Badan Otonom NU

Cara Unik IPNU IPPNU Rejodadi Peringati Harlah NU

Cimanggu, NU Cilacap Online

Di tengah situasi pandemi Covid-19, Peringatan Hari Lahir Nahdlatul Ulama Ke-95 tetap digelar di berbagai daerah dengan cara yang unik dan beragam. Termasuk di Desa Rejodadi Kecamatan Cimanggu, Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Rejodadi menggelar acara potong tumpeng pada Minggu, (31/01/21) di Musholla Al Istiqomah Panamar Rejodadi.

Sekilas mungkin tidak ada yang unik dari acara potong tumpeng pada sebuah perayaan. Jika kebanyakan berwarna kuning, maka tumpeng khusus harlah NU kali ini berwarna hijau dengan hiasan emas, sesuai dengan masa keemasan Nahdlatul Ulama. Warna hijau yang melambangkan kedamaian dan emas sebagai kemuliaan.

Acara tersebut diawali dengan pembacaan tahlil untuk mendoakan para pendiri Nahdlatul Ulama dan keselamatan bangsa. Kemudian dilanjutkan pemotongan tumpeng dan diakhiri dengan pendalaman materi ke-NU-an.

Dihadiri  oleh pengasuh Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin  Ciawitali Kyai Hamdan Yuafi yang  sekaligus juga  pembina IPNU-IPPNU Ranting Rejodadi,  Mustasyar Ranting NU Rejodadi Kyai Muhlis Amin , dan  imam Musholla Al-Istiqomah Penamar Rejodadi Kyai Sutrisno.

Dalam sambutannya, Ketua IPNU Rejodadi Azis Muhsin menuturkan bahwa tujuan acara ini selain mengenang perjuangan NU,   generasi muda juga  harus paham bagaimana sejarah perkembangan NU sejak dulu hingga kini.

Cara IPNU IPPNU Rejodadi Peringati Harlah NU

Acara ini disambut dan didukung dengan gembira oleh Kyai Sutrisno selaku tuan rumah dalam peringatan harlah kali ini. Walaupun dengan acara yang sederhana dan peserta yang terbatas ini, tidak meruntuhkan semangat dari generasi muda untuk terus berjuang dan mengabdi di NU, khususnya nderek para alim ulama dan kyai.

“Kegiatan ini merupakan hal yang positif bagi generasi muda khususnya di NU, sehingga kita sudah mempunyai kader yang sejak dini sudah dibekali dengan pengetahuan tentang NU. Maka kami sebagai tuan rumah merasa sangat senang dan gembira atas adanya kegiatan ini.” pungkas Kyai Sutrisno.

Kyai Hamdan Yuafi, selaku pembina IPNU IPPNU Rejodadi mengingatkan betapa pentingnya pemuda sebagai penerus bangsa disamping bertakwa kepada Allah SWT, juga harus mencintai dan menjaga para kekasih-Nya diantaranya adalah para alim ulama. Sebagaimana diceritakan di dalam Al-Qur’an kisah qitmir yang dengan kesetiannya menjaga para kekasih-Nya menjadi sebab dimasukkannya ke dalam surga bersama para kekasih Allah SWT tersebut.

“Qitmir saja makhluk yang oleh kita, khalayak umum dipandang sebelah mata bahkan dipandang hina oleh kita bisa masuk surga sebab menjaga para kekasih-Nya. Apalagi kita makhluk Allah SWT yang sempurna penciptaannya diantara yang lain. Jika menjaga para alim ulama sebagai pewaris para nabi dan khususnya sebagai pembawa ajaran rahmah yang diwariskan secara estafet dari Baginda Nabi kepada para sahabatnya, tabi’in, dan para Imam Mazhab.” tuturnya.

Kyai Muklis Amin mewanti-wanti agar IPNU IPPNU tidak gagal fokus dalam beragama, harus memiliki panduan yang runtut dan teratur, tidak boleh seenaknya sendiri, hal itu sudah terbukti menimbulkan kekacauan dalam beragama dan berbangsa. Sebagai generasi penerus bangsa IPNU IPPNU harus bisa meneruskan estafet perjuangan para alim ulama.

“Nahdlatul Ulama dalam beragama memiliki panduan, baik dalam beraqidah, atau tauhid. NU memiliki Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Al-Maturidi, karena beliau adalah ulama yang berhasil meluruskan pemahaman kaum muslimin yang terjebak dalam paham tasybih atau menyerupakan Allah dengan makhluknya, Imam Asy’ari menciptakan konsep tentang sifat-sifat Allah yang dua puluh dan meletakkan sifat wujud menjadi sifat pertama Allah SWT”, terangnya.

“Lalu, dalam fiqih, NU memiliki panduan kepada Imam 4 Mazhab, yaitu Imam Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali, khususnya Imam Syafi’i, karena beliau berjasa dalam meluruskan pemahaman Islam sehingga tidak liberal dan juga tidak radikal, beliau berhasil menggabungkan Al-Qur’an, hadis, dan akal dalam perumusan hukum. Dalam tasawuf, atau proses mencari kedudukan hati, NU memiliki panduan kepada Imam Al-Ghazali dan Imam Junaid al-Baghdadi, karena beliau berjasa dalam mengharmoniskan antara kelompok fiqih dan sufi.” ungkap Kyai Muklis Amin.

Penulis: Shevilla Dewi Pramudita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

two × one =

Pilih Artiikel Menarik Lainnya
Close
Back to top button