Bagikan dan Rekomendasikan

Ki Enthus Susmono menyatakan; NU itu organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, kalau ada orang yang berkeinginan menjatuhkan NU, maka secara tidak langsung orang tadi berarti  juga bermaksud menjatuhkan NKRI. Karena bagi NU dan warga Nahdliyyin, NKRI adalah harga yang tidak bisa ditawar lagi. Sebagai orang NU kita harus membentengi diri agar tidak terjebak oleh tuduhan-tuduhan pihak luar yang sangat memojokkan dengan kata-kata bid’ah, syirik, musyrik dan semacamnya, jalan terbaik yang harus kita tempuh dengan cara mengetahui dan memahami dasar hukum baik dari al-Qur’an maupun al-Hadits  yang menjadi acuan amalan-amalan yang rutin dilakukan oleh kita.

Hal tersebut  disampaikan Ki Enthus Susmono, Dalang asal Tegal saat menyampaikan Taushiyahnya pada acara Pengajian Maulid Nabi Muhammad Shallallohu ‘Aalaihi Wasallam dengan tema “NU Menjawab” yang diselenggarakan oleh Pengurus MWCNU se-eks Kotip Cilacap dan Jeruklegi (19/02).

Lebih lanjut, Ki Enthus menyatakan: “Tetapi apabila NU disentuh dengan cara-cara yang kurang/tidak fair maka tidak ada jalan lain warga NU harus menjawab semua itu dan Banser harus bertindak untuk mengawal organisasi serta membentengi ulama-ulama dari segala tindakan pihak lain yang ingin selalu menyudutkan kita, tetapi dengan catatan bertindak secara benar dan tetap memegang nilai akhlaqul karimah sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Shallallohu ‘Alaihi Wasallam”.

Pengajian Maulid Nabi Muhammad Shallallohu ‘Aalaihi Wasallam oleh jajaran Pengurus MWCNU se-eks Kotip Cilacap dan Jeruklegi sebagai langkah antisipasi dan konsolidasi warga kaum Nahdliyyin atas perkembangan pemikiran dan teknologi menjadi salah satu pemicu awal untuk selalu berpikir secara bebas tanpa mengenal batasan-batasan kemudian pola pikir tersebut dicurahkan salah satunya melalui berbagai media yang sekarang semakin merebak untuk menghantam pihak lain.

“Imbas dari semua di atas atau setidaknya yang menjadi sasaran bidik salah satunya warga Nahdlatul Ulama, dimana dari berbagai ungkapan-ungkapan yang sedang trenddengan mengatas-namakan agama serta menganggap diri mereka paling benar melakukan serangkaian provokasi bahwa banyak sekali amaliyah yang dilakukan oleh warga Nahdlatul Ulama menyimpang dari tata nilai agama Islam dengan menvonis bid’ah, syirik, haram bahkan ungkapan kafirpun tidak segan-segan dilontarkan,” demikian ungkap RB Ridlwan, Ketua MWC NU Cilacap Selatan.

Ribuan warga Nahdlatul Ulama sejak pagi sampai sore dengan antusias dari berbagai sudut kota merapat pada satu titik memadati lapangan sepakbola Lokajaya Lomanis – Cilacap (19/02). Serangkaian acara yang menjadi ciri khas kaum Nahdliyyin dikumandangkan, antara lain lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an, bacaan kitab al-Banzanji, Simtud-Dhuror serta dilaksanakan kegiatan sosial masyarakat seperti santunan anak yatim – piatu dan juga donor darah bekerja sama dengan PMI Cilacap. Hadir pada kesempatan itu Hj. Tetty S Pamuji (isteri Bupati), sedangkan Bupati berhalangan hadir sebab ada tugas lain dan pidato Bupati dibacakan oleh Drs. H. Suyono, Kepala Kantor Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Cilacap yang juga Bendahara PCNU Cilacap.

”Sejak didirikan oleh para ulama, dari dulu sampai sekarang kita harus terus bangkit untuk kejayaan organisasi ini, jangan pernah kendur semangat kita hanya ucapan-ucapan segelintir orang yang sering diarahkan kepada kita dengan tuduhan bid’ah, syirik, dosa, haram dan sebagainya, kita itu besar makanya bangkit untuk menjawab semua itu”, jelas KH Drs. Imam Mudaris, Wakil Ketua PCNU Cilacap bersemangat saat memberikan sambutannya.

H. Mikdarul Chair, Ketua Panitia mengungkapkan; ”sudah sejak lama warga Nahdliyyin se-eks Kotip Cilacap dan Jeruklegi berkeinginan mengadakan kegiatan dimaksud dan Alhamdulillah melalui semangat kebersamaan agenda itu terealisasikan dengan menghadirkan Ki Dalang H. Enthus Susumono dengan tujuan untuk memberikan support  kepada seluruh warga Nahdliyyin agar selalu berbenah diri dan bangkit memberikan sumbangsih serta pengabdiannya kepada organisasi yang didirikan oleh para ulama”.

Kegiatan tersebut harus terus dilakukan sebagai bentuk kecintaan kita kepada Rasulullah dan para ulama sebagai pewaris Rasulullah, dengan niat yang baik dan bersih maka keberkahan akan selalu ada pada diri kita, nilai-nilai luhur yang ada pada diri Rasulullah serta nilai keilmuan para ulama semoga akan menjadi secercah sinar terang yang hinggap dan menetap pada hati kita.