KH. Masruri Mughni Wafat di Madinah

1 comment 136 views

Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun; KH. Masruri Mughni, Rois Syuriyah PWNU Jawa Tengah, telah wafat, berpulang ke rahmatullah, 20 Nopember 2011 pukul 00.00 di Madinah Al Munawaroh. Keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Tengah berduka. Demikian berita yang diterima admin pcnucilacap.com dari YMt. Sekretaris PWNU Jawa Tengah. Menurut informasi yang diterima, Jenazah Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikmah Benda Sirampog Brebes tersebut akan dimakamkan di Madinah.

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Cilacap menginstruksikan kepada seluruh jajaran pengurus NU, Badan Otonom dan Lembaga/Lajnah dari Cabang, MWC, Ranting hingga Anak Ranting, untuk melaksanakan Sholat Ghoib dan mendoakan beliau, semoga khusnulhotimah, min ahliljannah, Amin Ya Mujibassailin.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ

Ya Allah, ampunilah dia, berilah rahmat kepadanya, selamatkan dia, ampunilah dan tempatkanlah di tempat yang mulia, luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari beberapa kesalahan, sebagaimana engkau membersikan baju yang putih dari kotoran berikanlah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berikanlah keluarga yang lebih baik dari keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik dari pada istrinya, dan masukkan dia ke surga, jagalah dia dari siksa kubur dan neraka”. (HR. Muslim 2/663)

Update 21 Nopember :

Menurut putra KH.Masruri, KH Sholahudin / Gus Sholah, keputusan pemakaman di Madinah, tepatnya di Pemakaman Baqi’, merupakan kesepakatan keluarga sekaligus memenuhi keinginan almarhum. Semasa hidupnya, beliau sering mengatakan sangat cinta Nabi Muhammad SAW dan ingin selalu bisa dekat. Inilah mengapa keluarga memutuskan pemakaman di sana kendati banyak yang menginginkan almarhum dibawa pulang.

KH. Masruri Mughni meninggal saat melaksanakan ibadah haji. Ulama yang biasa dipanggil Abah ini berangkat pada 14 Oktober dan tergabung dalam kloter 49. Almarhum berangkat bersama istri, Wiwi Musdalifah, dan tiga anak, yakni Zakiya Fitriyah, Ismautul Maula, dan Itmammudin. Gus Sholah menjelaskan, sang ayah meninggal karena sakit jantung.

Empat hari sebelum meninggal, Masruri merasa sesak nafas. Dia kemudian dibawa ke RS Al Anshor. Kondisinya sempat membaik pada Sabtu, bahkan selang ventilator yang terpasang dilepas oleh tim dokter. Namun, Sabtu malam pukul 11.00 kondisinya kembali memburuk. Pukul 04.30 WIB pihak keluarga menerima kabar Abah telah mengembuskan napas terakhir.

KH. Masruri Mughni dilahirkan di Benda, 23 Juli 1943, meninggal dalam usia 69 tahun. Dia meninggalkan seorang istri, 19 anak, dan 26 cucu. Di samping mengasuh 4.500 santri, almarhum dikenal aktif berorganisasi. Selain menjabat sebagai rais syuriah PWNU Jateng sejak 2003, dia juga dipercaya menjadi pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jateng dan ketua MUI Brebes.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj mengajak warga nahdliyin yang tidak bisa bertakziah ke Brebes untuk melakukan shalat ghaib. Dia menyebut KH Masruri sebagai salah satu tokoh NU yang disegani, terutama di kalangan kiai sepuh. Jasanya juga dirasakan besar bagi perkembangan organisasi ini di Jawa Tengah. ’’Mari bersama-sama melaksanakan salat ghaib mendoakan almarhum,” tutur Said Aqil.

Ketua PWNU Jateng Muhammad Adnan menambahkan, pihaknya sejak semalam menggelar tahlilan di kantor PWNU Jl Dr Cipto, Semarang. Setelah mendengar kabar duka, dia langsung memberitahu seluruh pengurus cabang. ’’Kami meminta warga NU menggelar shalat ghaib berjamaah sebelum melaksanakan shalat Jumat pada 25 November nanti,’’ jelas Adnan.

Di mata Adnan, KH Masruri Mughni adalah sosok yang memiliki tanggung jawab tinggi. Ketika ada rapat di Semarang, sebagai rais syuriah dia tak pernah absen meski tinggal di Brebes. ’’Salah satu perannya membesarkan NU di Jateng adalah rutin memberi arahan kebijakan dan menuntaskan problem di tingkat pengurus cabang. Beliau selalu bisa menyelesaikan masalah secara cepat sesuai kompetensi dan kapasitas,’’ paparnya.

Adnan yang merasa sangat kehilangan sosok almarhum yang dikenal mengasuh pondok pesantren yang melengkapi kurikulum pendidikan dengan pengembangan ekonomi, keilmuan umum, peternakan, pertanian, dan teknologi. ’’Beliau low profile. Sebagai kiai masih mengurus pendidikan yang tidak hanya parsial, melulu keagamaan, tapi menyeluruh. Sebagai rais syuriah, beliau mampu mewujudkan iklim sejuk di kalangan NU,’’ lanjutnya.

Update diolah dari Suara Merdeka Cybernews

author
Author: 
Admin Website ini adalah seorang Relawan yang berusaha menghadirkan aktifitas Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Cilacap secara Online. Salam Perjuangan untuk Penghidmatan yang Berkelanjutan. Terima kasih atas kunjungan Anda semuanya.
  1. Kisah Kemukjizatan Al Qur'an | P C N U Cilacap.Com5 years ago

    […] PWNU Jateng, pengasuh pondok pesantren Al-Hikmah2, Benda, Sirampog, Kabupaten Brebes, yang sudah Wafat di Madinah beberapa waktu yang […]

    Reply

Leave a reply "KH. Masruri Mughni Wafat di Madinah"