Gus Yahya; Mengenal Ma’rifatullah Inti Pendidikan di NU

NU CILACAP ONLINE – Ma’arif atau jamaknya kata Ma’rifat sebagai inti dari nilai dan tujuan pendidikan yang dikembangan Nahdatul Ulama disingggung oleh KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya pada Rapat Kerja Nasional LP Maarif NU pada Senin (20/11).

Apa sebenarnya Ma’arif atau Ma’rifat itu? Mungkinkah Ma’arif atau Ma’rifat sebagaimana dipahami Ma’rifatullah merupakan metode pendidikan yang efektif bagi NU sebagaimana merupakan organisiasi para ulama, yang utamanya sebagai ulama dasarnya ditempuh dengan berbagai pendidikan yang harus dilalui?

Sebab bagimanapun ulama merupakan orang-orang yang berilmu, terdidik, serta tokoh yang bukan hanya panutan tetapi menjadi tuntunan moral bagi para santri?

Lantas dengan pendidikan, utamanya adalah menjadi cahaya pengetahuan bagi manusia. Dasar dari setiap kesadaran membawa perubahan yang baik, praktisnya harus dilalui dengan pendidikan yang memadai.

Maka tepatkah bagi Nahdatul Ulama yang merupakan organisasi besar dengan lembaga pendidikannya memiliki dasar pendidikan berbasiskan Ma’rifatullah bagi organisasi?

Artikel Terkait

NU dan Pentingnya Pendidikan

Nahdatul Ulama sebagaimana organisasi-oganisasi lainnya. Tentu tidak hanya menjalankan berbagai kegiatan-kegiatan pada umumnya organisasi saja.

Nahdatul ulama yang justru organisasi para ulama. Sejak berdirinya karena kumpulan dari para ulama. Secara fundamental ulama sebagai ladang pengetahuan agama, moralitas serta adab, bahkan agen-agen perubahan dilingkungan masing-masing.

Gus Yahya; Mengenal Ma'rifatullah Inti Pendidikan di NU

Jelas faktor pendidikan merupakan faktor utama. Sebab bagaimanapun sebagai ulama juga haruslah orang-orang yang benar-benar terdidik sebelumnya.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Satquf menjelaskan tentang pendidikan bagi NU adalah ikhtiar paripurna yang komprehensif, dengan kata lain pendidikan itu bukan hanya masalah kognitif saja.

Dirinya menambahkan pendidikan bukan hanya soal mengasah kapasitas intelektual dari anak didik, bukan hanya sekadar transfer pengetahuan. Tapi pendidikan itu, pada saat yang sama juga sekaligus merupakan ikhtiar untuk membangun kapasitas rohani dari anak didik.

Maka dengan pendidikan juga membangun kapasitas rohani dari anak didik. Seperti apa dan bagaimana membangun kapasitas rohani kepada peserta didik yang dimaksud KH. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya? Sebagaimana model pendidikan di NU yang keberadaanya sendiri sangat penting sebagai roda dari jalannya organisasi?

Ma’arif Model Pendidikan NU

Gus Yahya yang juga merupakan Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibien, Leteh, Rembang, Jawa Tengah mengungkapkan ihwal bagaimana mendidik bukan hanya mengajar akan tetapi juga nyuwuk mendoakan anak didik supaya kapasitas rohaninya berkembang.

Karenanya, dirinya mendorong lembaga pendidikan di NU dikembangkan dengan model pendidikan yang secara integral memasukkan komponen pengembangan kapasitas rohani bagi anak-anak didik, yang menurutnya eksistensial sekali.

Baca juga Tafsir Atas Gagasan Pemerintahan NU Ala Gus Yahya

Sebab itu, Kata Gus Yahya Lembaga Pendidikan di NU bernama Ma’arif, tidak disebut nama-nama lain. Dijelaskan Gus Yahya, NU memilih nama Ma’arif itu dari asal kata ‘Arafa, yang berarti mengenal.

“Ma’arif itu jamak dari Ma’rifat. Dan penggunaan paling banyak dari kalimah Ma’rifat itu adalah untuk menyebut Ma’rifatullah, pengenalan kepada Sang Pencipta”. Kata Gus Yahya

Maka pengetahuan yang seharusnya ajarkan kepada anak didik, berbagai macam komponen pendidikan yang berikan kepada anak didik ini khususnya di lingkungan Nahdatul Ulama, semuanya harus berhulu dan bermuara kepada Ma’rifatullah.

Baca juga Tasawuf Aswaja (Ahlussunnah Wal Jamaah), Tinjauan Sekilas

Sebab itu dengan kata marifatullah sendiri. Bagaimana pendidikan Ma’rifatullah dapat menjadi bagian penting dalam dunia pendidikan yang mana pendidikan juga jalan untuk menambah wawasan dan pengetahuan?

Dasar Ma’rifatullah dalam Pendidikan

Salah satu dasar dari konsep Ma’rifatullah disampaikan Gus Yahya terdapat dalam Kitab Minhajul Abidin, Syekh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali mengutip satu riwayat yang konon berasal dari Nabi Nuh as yang pada waktu itu dalam suatu dialog dengan Allah Swt.

“Apa ilmu yang manfaat itu? Ilmu apakah, ilmu bagaimanakah yang dianggap sebagai ilmu yang manfaat?” Dan jawabannya adalah, bahwa “ilmu yang manfaat itu adalah ilmu yang memperkuat taqwallah, memperkuat takwa kepada Allah, memperdekat seorang murid kepada tujuan dari keberadaannya, yaitu Allah Swt”. Kata Gus Yahya

Maka membaca bagaimana suatu ilmu harus kepada tujuannya yaitu kepada Allah SWT adalah bagimana kemampuan untuk mengamalkan ilmu itu menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi manusia.

Sebab bagaimanapun manusia menjadi represntasi atau suatu makluk yang Allah SWT ciptakan tentu memiliki tujuannya sendiri. Memberikan pengaruh atau dampak kebaikan sebagaimana Allah Swt menciptakan alam semesta ini untuk kebaikan semua makluk ciptaannya tersebut.

Baca juga Mars GP Ansor NU dan Mars Banser (Barisan Ansor Serbaguna)

Dalam konteks organisasi NU sendiri. Tentu pendidikan juga akan menentukan bagaimana wajah NU di masa depan. Oleh karena, suplai-suplai kader NU harusnya paling banyak datang dari lingkungan lembaga-lembaga pendidikan NU.

Gus Yahya menuturkan di NU untuk beraktivitas, apalagi mengelola, bahkan lebih-lebih lagi memimpin Nahdlatul Ulama ini. Kapasitas-kapasitas profan, kapasitas intelektual, keterampilan manajemen, keterampilan politik, dan lain sebagainya itu tidak cukup. Harus menyertakan kapasitas rohani yang sungguh-sungguh bisa diandalkan.

Kalau tidak, Gus Yahya berpendapat Nahdlatul Ulama yang begini raksasa ini tidak akan bisa diurus dengan baik tanpa adanya pendidikan yang mempuni dan maju utamanya dalam perkembangan rohani anak.Tentu sebagaimana “anak didik” mereka akan menjadi generasi penerus kepemimpinan di Agama, Negara, dan Organisasi. (Toto/Naeli)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button