Bagikan dan Rekomendasikan

KH Wahab Hasbullah Pahlawan Nasional Pendiri NU. Warga Nahdliyin, patut bersyukur. Salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yang juga pejuang kemerdekaan, KH Abdul Wahab Hasbullah, ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional dalam rangka peringatan Hari Pahlawan tahun 2014 ini.  SK penetapan diberikan Presiden RI Joko Widodo, Jumat (7/11), di Istana Merdeka dan diterima perwakilan keluarga, salah satunya Romahurmuziy yang juga politisi PPP. Gelar pahlawan itu telah diusulkan sejak 1989 di masa Orde Baru. Usulan itu tidak mendapat respons pemerintah, lalu kembali diusulkan pada 2012.

Meskipun terbilang lambat, gelar pahlawan nasional yang baru diberikan tahun ini patut disyukuri. Bukan Kiai Wahab yang membutuhkan gelar atau pengakuan, tetapi kewajiban negara memberikan penghargaan dan apresiasi atas jasa perjuangan anak bangsa yang telah mengokohkan negeri ini.

Sumbangan Kiai Wahab untuk bangsa ini sangat besar. Sebelum membidani lahirnya NU bersama Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari pada 1926, Kiai Wahab telah merintis organisasi Nahdlatul Wathan (NW) tahun 1916. Secara literlek Nahdlatul Wathan berarti “kebangkitan Tanah Air” atau dapat dimaknai juga “gerakan kebangsaan.” Organisasi pergerakan ini bertujuan menggembleng generasi muda menjadi pembela Islam dan pembela Tanah Air melalui jalur pendidikan.

Dari NW lahirlah cabang-cabang organisasi di berbagai daerah dengan nama variatif agar tidak dicurigai Belanda, tapi tetap menggunakan embel-embel Wathan. Di Wonokromo diberi nama Ahlul Wathan (Warga Bangsa), di Gresik dan Malang bernama Far’ul Wathan (Elemen Bangsa), di Jombang disebut Hidayatul Wathan (Pencerah Bangsa), di Pacarkeling Khitabatul Wathan (Pembela Bangsa), dan di Semarang Akhul Wathan (Solidaritas Bangsa). Hingga akhirnya NW tersebar di seluruh kota Jawa dan Madura.

Kiai Wahab juga merintis organisasi Nahdlatut Tujjar (NT) “kebangkitan kaum saudagar”. Jika segmen NW adalah kaum muda di bidang pendidikan, maka NT menyasar kalangan pengusaha dan niagawan yang bergerak di bidang ekonomi. Tujuannya sama, menggalang berbagai elemen bangsa dengan segala sumber daya yang dimilikinya untuk berjuang membela negara dan agama dari kolonialisasi bangsa asing. Dua organisasi inilah yang kemudian menjadi embrio lahirnya Nahdlatul Ulama.

Jasa besar Kiai Wahab yang tak bisa diabaikankan juga adalah perannya dalam peristiwa 10 November 1945. Momen bersejarah yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan ini tidak lepas dari fatwa Resolusi Jihad yang dikeluarkan Rais Akbar PBNU Kiai Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Adalah Kiai Wahab yang saat itu menjabat Khatib Am PBNU mengawal implementasi fatwa di lapangan.

Berdasarkan fatwa itulah Bung Tomo menggelorakan semangat jihad arek-arek Surabaya melawan Belanda. Pertempuran heroik kala itu mendapat dukungan ribuan santri dan umat Islam Surabaya yang digerakkan para kiai, termasuk Kiai Wahab. Bukan kali itu saja Kiai Wahab mendukung pertempuran fisik. Sebelumnya ia telah berkali-kali terlibat dalam Laskar Hizbullah, Laskar Sabilillah, dan Barisan Kiai melawan penjajah. Maka, sudah sepantasnya ia mendapat gelar Pahlawan Nasional.

Sebagai figur ulama-politisi, Kiai Wahab dikenal sebagai sosok yang progresif, terbuka, dan toleran. Dalam forum bahtsul masail muktamar NU, ia sering memberikan pandangannya yang mampu menerobos berbagai macam kebuntuan (mauquf) soal keagamaan. Ia lebih mengutamakan dalil rasional ketimbang doktrinal. Meski tidak jarang ijtihadnya kontroversial dan berseberangan dengan ulama lain.

Jauh sebelum Gus Dur mentradisikan kebebasan berpikir dan berpendapat di kalangan Nahdliyin, Kiai Wahab telah merintis hal itu, bahkan sebelum NU berdiri. Melalui forum diskusi Tashwirul Afkar (Pergolakan Pemikiran) yang didirikannya pada 1914 di Surabaya, Kiai Wahab mendorong lahirnya sikap berpikir yang kritis, tidak jumud, dan progresif. Forum ini awalnya untuk mendiskusikan isu-isu keagamaan yang menjadi perdebatan kalangan modernis, reformis, dan tradisionalis Muslim.

Dalam perjalanannya, banyak tokoh dari kalangan Muslim maupun nasionalis terlibat dalam forum ini untuk mendiskusikan berbagai permasalahan agama, sosial, dan bangsa. Forum ini juga menjadi ajang komunikasi sekaligus jembatan antara generasi muda dan tua. Lebih lanjut kelompok diskusi ini menjadi semacam laboratorium pengaderan bagi kaum muda yang gandrung pada pemikiran keilmuan dan dunia politik.

Sikap keterbukaan dan menghormati keragaman adalah salah satu warisan penting Kiai Wahab bagi umat Islam Indonesia saat ini. Di saat umat sering terpecah belah dalam menyikapi perbedaan, forum semacam Tashwirul Afkar penting dihadirkan kembali. Ruang-ruang diskusi antarumat yang berbeda aliran, mazhab, orientasi politik, dan lainnya perlu digalakkan. Agar setiap perbedaan tidak disikapi dengan emosi, takfiri, apalagi aksi dan kontestasi massa.

Para elite Muslim yang berada di pucuk pimpinan, baik di organisasi keagamaan, politik, maupun kemasyarakatan perlu membuka akses dialog dan diskusi seluas-luasnya dalam menyikapi tiap perbedaan dengan kelompok lain di internal maupun eksternal organisasinya. Seperti perpecahan yang terjadi di internal PPP. Sebagai partai politik berbasis Islam yang salah satu pimpinannya Romahurmuziy adalah cicit Kiai Wahab, alangkah elok jika partai ini dapat mencapai islah dan bersatu kembali.

Perpecahan hanya akan menambah beban permasalahan umat, sedangkan persoalan yang ada sudah kian kompleks dan beragam. Tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara ke depan tidak mungkin diselesaikan hanya oleh satu kelompok atau satu umat saja. Diperlukan kebersamaan dan kekompokan semua elemen bangsa untuk menata Indonesia ke depan yang lebih maju dan berdaulat. Selamat Hari Pahlawan!

Artikel ditulis oleh : Mohammad Affan, Peneliti pada Forum Kajian Islam dan Politik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sumber: ROL