08022014Headline:

Khutbah Jumat: Birrul Walidain

Nu Cilacap

Birrul Walidain mengandung arti “bersikap baik terhadap dua orang tua (ayah dan ibu), yang dibuktikan dengan tingkah laku dan perbuatan yang baik”. Islam menempatkan Birrul Walidain ini sebagai kewajiban dengan urutan nomor dua sesudah kewajiban beribadah kepada Allah dan sebaliknya menempatkan ‘Uququl Walidain (durhaka kepada kedua orang tua) sebagai larangan dengan urutan nomor dua sesudah Syirk (menyekutukan Allah). “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang (tua) ibu-bapak (An-Nisa’ : 36). Khutbah Jumat kali ini mengangkat tema Birrul Walidain, mudah-mudahan bermanfaat

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ  والْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقين وَلاَ عُدْوانَ إلاَّ عَلى الظَّالمِين وَأَشْهَدُ أنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّالله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ رَبَّ الْعالمين وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ المَبْعُوْثُ بِالْكِتَابِ المُبِيْن الفَارِقِ بَيْنَ الهُدَى والضَّلالِ والْغَيِّ والرَّشَادِ والشَّكِّ وَالْيَقِين والصَّلاَةُ وَالسَّلامُ عَلى حَبِيبِنَا وَشَفِيْعِنَا مُحمَّدٍ سَيِّدِ المُرْسلين وَ إمامِ المُهْتَدِيْن وقائِدِ المُجَاهِدِيْن وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.  فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى الله فقال الله تعالى في كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، أعوذ بالله من الشيطان الرجيم “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

 

Hadirin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Pada khutbah kali ini kami mengajak kepada para Jamaah Jum’ah sekalian untuk selalu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT., dengan selalu mendekatkan diri kepada-Nya dan menjauhi segala larangan larangan-Nya. Salah satu pilar meningkatkan ketaqwaan adalah dengan cara memperbaiki hubungan dan meningkatkan tali silaturrahmi dengan orang tua kita. Cara ini sudah kita laksanakan, pada beberapa kesempatan,  dan mudah-mudahan akan selalu kita lakukan pada kesempatan-kesempatan lain secara terus menerus tanpa terputus.

Birrul Walidain mengandung arti “bersikap baik terhadap dua orang tua (ayah dan ibu), yang dibuktikan dengan tingkah laku dan perbuatan yang baik”. Islam menempatkan Birrul Walidain ini sebagai kewajiban dengan urutan nomor dua sesudah kewajiban beribadah kepada Allah dan sebaliknya menempatkan ‘uququl walidain (durhaka kepada kedua orang tua) sebagai larangan dengan urutan nomor dua sesudah Syirk (menyekutukan Allah).

Islam memandang bahwa kedudukan Birrul Walidain setara dengan Beribadah kepada Allah SWT. Allah SWT. berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang (tua) ibu-bapak (An-Nisa’ : 36)

Sementara Rasulullah SAW bersabda:

أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلَاثًا قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ اْلإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ قَالَ فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا لَيْتَهُ سَكَتَ

Artinya: “Sukakah Saya beritahukan kepadamu dosa yg paling besar?—Rasulullah mengulangi pertanyaan ini tiga (3) kali. Sahabat berkata, ‘Baiklah, ya Rasulullah’. Maka Bersabda Nabi. “Menyekutukan Allah, dan Durhaka kepada kedua orang tua. Serta camkanlah, dan saksi palsu dan perkataan bohong”. Maka Nabi selalu megulangi, “Dan persaksian palsu”, sehingga kami berkata, “Semoga Nabi diam” [Hadits Riwayat Bukhari )

Hadirin Jum’at Rahimakumullah…….

Pada umumnya, Birrul Walidain hanya kita anggap sebagai kewajiban keagamaan yang bersifat ukhrawi, yang akan mendapat balasan pahala besar bagi para pelakunya, akan mendapat siksa yang pedih bagi yang bersikap sebaliknya (uququl walidain). Pandangan yang demikian ini, sepenuhnya adalah benar. Umat Islam seharusnya pertama kali menilai segala sesuatu dari sudut ukhrawinya dulu sebelum dari sudut duniawinya.

Melakukan shalat umpamanya, pertama kali harus kita pandang sebagai kewajiban yang ditetapkan oleh Allah dengan sangsi ukhrawi, tidak harus dipertimbangkan dahulu untung rugi duniawinya bagi pelakunya. Membayar zakat umpamanya, pertama kali harus kita pandang sebagai kewajiban ukhrawi sebelum kita memikirkan manfaatnya bagi kepentingan duniawi.

