KH. Hasyim Muzadi-Gus Sholah (KH. Sholahudin Wahid) direkomendasikan sebagai kandidat Rais Am dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar NU 2015 untuk masa hidmah 2015-2020. Rekomendasi disampaikan oleh Forum Silaturrahim Kiai dan Pengasuh Pesantren NU se-Jawa Timur yang digelar Ahad (11/1) di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang. Forum juga menyampaikan beberapa syarat atau kriteria calon ketua umum PBNU periode mendatang.

Beberapa kriteria calon ketua umum PBNU yang dimunculkan diantaranya adalah punya integritas dan amanah, ketokohan secara nasional, punya wawasan luas tentang kesejarahan NU dan visi tentang NU masa depan, mampu menjaga martabat NU , komitmen dalam menjalankan Qonun Asasi Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari, memiliki kemampuan kepemimpinan dan managemen, istiqomah menjaga netralitas NU dalam politik praktis dan tidak punya beban masa lalu, profesional

Dalam halaqoh Hadir sebagai nara sumber pada Halaqoh bertema “Mengembalikan NU pada Ruhnya,” mantan ketua umum PBNU KH Hasyim Muzadi, pengasuh Pesantren Tebuireng KH Salahudin Wahid atau Gus Sholah dan KH Muhyidin Abdusshomad dari Jember.

KH Salahuddin Wahid atau Gus Solah sendiri menyatakan kesiapannya untuk maju dalam Muktamar NU yang akan digelar di Jombang, Jawa Timur, pada Agustus 2015, jika banyak yang mendukung/memintanya untuk menjadi ketua umum organisasi itu.

“Kalau memang saya diberi tugas ya akan saya kerjakan,” kata Gus Solah. Da mengakui sudah banyak pihak yang datang kepadanya untuk meminta maju menjadi ketua umum PBNU periode selanjutnya guna menggantikan Said Aqil Siroj.

Lebih lanjut Gus Solah mengakui kalau usianya sudah tidak muda lagi dan bisa saja dibuat tata tertib agar tidak bisa maju untuk memimpin organisasi Islam tertua di Indonesia ini. “Saya kan sudah 72 tahun, bisa saja nantinya ada tatib yang membatasi usia,” katanya.

Menurut dia dirinya akan memperbaiki keadaan PBNU yang selama ini dinilainya lemah dalam berorganisasi, sehingga harus diperkuat agar lebih maju lagi. Selain itu, kata dia, NU sebagai Ormas harus mengutamakan organisasinya dan jangan terlalu larut pada politik praktis dalam aksi dukung mendukung.

“NU itu kan bukan parpol jadi yang harus diperkuat ya organisasinya dengan membangun masyarakat untuk mewujudkan program yang telah digariskan dan bukan peran politiknya diperkuat,” ujarnya.

Menurut dia, NU tetap perlu kritis terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai tidak pro rakyat. “Kritik harus kita bangun dengan yang baik dan santun, bukan dengan cara-cara yang tidak baik,” katanya.