Haji Riang Gembira 2023 part 19; Thawaf di Lantai 2

NU CILACAP ONLINE – Thawaf di lantai 2 Masjidil Haram merupakan alternatif jika di lantai dasar tidak memungkinkan lagi karena penuh sesaknya jamaah haji. Bagaimana cerita pelaksanaan thawaf di lantai 2 ini? Simak selengkapnya catatan Gus Rozi berikut ini.

Minggu malam lalu, jamaah haji kloter SOC 70 kembali melaksanakan umrah sunah. Sebagaimana kloter SOC 69, kloter SOC 70 juga mengambil miqat di Ji’ranah untuk umrah sunah yang diprogramkan oleh KBIHUNU Cilacap. Miqat ini menarik, tidak seramai miqat di Tan’im yang heboh sekali.

250 Jamaah Haji

Sehari sebelumnya, dilaksanakan rapat persiapan umrah sunah agar lebih matang dan tertib pelaksanaannya. Tentu ini mengaca pada pelaksanaan umrah pertama yang miqatnya di Tan’im.

Di rapat ini ada salah satu karom yang mengusulkan agar model pelaksanaan umrah sebelumnya dievaluasi total. Saya mbatin, wah, ini ide menarik. Lalu dia memberikan usulan, kekompakan harus dijaga betul pada saat di mathaf. Kita akan nampak memiliki kekuatan kalau kompak. Lha, kalau pating prenthil, kelihatan 2, 3, 5, maka KBIHUNU ya nggak ada apa-apanya.

Rasional juga usulannya. Kebetulan didukung oleh banyak orang. Cuma bagaimana pelaksanaannya? Ini problem berikutnya.

Bagaimana mempertahankan sekitar 250 orang jamaah haji dalam satu barisan dan komando, sementara mereka berada di tengah-tengah kerumunan massa yang berjumlah ratusan ribu yang semuanya mobile-bergerak, mengelilingi Ka’bah, dan secara fisik mereka lebih besar dan kuat ?

Usulan itu akhirnya berlalu tanpa ketok palu, tetapi selalu diupayakan untuk mewujudkan itu, minimal utuh satu rombongan. OK. Clear semuanya. Rapat selesai.

Di luar rapat, ada karom yang sudah punya planning sendiri. Beliau bersama rombongannya akan melaksanakan thawaf di lantai 2. Alasannya, dia membawa banyak orang yang tidak bisa cepat jalannya. Ini harus diakomodir. Ya, sudah.

Kegigihan Ketua Rombongan

Itu sepertinya merupakan bentuk kegigihannya bahwa dalam situasi bagaimanapun rombongan harus bersatu, kompak, dan utuh. Pada pelaksanaannya, dia memang tak berhenti dengan konsistensinya. Dia bertindak mempertahankan keutuhannya dengan pertama-tama memasang nomor bus sesuai dengan nomor rombongannya.

Nah, di jadwal, saya mestinya mendampingi rombongan 5 bersama pak dokter Kuncoro, tapi saya tak begitu ‘ngeh‘ dengan aksinya. Karena fokusnya adalah bahwa setiap bus harus ada pendampingnya. Kebetulan bus yang saya naiki belum ada yang mendampingi dari petugas. Jadinya saya masuk ke bus ini. Kondisi aman terkendali.

Sampai di masjidil haram, sesuai komitmen awal, kita akan mengupayakan berangkat thawaf bersama, dan melantai di mathaf yang langsung nyambung dengan Ka’bah. Sehingga jamaah menunggu di pelataran haram sampai bus pengangkut rombongan terakhir datang.

Setelah kumpul semuanya, rombongan mulai bergerak memasuki salah satu pintu Masjidil Haram yang di ujung Shafa. Ketua rombongan lima mengingatkan saya dengan ucapannya yang tegas, “Pak Rozi (atau Gus Rozi, saya lupa, terserahlah) harusnya ikut di sini”. Saya kaget dan baru ‘ngeh’. Saya pun nurut.

Sampai di pintu masuk, desakan berbagai macam manusia sudah menumpuk, tetapi pergerakan manusia tetap berjalan. Hanya ada satu jalan yang semuanya mengarah ke mathaf di lantai dasar melalui escalator. Pintu-pintu lain ditutup.

Rombongan lima pun demikian. Mau tidak mau mengikuti arus yang hanya satu arah itu. Namun setelah sampai di lantai dasar dan Ka’bah sudah kelihatan, ketua rombongan tetep keukeuh akan thawaf di lantai 2 beserta anggota rombongannya. Dia mencari escalator naik. Saya sempat menolak, dengan alasan, kita naik ke lantai 2 nanti berlawanan dengan arus, malah nggak karu-karuan.

Orang di sebelah saya, saya tidak begitu memperhatikan siapa dia, mendukung saya. Tetapi sekali lagi, ketua rombongan terus bergerak maju dan naik ke escalator menuju lantai 2. Saya mengikutinya, wong katanya pendamping.

