Bagikan dan Rekomendasikan

Peringatan Hari Lahir (Harlah) NU bukan ajaran, tetapi tradisi, karena itu pelaksanaanya juga sangat kondisional. NU dilahirkan pada 31 Januari 1926 M, bertepatan dengan 16 Rajab 1344 H. Rasa pengabdian tanpa batas, penuh keikhlasan, dilandasi rasa saling percaya, sehingga muncul semangat kebersamaan yang erat serta militansi yang tinggi menyebabkan dalam waktu yang singkat NU telah menjadi organisasi yang berskala nasional. Untuk mengingatkan pada semangat awal, angka 1926 itu menjadi keramat dalam NU, tidak hanya dikukuhkan tonggak kelahiran NU, tetapi juga dikukuhkan sebagai landasan dari gerak organisasi ini sehingga dikenal istilah “Khittah NU 1926”.

Sebelum NU masuk lebih jauh ke dalam kancah perjuangan nasional, Harlah NU diperingati pada 27 Rajab (bukan tanggal 16 Rajab), ini dibarengkan dengan peringatan isra’ mi’raj. Hal itu sejalan dengan  seruan yang dikeluarkan Muktamar NU ke-15 di Surabaya tahun 1940.

Tetapi ketika NU mulai memasuki gerakan nasional secara mental dan fisik sejak datangnya Jepang 1942, NU berusaha memperingati Harlanya berpatokan pada bulan Januari. Sebagai upaya mengintegrasikan gerakan NU dalam gerakan nasional. Dimulai ketika NU mulai menggerakan tentara Hizbullah, Sabilillah Barisan Kiai, sampai pada keluarnya Resolusi Jihad untuk  perang menghadapi Sekutu dan agresi Belanda pertama dan kedua.

Peringatan Hari Lahir (Harlah) NU tidak diselenggarakan demi rutinitas, tetapi digunakan sebagai momen untuk menegakkan tonggak sejarah. Peringatan Harlah ke-35 pada 31 Januari 1959 misalnya, diselenggarakan secara besar-besaran sebagai upaya mengkonsolidasi diri sebagai upaya untuk merespon keadaan negara yang dalam keadaan darurat saat pertikaian antara ideologi tak bisa diatasi sehingga Konstituante mengalami jalan buntu.

Harlah NU dilakukan tidak hanya untuk unjuk  kekuatan tetapi, merupakan respon terhadap keadaan negara. Ada agenda besar yang diusulkan dalam harlah pada waktu itu. Pertama, mengusulkan adanya integrasi Islam Pancasila atau Pancasila Islam sebagai upaya untuk mengeliminir Pancasila ala PKI, yakni Pancasila gadungan. Kedua NU mengusulkan agar status negara dalam bahaya SOB dicabut karena sangat menyulitkan gerak organisasi dalam melaksanakan pendidikan dan dakwah. Ketiga NU mengusulkan agar Piagam Jakarta tidak hanya dijadikan dokumen historis, yang tidak berfungsi aktif, melainkan harus menjadi jiwa dari UUD 1945.

Usulan itu pada 15 Februari 1959 disampaikan KH Saifuddin Zuhri dalam sidang terakhir Konstituante, 4 Mei 1959, yang  disambut lega oleh seluruh partai mulai dari Masyumi, PNI bahkan PKI serta partai kecil lainnya, karena merupakan tawaran jalan keluar yang sangat cerdik.

Harlah NU yang sangat fenomenal adalah Harlah NU ke-40 yang diselenggarakan pada 31 Januari 1966 di Gelora Bung Karno yang dihadiri oleh ratusan ribu warga nahdliyin dari seluruh Indonesia. Walaupun stadion tidak muat sehingga hadirin tumpah-ruah di jalan, tetapi suasana tetap tertib. Padahal saat setelah peristiwa G30S-PKI, tidak ada lagi kekuatan besar yang mampu mengomando rakyat, tetapi NU bisa. Saat itu NU menjadi stabisisator keamanan negara paling utama, bersama tentara, karena PKI sudah tidak berdaya, PNI sudah tercerai berai, sementara Masyumi sudah lama mati.

Harlah ke-40 itu diketuai oleh seniman besar H Djamaluddin Malik dan H. Usmar Ismail, sehingga suasana dramatis dan teatrikal tercipta, sehingga melahirkan asa baru di tengah keputusasaan social politik akibat tragedi yang dipicu PKI. Saat itulah NU mengusulkan pembubaran PKI sebagai dalang bencana.

