Mbah Lim, NU dan NKRI

No comment 178 views

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Ulama kharismatik, KH Muslim Rifai Imampuro atau lebih populer dipanggil Mbah Lim, meninggal dunia, Kamis (24/5) pagi. Banyak kenangan dari kiai eksentrik ini. BANYAK istilah untuk menggambarkan sosok Mbah Lim. Namun yang paling sering dipakai adalah sebutan ”Kiai Nyentrik” atau ”Kiai Eksentrik”. Mbah Lim memang unik. Umumnya, para kiai dan ulama tampil di depan publik memakai sarung, baju koko, kopiah, atau dibalut sorban. Tetapi tidak dengan Mbah Lim. Ia lebih sering mengenakan celana panjang dan baju biasa layaknya khalayak. Mbah Lim bahkan tak canggung memakai jeans.

Pengasuh Ponpes Al-Muttaqien Pancasila Sakti, Sumberejo Wangi, Troso, Karanganom, Klaten itu lebih suka memakai topi dengan lambang Banser (Barisan Ansor Serbaguna). Kadang-kadang baret hijau milik infanteri, bahkan baret merah Kopassus, menghiasi kepalanya. Ketika tampil di pertemuan alim ulama NU menjelang muktamar di rumah KHM Sahal Mahfudh, Kajen, Margoyoso, Pati, Mbah Lim mengenakan sarung, tetapi bawahnya memakai sepatu booth yang biasa dipakai pekerja bangunan!

Di kalangan santri, kiai yang berperilaku aneh atau di luar adat, biasa disebut khariqul adah. Namanya saja khariqul adah, jadi pasti tidak sama dengan yang normal. Tetapi, meski tidak mengenakan sarung dan sorban, jika Mbah Lim hadir pada sebuah acara, hampir pasti akan menjadi pusat perhatian publik. Namanya masuk dalam jajaran kiai khos atau kiai sepuh di Indonesia.

Gus Dur pernah melarang penggunaan istilah khos itu karena dianggap bisa membeda-bedakan kiai. Maka kemudian muncullah istilah kiai kampung.

Suatu hari ketika menghadiri Silaturahim Alim Ulama se-Indonesia menjelang pilpres dengan Presiden SBY di Hotel Gumaya Tower Semarang, Mbah Lim sempat ”diseret” oleh Paspampres. Mungkin petugas itu tidak tahu siapa yang ada di hadapannya. Ketika SBY masuk ke Hotel Gumaya, Mbah Lim yang memakai batik warna merah dan topi pet dari kejauhan berteriak-teriak, ”SBY, SBY, SBY”.

Anehnya, Presiden kemudian menghentikan langkah. Dia menoleh ke arah suara yang memanggil. Setelah tahu itu Mbah Lim, Presiden menghampiri, bersalaman dan saling berpeluk mesra. Petugas yang tidak mengenal Mbah Lim pun dibuat bertanya-tanya. ”Mengko nek dadi Presiden maneh kudu nanggap wayang nang Klaten (Nanti kalau jadi presiden lagi harus nanggap wayang di Klaten),” kata Mbah Lim kepada SBY. Presiden pun mengangguk setuju. Protokol kepresidenan segera memberi isyarat agar SBY segera melanjutkan ke tempat upacara.

Jika berbicara, kiai kharismatik itu, (maaf) cedal, sehingga setiap berkomunikasi dengan tamu di rumah atau siapa pun selalu mengajak ajudan, putranya atau santri senior. Untuk acara-acara resmi, sang putra menantu Gus Jazuli sering berperan sebagai penerjemah Mbah Lim. Kadang-kadang dia membawa sendiri kertas dan alat tulis untuk menyampaikan kata-kata.

Mbah Lim, NU dan NKRI

Hampir semua tamu yang bersilaturahim ke rumahnya mendapat dua ”titipan”, yaitu Nahdlatul Ulama (NU) dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). ”Tidak ada orang yang meragukan nasionalisme Mbah Lim,” tutur Rustriningsih, Wakil Gubernur Jateng, beberapa waktu lalu.

Kecintaan terhadap NU dan NKRI itu juga tergambar dari dekorasi rumah. Di ruang tamu Mbah Lim, terdapat bendera Merah Putih panjang yang tidak pernah dilepas. Di atas makam istri, Hj Umi As’adah Muslim yang meninggal 25 Juli 2009, juga terpasang bendera Merah Putih dan Garuda Pancasila. Makam itu berada di bawah cungkup joglo yang diberi nama Joglo Perdamaian.

