Badan Otonom NU

IPNU dan Paradigma Kaderisasi Tiga Pilar, Apa Saja?

Yang dimaksud dari paradigma kaderisasi adalah karakter, ciri khas, standar atau brand image yang menjadi kekhususan proses kaderisasi di IPNU dengan paradigma tiga pilar yaitu keislaman, budaya kebangsaan dan digital.

Paradigma dalam disiplin intelektual adalah cara pandang orang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir (kognitif), bersikap (afektif), dan bertingkah laku (konatif).

Paradigma juga dapat berarti seperangkat asumsi, konsep, nilai, dan praktik yang di terapkan dalam memandang realitas dalam sebuah komunitas yang sama, khususnya, dalam disiplin intelektual.

Steven Covey, dalam bukunya “7 Habits Of Highly Effective People” mendefinisikan paradigma sebagai cara kita memandang sesuatu: pandangan kita, kerangka acuan kita atau keyakinan kita. Paradigma adalah seperti kacamata. Steven Covey merangkum bahwa ada 3 paradigma pada umumnya: paradigma tentang diri sendiri, paradigma tentang orang lain dan paradigma tentang kehidupan.

Mempunyai paradigma sama halnya dengan memiliki cara pandang yang membedakan dengan kaderisasi pada organisasi lain. Dan di organisasi IPNU, sudah tentu memiliki karakter dan ciri khas kaderisasi dengan paradigmanya yang khas pula.

Di IPNU sendiri, yang menjadi corak kaderisasi bertumpu pada tiga Paradigma Tiga Pilar yaitu:

1. Paradigma Keislaman

Paradigma keislaman adalah ciri khas ideologi islam yang dilestarikan oleh IPNU adalah akidah ahlusunnah wal jamaah ala Nahdlail Ulama. Yakni dengan berlandaskan pada pemikiran akidah Imam Abu Musa al-Asy‘ari dan Abu Mansur al-Maturidi.

Pada aspek ibadah/ nalar fiqh mengikuti salah satu dari imam empat (imam al-arba’ah) yakni Abu Hanifa, Imam Malik, Imam Syafi‘I dan Imam Ahmad ibn Hanbal. Adapun corak sufistik, mengikuti pola yang disusun oleh Imam Al-Ghazali, Imam Junaid al-Baghdadi dan Imam Asy-Syadili.

Paradigma di atas menjadi corak kaderisasi IPNU karena sifatnya yang opsional, tidak rigid dan kaku harus mengikuti imam ini dan itu. Paradigma keislaman di atas akan membentuk karakter yang toleran, terbuka terhadap perbedaan, senyampang tidak melanggar dasar-dasar akidah.

Maka, dapat dipahami bahwa corak kaderisasi yang ingin dicapai IPNU adalah memiliki wawasan keislaman yang tidak kolot, kaku dan cenderung ekslusif (tertutup). Ketiganya sangat dihindari dalam keberislaman warga Nahdlatul Ulama.

Yang dimaksud paradigma Islam adalah sistem keyakinan atau suatu cara pandang untuk memahami realita yang ada dan dihukumi dengan sudut pandang Islam. Berkenaan dengan jenis spesialisasi dan interes, maka tentu saja bidang ilmu yang diteliti banyak sekali ragamnya menurut siapa yang mengadakan penelitian

2. Paradigma Budaya Kebangsaan

Sungguhpun bahwa IPNU merupakan anak kandung dari ormas islam terbesar di Indonesia. Maka, keislaman yang dimaksud adalah islam yang mampu bersenyawa dengan kondisi sosial dan kebangsaan Indonesia.

Untuk itu, paradigma sosial kebangsaan dalam tradisi pengkaderan IPNU harus mampu menjadi media penguat untuk memiliki kepekaaan dan kepedulian sosial pada siapapun agama, suku dan latar belakang kebudayaannya. Sehingga terwujud solidaritas kebangsaan yang mampu memperkat jalinan persatuan bangsa.

Dari sinilah bisa dipahami bahwa proses kaderisasi IPNU merupakan salah satu upaya menerjemahkan semangat UUD yang memiliki cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa.

3. Paradigma Digital

Paradigma kaderisasi berbasis digital adalah sebuah kebutuhan yang tak bisa dilepaskan dalam kondisi saat ini. Dalam artian, bahwa IPNU harus hadir untuk memperkuat dan mewarnai narasi-narasi positif di media online, terlebih media sosial guna mempromosikan gagasan-gagasan tentang keislaman dan kebangsaan.

Kaderisasi IPNU harus hadir dan tampil di dunia maya untuk menyapa siapapun agar tertarik dan ikut berproses menjadi bagian dari keluarga besar Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama.

Perubahan pola komunikasi d iera digital, dengan semakin masifnya penetrasi internet, diproyeksikan akan semakin mempercepat transformasi ke “pola komunikasi model baru”, yang menuntut adanya perubahan pola komunikasi pemerintah kepada publik.

Paradigma tiga pilar keislaman, budaya kebangsaan dan digital merupakan paradigma ideal yang sangat mungkin di jangkau oleh pelajar NU dan kader kader NU di organisasi IPNU.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button