Pelaksanaan Harlah NU dengan menggunakan kalender masihiyah dengan tonggak 31 Januari 1926 itu stelah diijma’i oleh para muassis NU yang masih hidup saat itu, antara lain K. Wahab Hasbullah, KH Bisri Sansoeri, KH Asnawi Kudus, KH Maksum Lasem dan lain sebagainya. Karena bagi mereka menjadi NU adalah menjadi Indonesia, maka tidak masalah menggunakan penanggalan yang sudah mentradisi dalam masyarakat Indonesia, dengan tanpa menghilangkan rasa  hormat pada  kalender Hijriyah.

Terbukti seluruh peringatan hari besar Islam tetap menggunakan kalender Hijriyah. Penggunaan kalender Masehi sekadar sarana komunikasi, sebagaimana dulu para wali menggunakan tradisi agama Kapitayan, Hindu, Budha dan lainnya sebagai sarana untuk menyiarkan Islam. Lagi pula Islam juga sangat menghormati Nabi Isa Al Masih, bahkan termasuk salah satu dari ulul azmi, sebagai rasul yang utama.

Walaupun beberapa ulama pada tahun 1986 mengusulkan agar perngatan Harlah NU diselenggarakan pada bulan Hijriyah yakni 16 Rajab. Bahkan keputusan itu dituangkan dalam Peraturan Organisasi. Tetapi saran itu tidak bisa mengalahkan tradisi yang sudah dikembangkan oleh para pendiri. Langkah ini antara lain didorong oleh semangat kebangkitan Islam yang dicetuskan pada tahun 1400 Hijriyah berarti kalender Islam telah memasuki abad ke-15 Hijriyah yang mendapatkan momentumnya dalam Revolusi Islam Iran ala Khomaini 1979.

Pada masa kepemimpinan KH Sahal Mahfudz-KH Hasyim Muzadi diselenggarakan peringatan Harlah NU ke-82 di Gelora Bung Karno, pada Februari 2009. Sebagaimana Harlah sebelumnya, Harlah ini diselenggarakan untuk mengkonsolidasikan kekuatan NU setelah mendapatkan rongrongan dari berbagai kelompok islam transnasional, sekaligus untuk memberikan jaminan keamanan bagi rakyat dan negara bahwa Islam moderat seperti NU masih ada bahkan sangat besar jumlahnya melebihi kekuatan Islam radikal yang penuh dengan kekerasan bahkan menebar terror dan mengancam warga.

Saat kekuatan Islam radikal semakin marak ditambah lagi maraknya kekuatan neo liberal di Indonesia bahkan telah menerobos ke seluruh sektor kehidupan, di bawah kepemimpinan KH Sahal Mahfudz-KH Said Aqil Siroj, perlu kembali mengkonsolidasi diri dan mendesak pada pemerintah agar segera menyelamatkan bangsa dan negara ini dari cengkeraman kapitalisme global.

Gagasan itu yang disampaikan oleh PBNU dalam Harlah NU ke-85 yang diselenggarakan pada Juli 2011 di Gelora Bung Karno. Harlah ini dihitung berdasarkan kalender masehi, tetapi pelaksnaannya bertepatan pada bulan Rajab dan Sya’ban. Harlah ini dihadiri oleh Presiden RI serta petinggi negara serta ormas. Dengan di dukung seluruh  warga NU yang hadir dalam stadion itu, maka gema usulan NU itu terdengar di seluruh dunia berkat gencarnya liputan media.

Jalan tengah untuk mengatasi dikotomi kalender Masehi atau Hijriyah itu biasanya demi kepentingan publik diselenggarakan Harlah terbuka dengan menggunakan kalender masehi, tetapi pada tanggal 16 Rajab ini sangat penting sekalian untuk diadakah peringatan Harlah sambil merayakan Isra’ Mi’raj.

Peringatan Harlah di bulan Rajab ini diselenggarakan dengan melakukan berbagai amalan, selamatan dan doa. Karena  itu, penyelenggaraannya bisa tertutup, lebih sederhana dalam rangka merenung dan berdoa, bukan dalam rangka dakwah dan syiar yang gebyar.  Tetapi semuanya itu li i’la’i kalimatillah dan mewujudkan izzul Islam wal muslimin wa izzu Nahdalatil Ulama wan nahdliyin. Selamat ber-Harlah. (Abdul Mun’im DZ)

Sumber: NUOnline dengan Penyesuaian Judul