Namun, juga sama sekali tidak salah, kalau kita memikirkan manfaat dari segala macam kewajiban yang ditetapkan oleh Allah SWT. bukan karena meragukanya, tetapi justru didorong oleh keyakinan bahwa segala yang diwajibkan oleh Allah SWT tentu besar manfaatnya bagi yang bersedia melakukanya. Bukan saja manfaat ukhrawi, tetapi juga manfaat duniawi, manfaat bagi kehidupan di dunia ini.

Banyak perintah di dalam Al Qur’an dan Al Hadist, supaya kita beriman, taat dan berfikir. Beriman artinya memiliki keyakinan mutlak, teguh dan benar. Taat artinya : patuh melaksanakan perintah berdasar iman. Berfikir artinya: mengembangkan pikiran supaya dapat melaksanakan kepatuhan dengan lebih mantap dan sempurna.

Hadirin Jum’at Rahimakumullah…….

Pada dasarnya, setiap orang yang normal memiliki kecenderungan untuk bersikap baik terhadap orang tuanya (birrul walidain). Naluri dan akal sehat manusia selalu mengarah demikian, sama dengan adanya kecenderungan pada setiap orang mencintai anaknya, berani bersuasah payah dan berkorban untuk kepentingan anaknya. Dua macam kecenderuangan timbal balik ini merupakan tanda bukti kemahabijaksanaan dan kemahabesaran Allah SWT.

Bayangkan, seandainya tidak ada lagi manusia yang cinta anak dan tidak ada lagi anak yang bersikap baik terhadap orang tua! Kalau dalam satu masyarakat, yang besar tidak mengasihi yang kecil dan yang kecil tidak menghormati yang besar, maka apalah jadinya! Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا

”Tidak termasuk golonganku (yang baik), orang yang tidak mengasihi yang kecil dan tidak menghormati yang besar” ( HR. At Tirmidzi)

Kasih sayang orang tua (ayah dan ibu) kepada anak dan sebaliknya hormat anak kepada ayah ibunya adalah dua tali bagi manusia untuk tetap pada martabat kemanusiaanya. Kewajiban kita adalah memelihara dan mengembangkan rahmat dan karunia Allah SWT ini dengan penuh kesuguhan dan keseksamaan. Jika kita perhatikan, gejala terganggunya Birrul Walidain tampak pada anak, tetapi tidak terlalu selalu penyebab utamanya terletak pada anak saja. Mungkin saja masyarakat dan lingkungan ikut menjadi penyebab anak tidak bersikap baik terhadap orang tua.

Hadirin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Untuk dapat membangkitkan bakti anak kepada orang tua, coba kita renungkan; betapa besar pengorbanan seorang ibu kepada anaknya. Firman Allah Swt :

وَوَصَّيْنَا اْلإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا

Artinya; “Dan Kami wasiatkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang ibu-bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dalam kuadaan susah yang bertambah-tambah dan melahirkannya dengan susah payah juga.” (QS. Al-Ahqaf 46:15)

Dan firman Allah dalam Surat Luqman ayat 14:

وَوَصَّيْنَا اْلإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ  

Artinya;Dan Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada ibu-bapaknya. Ibunya mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah”. (QS. Luqman 31:14)

Dengan melihat kedua ayat diatas, maka berbuat baiklah kepada kedua orang tuanya, agar hidupnya berkah, dan dipanjangkan umurnya serta dilimpahkan rezekinya, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW. ;

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُمَدَّ لَهُ فِي عُمْرِهِ وَأَنْ يُزَادَ لَهُ فِي رِزْقِهِ فَلْيَبَرَّ  وَالِدَيْهِ وَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Siapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dilimpahkan rejekinya, hendaklah ia berbakti kepada kedua ibu-bapaknya dan memelihara silaturahmi”. (HR. Ahmad)

Demikian khutbah kami semoga ada manfaatnya.

 

بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

 

 

What Next?

Recent Articles

3 Responses to "Khutbah Jumat: Birrul Walidain"

  1. siti rokhimah says:

    bagus banget…………….aku saja alumnus ppai kesugihan 1 belum bisa buat artikel seperti itu

  2. khujazi says:

    kita dilahirkan oleh ibu

  3. terima kasih kerana share info yang sangat baik

Leave a Reply

Submit Comment