atau berlaku sembrono atau dilakukan dengan sembrono” (HR. Abu Dawud)

Hadirin Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah.

Supaya kita terhindar dari sifat yang ada pada hadits di atas mari hati dan pikiran kita dibentengi dengan keimanan, ketaqwaan dan akhlaqul karimah. Dengan bekal keimanan, ketakwaan dan Rasa Sejati-lah kita akan beruntung dan selamat di dunia; dan selamat di akhirat serta mendapat Ridla Allah SWT.

جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّكُمْ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ الطَّيِّبِيْنَ وَاَدْخَلَنَا وَإِيَّاكُمْ فىِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ واسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

خُطْبَة الثَّانى

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ

 قال الله فى كتابه الكريم : إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلّمْت وَبَارَكْت عَلَى سَيِّدِنَا ابْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَات وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَات. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِى دِينِنَا وَدُنْيَانَا وَاهْلِنَا وَمَالِنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ واسئَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِيْكُمْ وَلَذِكِرُ اللهُ أَكْبَرُ

Naskah Teks Khutbah Jum’at NU Cilacap Online dengan judul “Pengenalan Terhadap Diri Sendiri Sebagai Modal Pengendalian Diri” Ditulis Oleh Kiai Ahmad Alifudin, S.Pd.I (Ketua Lembaga Dakwah MWCNU Cimanggu). (Tim Redaksi Khutbah Jum’at NU Cilacap Online)

Download Khutbah Jumat Pengenalan Terhadap Diri Sendiri Perlu Sebagai Modal Pengendalian Diri, DI SINI

Editor: Saeful Nur Hidayat 

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

twenty + 13 =

Baca Artiikel Rekomendasi Lainnya
Close
Back to top button