Kegigihan ketua rombongan 5 membuahkan hasil. Di lantai 2 nyaman sekali, lintasan thawaf tidak terlalu penuh, malahan cenderung longgar. Hanya di titik tertentu saja yang padat, misalnya pas di titik mula kita thawaf.

Lantai 2 Masjidil Haram tempat Thawaf
Thawaf Nyaman di Lantai 2

Dan, Thawaf di Lantai 2 akhirnya dimulai setelah posisi jamaah sudah sejajar dengan hajar aswad yang ditandai oleh lampu hijau.

Sebagai pribadi saya masih agak nggrundel dan bicara dalam hati, lha wong sudah enak-enak tadi di lantai dasar, kok ndadak naik ke lantai dua, kita akan kehilangan sensasi thawaf. Di lantai dasar itu dekat Ka’bah secara fisik yang dapat membantu mendekatkan kepada Allah.

Lagian, kalau di lantai dasar, sensasinya luar biasa. Di lantai dasar itu kita melantai bersama berbagai macam jenis manusia, tinggi rendah, besar kecil, semuanya sama. Semua saling memadu keringat, bercampur, menyatu, menjadi kecut yang sama. Kecut yang berubah wangi, wangi kasturi dan misik. Kita sama-sama memuji Allah, sama-sama mengagungkan dzat Yang Satu, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Sempurna, Allah swt.

Namun sebagai pendamping, saya mendampingi jamaah rombongan yang dipimpin oleh pak kiai, sekarang sudah haji, jadi lengkapnya bapak KH Jumari. Beliau terus memimpin jamaahnya hingga putaran ketujuh selesai. Saya memilih di bagian belakang, untuk memastikan bahwa jamaah tidak ada yang tertinggal.

Thawaf di Lantai 2 terus berjalan. Putaran satu selesai. Dilanjutkan putaran kedua, ketiga. Kenyamanan thawaf betul-betul terasakan. Tidak ada saling dorong, berdesakan. Jamaah utuh, Hawa sejuk sekali. Ketua rombongan tetap memimpin di garda depan. Baca juga Thawaf Wada’

Saya tetap di belakang bersama lima orang, sepasang suami istri. Istimewanya istri yang menjadi cekelan suaminya. Istri dengan setia dan sabar membiarkan pundaknya menjadi penopang tegaknya keberlangsungan langkah-langkah suaminya sepanjang thawaf itu.

Kenyamanan thawaf di lantai dua ini ternyata berdampak macam-macam. Beberapa di antaranya, jamaah bisa dengan jelas mengaminkan doa yang dibaca oleh ketua rombongan. Wirid juga bisa lebih panjang dibaca. Hajat-hajat bisa dengan bebas dilangitkan dengan lantang dan jelas hingga malaikat penjaga langit membuka pintu-pintunya.

Putaran ketujuh selesai ketika jamaah sampai di lampu hijau sebagai penanda. Di bawah lampu itu, mereka mengucapkan secara bersama sambil melihat Ka’bah, Bismillahi Allahu Akbar… ketua rombongan, bapak KH Jumari membaca do’a, jamaah mengaminkan, saya ikut-ikutan.

Usai doa dibaca, lalu saya mendekati ketua rombongan, dan menjabat tangannya serta mengucapkan. “Selamat Pak, jamaah utuh. Njenengan luar biasa. Masya Allah”…

Sai dan Tahallul

Dampak lainnya karena kenyamanan berthawaf adalah, jamaah bisa berthawaf sinambi hp-an dengan leluasa. Dan saya salah satunya. Jamaah juga bisa istirahat, minum zam-zam, dan lain-lain, termasuk melakukan hal yang tidak pantas dilakukan, ngupil, iya, karena hidungnya gatal. Menggaruk hidung dapat ingus dan lain-lain, dan tanpa disadari bulu-bulu hidung ikut tercerabut.

Prosesi Thawaf di Lantai 2 dilanjutkan dengan sa’i di mas’a, lalu tahallul. Dan akhirnya seluruh prosesi umrah selesai dilaksanakan. Alhamdulillah. Saya melihat mereka puas sekali dengan umrah kali ini. Jamaah utuh.

Ketua rombongan masih tetap memimpin jamaahnya menuju terminal untuk naik bus menuju hôtel. Langkah-langkah gontai menuju bus jelas tergambar di kaki-kaki yang thiel. Tetapi wajah sumringah karena telah menyelesaikan umrah nampak mewarnai ronanya.

Ketika bus datang dan mereka semuanya naik menempati tempat duduknya, suara bersahutan para jamaah pertanda bahagia terdengar riuh. Sementara saya masih harus memikirkan bayar dam atas kecerobohan saya mencabuti bulu-bulu hidung, yang baru saya sadari ketika bersin terakhir meledak. (Bersambung ke part 20).

Tentang Penulis

Tentang Penulis

Fahrur Rozi, ketua Lakpesdam PCNU Cilacap, kepala LP2M Universitas Nahdlatul Ulama Al-Ghazali (UNUGHA) Cilacap. (Tharawat Hotel Misfalah, 11 Juli 2023)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button