Mbah Lim menulis pesan perdamaian kepada dunia dalam dua lembar board besar. Bunyinya, ”Meski beda agama sekalipun, toh 1. Sesama hamba Allah 2. Sesama anak-cucu Nabiyullah Adam AS 3. Sesama penghuni NKRI Pancasila. Joglo Perdamaian Umat Manusia se-Dunia, Sumberejo, Wangi, Troso, Karanganom, Klaten, Jawa Tengah, Indonesia 12 Maulid 1428H/30 Maret 2007M pukul 16.17 WIB, Mbah Lim RI”. Papan besar itu terpasang tepat di pintu makam keluarga sehingga orang yang berziarah di tempat itu pasti membaca.

Beberapa bulan lalu saat mantan Gubernur Jateng Ali Mufiz sowan ke Mbah Lim di rumah, kiai itu meminta Gus Jazuli mengambil kertas dan alat tulis. Meski orang yang diajak bicara ada di depannya, Mbah Lim tetap menyampaikan pesan secara tertulis. Dia menulis agar Ali Mufiz menjaga persatuan dan kesatuan, menjaga keutuhan. ”Yang penting titip NU dan NKRI”.

Meski tidak pernah membaca koran, mendengarkan radio, apalagi menonton televisi, dia selalu mengikuti informasi aktual yang terjadi di luar rumah. ”Ini yang kami heran. Mbah Lim tahu. Buktinya ketika kedatangan tamu, hal-hal aktual yang sedang terjadi selalu menjadi agenda pembicaraan,” kata Gus Jazuli.

Ketika detik-detik akhir menjelang Pak Harto akan dilengserkan, Mbah Lim selalu mengingatkan, ”Aja diganggu, aja diganggu. Pak Harto aja diganggu”. Demikian pula menjelang Gus Dur dijatuhkan, dia seolah-olah menjadi bemper. Belakangan, kepada para tamu yang datang ke rumah, Mbah Lim meminta SBY jangan diganggu. Jaga persatuan, kesatuan, NKRI. Selalu  kalimat itu yang disampaikan kepada tetamu.

Dia termasuk kiai yang tidak setuju Gus Dur menjadi presiden. Sampai-sampai muncul kesan mufaraqah atau perpisahan antara Mbah Lim dan Gus Dur. Ternyata tidak. Setelah dilantik jadi presiden, Gus Dur sowan Mbah Lim di Klaten. Yang unik, dia tak mau diatur protokol kepresidenan dengan menunggu presiden di halaman rumah. Mbah Lim memilih keluar rumah menjadi juru parkir mengatur mobil RI-1 yang dinaiki sahabat karibnya itu. Yang lucu, Presiden Gus Dur sempat guyonan begitu bertemu Mbah Lim. ”Mbah Lim enak ya, Mbak Tutut mrene, Mbak Mega ya mrene”. Kiai berpostur kecil dan agak hitam itu tidak menjawab, kecuali senyum-senyum.

Menjelang Muktamar NU di Makassar, para kiai sempat bimbang menetapkan siapa Rais Aam PBNU. Mbah Lim pagi-pagi sudah berkirim surat kepada Mbah Sahal melalui dai kondang Habib Umar Muthohar. Mbah Lim minta Kiai Sahal harus siap jadi Rais Aam lagi dan kiai-kiai lain yang berminat jadi Rais Aam supaya mundur. Ternyata benar, Kiai Sahal yang akhirnya tetap menjadi Rais Aam PBNU sampai sekarang.

Ya, meski Mbah Lim tidak masuk dalam struktur apa pun, semua pendapat dan isyaratnya didengarkan umat. Dia memimpin Ponpes Al-Muttaqien Pancasila Sakti, Klaten sejak 1959 hingga 1995. Pada 1996 dilanjutkan oleh putranya, KH Jalaluddin Muslim, hingga sekarang. Mbah Lim menikah dengan Hj Umi As’adah (alm) meninggalkan delapan anak. “Mbah Lim kiai yang unik, karena sering mengembara dari pondok ke pondok dan dari desa ke desa untuk berdakwah,” kata Gus Jazuli.

Ia menjelaskan, almarhum merupakan putra asli Solo dan masih keturunan Keraton Surakarta. Tapi masa mudanya selalu mengembara dari pondok ke pondok, dan akhirnya menetap di Karaganom Klaten hingga wafat.

 

author
Author: 
Admin Website ini adalah seorang Relawan yang berusaha menghadirkan aktifitas Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Cilacap secara Online. Salam Perjuangan untuk Penghidmatan yang Berkelanjutan. Terima kasih atas kunjungan Anda semuanya.

Leave a reply "Mbah Lim, NU dan NKRI"