Bagikan dan Rekomendasikan

RAMADHAN adalah bulan kebahagiaan keluarga, di mana bulan ini banyak waktu dihabiskan bersama keluarga sehingga kebahagiaan bisa tercipta. Jika bulan-bulan sebelumnya, si bapak sebagai kepala keluarga sibuk bekerja dan sederet rutinitasnya di luar rumah, pada bulan suci ini harus lebih banyak memiliki waktu berkumpul bersama istri dan anak-anaknya.  Di bulan penuh ampunan ini alangkah indah dan harmonis, dalam satu keluarga, bapak, ibu dan anak-anak dalam satu bulan ini melaksanakan kegiatan bersama-sama, buka puasa, makan sahur, tarawih, tadarus, sedekah, dan zakat.

Fenomena kehidupan sekarang ini, bulan di luar Ramadhan, yang laki-laki sibuk dengan ponsel dan jejaring sosial facebook-nya. Selepas rutinitas kantor disambung acara nongkrong bersama teman-teman dan relasi, ditambah acara olahraga setiap akhir pekannya. Berapa jam dan berapa menit waktu untuk istri dan anak-anaknya setiap pekannya.

Wanita karier dan ibu rumah tangga juga tak mau kalah dengan bapak-bapak, setiap pagi, siang, sore dan malam sibuk mengomentari status teman-temannya di facebook dan berbalas pantun di twitter. Belum lagi menghabiskan bonus sms dan telepon sepuasnya.

Begitu juga dengan anak-anak, selepas sekolah disambung kegiatan bimbingan belajar dan privat ini dan itu. Setelah pulang ke rumah, bapak, ibu dan anak-anak tinggal lelahnya dan tidur di kamar masing-masing, hampir tak ada ruang dan waktu untuk bertemu. Keesokan harinya, rutinitas seperti itu terulang lagi dan begitu seterusnya.

Itulah setidaknya potret keluarga modern yang lebih banyak menuruti hawa nafsu yang memeras pikiran dan tenaga. Ramadhan yang mulia tahun ini adalah momentum sangat tepat untuk memperbaiki kualitas hubungan rumah tangga. Menyiram keluarga dengan nilai-nilai spiritual.

Sejenak mengurangi aktivitas pekerjaan, kemudian bersama keluarga menjaring keuntungan yang banyak di bulan penuh maghfiroh ini, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat. Ramadhan memiliki keistimewaan tersendiri, sangatlah merugi bagi orang yang melewatkanya tanpa memperoleh keistimewaan tersebut.

Di sinilah letak pentingnya bagi kita membuka tabir rahasia puasa sebagai salah satu bagian terpenting dari ibadah Ramadhan. Tabir yang pertama, puasa adalah menguatkan jiwa, dalam hidup kebanyakan di antara manusia didominasi oleh hawa nafsunya.

Kemudian, manusia itu menuruti apa pun yang menjadi keinginannya meskipun keinginan itu merupakan sesuatu yang bathil dan mengganggu serta merugikan orang lain. Islam ada perintah untuk memerangi hawa nafsu dalam arti berusaha untuk bisa mengendalikannya, bukan membunuh nafsu yang membuat kita tidak mempunyai keinginan terhadap sesuatu yang bersifat duniawi.

Manakala dalam peperangan ini manusia mengalami kekalahan, malapetaka besar akan terjadi. Manusia yang kalah dalam perang melawan hawa nafsu itu akan mengalihkan penuhanan dari Allah Swt sebagai Tuhan yang benar kepada hawa nafsu yang cenderung mengarahkan manusia pada kesesatan.

Allah memerintahkan kita memerhatikan masalah ini dalam firman-Nya (QS al-Jatsiyah: 23). Artinya, ”Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya.” Dengan ibadah puasa, maka manusia akan berhasil mengendalikan hawa nafsunya yang membuat jiwanya menjadi kuat. Manusia akan memperoleh derajat yang tinggi seperti layaknya malaikat yang suci, kemudian ini akan membuatnya mampu mengetuk dan membuka pintu-pintu langit hingga segala do’anya dikabulkan oleh Allah Swt.

Rasulullah saw bersabda yang artinya: ”Ada tiga golongan orang yang tidak ditolak do’a mereka: orang yang berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil dan do’a orang yang dizalimi.” (HR. Tirmidzi). Tabir Ramadhan yang mulia yang kedua adalah mendidik kemauan. Pada dasarnya kemauan dan keinginan manusia adalah sumber penderitaan pada diri sendiri. Puasa mendidik seseorang untuk memiliki kemauan yang sungguh-sungguh dalam kebaikan, meskipun untuk melaksanakan kebaikan itu terhalang oleh berbagai kendala.

