KHR. Ahmad Fawaid As’ad Samsul Arifin, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Safi’iyah Sukorejo Situbondo, wafat. Innalillahi wa Inna Ilaihi Roojiun. Berita duka datang lagi untuk keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU). Kiai Fawaid wafat dalam usia yang sangat muda, yaitu 43 tahun. Putra dari Kiai Syamsul Arifin itu meninggal dunia di Graha Amerta RS Dr. Soetomo, Surabaya, Jum’at (9/3), pukul 12.15 WIB. Sekretaris DPC PPP Situbondo Sumardi Mufid membenarkan wafatnya Pengasuh Ponpes di Situbondo dan sangat disegani tersebut.   “KH Fawaid dirujuk dari RS Situbondo semalam ke RS Dr Soetomo, beliau merasa sakit sebulan belakangan ini,” katanya.

 

Sumardi menambahkan, sepengetahuannya Kiai Fawaid memiliki riwayat sakit jantung dan kencing manis. “Rencananya jenazah akan dimakam di Ponpes Salfiyah di Sikorejo, satu kompleks dengan makam ayahanda Kiai Syamsul Arifin,” tambah Sumardi.  Kiai Fawaid saat ini tercatat sebagai Ketua DPC  PPP Situbondo, dengan masa jabatan sampai 2016 mendatang. Jabatan ini merupakan yang kedua kalinya, setelah periode 2006 – 2011 menduduki posisi yang sama.

Sementara Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Aqil Siroj, yang saat ini masih di Aljazair, menyampaikan bela sungkawa atas meninggalnya Kiai Fawaid.  “Atas nama NU dan pribadi saya turut berduka. Beliau masih muda, tapi disegani di kalangan Kiai di Jawa Timur dan Pulau Jawa pada umumnya,” ungkap Kiai Said.  Warga NU juga disarankan melaksanakan salat ghaib bagi yang berhalangan melakukannya secara langsung.

Rais Syuriyah PBNU KH Afifuddin Muhajir menyatakan, meninggalnya KH Fawaid As’ad merupakan sebuah berita duka yang sangat dalam mengingat banyak peran penting yang dilakukan olehnya dalam membimbing ummat. “Kita kehilangan bukan hanya sekedar kehilangan. Ini kesedihan mendalam tak hanya bagi pesantren, tetapi juga bagi ummat. Santri beliau ada di mana-mana di seluruh Indonesia,“ katanya ketika dihubungi NU Online dari Jakarta.

Kiai Fawaid, katanya berhasil mengkombinasikan antara tradisi pesantren salaf dengan manajemen modern sehingga banyak orang tua yang menitipkan putra-putrinya di pesantren ini. Tak heran, dalam dua tahun terakhir, jumlah santri terus meningkat dan kini mencapai angka sekitar 15 ribu. Kiai Afifuddin menuturkan, santriwati mendominasi karena adanya kekhawatiran para orang tua atas pengaruh lingkungan yang semakin buruk, sehingga mereka dititipkan di pesantren ini. “Santri baru dikalangan putri sangat banyak. Banyak orang tak tenang membiarkan putrinya ada di rumah karena parahnya kerusakan moral. Aturaan pesantren yang ketat menjadi pilihan untuk menjaga putri mereka,“ jelasnya.

Secara struktural, kiai Fawaid adalah pembina pesantren, tetapi secara kultural ia adalah pengasuhnya. Kiai Afifuddin menjelaskan, proses kepengasuhan di pesantren ini bersifat kolektif kolegian. “Nantinya akan ada rapat keluarga untuk menentukan pengganti beliau,“ papar Kiai yang juga menjadi salah satu pengasuh di pesantren ini. Ia menjalaskan, sampai jam 3.00 WIB, jenazah masih dalam perjalanan di Lumajang. Rencananya, Kiai As’ad akan dimakamkan setelah sholat Isya’.