Puasa yang baik akan membuat seseorang terus mempertahankan keinginannya yang baik, bukan kemauan dan keinginan yang buruk, meskipun peluang untuk menyimpang di dunia modern seperti sekarang begitu besar cobaannya. Rasulullah saw menyatakan: ”Puasa itu setengah dari kesabaran. Dalam kaitan ini, maka puasa akan membuat kekuatan rohani seorang muslim semakin prima. Kekuatan rohani yang prima akan membuat seseorang tidak akan lupa diri meskipun telah mencapai keberhasilan atau kenikmatan duniawi yang sangat besar, dan kekuatan rohani juga akan membuat seorang muslim tidak akan berputus asa meskipun penderitaan yang dialami sangat sulit.”

Sehatkan Badan

Rahasia Ramadhan yang mulia yang ketiga adalah menyehatkan badan. Di samping kesehatan dan kekuatan rohani, puasa yang baik dan benar juga akan memberikan pengaruh positif berupa kesehatan jasmani. Hal ini tidak hanya dinyatakan oleh Rasulullah saw, tetapi juga sudah dibuktikan oleh para dokter atau ahli-ahli kesehatan dunia yang membuat kita tidak perlu meragukannya lagi. Mereka berkesimpulan bahwa pada saat-saat tertentu, perut memang harus diistirahatkan dari bekerja memproses makanan yang masuk sebagaimana juga mesin harus diistirahatkan.

Apalagi di dalam Islam, isi perut kita memang harus dibagi menjadi tiga, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air dan sepertiga untuk udara. Tabir Ramadhan yang keempat, mengenal nilai kenikmatan. Dalam hidup ini, sebenarnya sudah begitu banyak kenikmatan yang Allah berikan kepada manusia, tapi banyak pula manusia yang tidak pandai mensyukurinya.

Dapat satu tidak terasa nikmat karena menginginkan dua. Dapat dua tidak terasa nikmat karena menginginkan tiga, dan begitulah seterusnya. Padahal kalau manusia mau memerhatikan dan merenungi, apa yang diperolehnya sebenarnya sudah sangat menyenangkan karena begitu banyak orang yang memperoleh sesuatu tidak lebih banyak atau tidak lebih mudah dari apa yang kita peroleh. Maka dengan puasa, manusia bukan hanya memerhatikan dan merenungi tentang kenikmatan yang sudah diperolehnya, tapi juga merasakan langsung betapa besar sebenarnya nikmat yang Allah berikan kepada kita.

Misalnya, baru beberapa jam saja tidak makan dan minum sudah terasa penderitaan yang kita alami, dan pada saat kita berbuka puasa, begitu besarnya nikmat dari Allah meskipun hanya berupa sebiji kurma atau seteguk air. Di sinilah letak pentingnya ibadah puasa guna mendidik kita untuk menyadari tinggi nilai kenikmatan yang Allah berikan agar kita selanjutnya menjadi orang yang pandai bersyukur dan tidak mengecilkan arti kenikmatan dari Allah meskipun dari segi jumlah memang sedikit dan kecil.

Rasa syukur memang akan membuat nikmat itu bertambah banyak, baik dari segi jumlah atau paling tidak dari segi rasanya. Allah berfirman yang artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: ”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS Ibrohim: 7).

Masih banyak tabir Ramadhan mulia yang bisa dipetik untuk proses penyadaran dan perenungan bagi keluarga. Alangkah indah dan harmonis jika satu per satu uraian itu didiskusikan bersama anggota keluarga. Setidaknya itu akan lebih memunculkan hikmah lain dan inspirasi untuk membangun kualitas hubungan dalam rumah tangga.

Anak-anak tidak hanya butuh asupan gizi yang cukup, buku yang lengkap, perangkat digital yang canggih, setidaknya juga butuh bimbingan keagamaan. Tradisi itu yang sekarang ini mulai luntur seiring dengan semakin modern kehidupan manusia.

Setidaknya uraian ini akan mengispirasi dan bisa dipetik hikmahnya untuk membangun keluarga yang lebih berkualitas dengan lembaran dasar spiritual. Wallahu a’lam.