Kebangkitan Nasional harus dijadikan momentum introspeksi diri kader Ansor dengan kembali merefleksikan semangat pendahulu dalam merintis Indonesia sebagai bangsa yang merdeka. Pilihan pelaksanaan Ansor Bersholawat merupakan bagian dari semangat ini, juga untuk menguatkan amaliyah NU di kalangan generasi muda, khususnya Ansor. Demikian disampaikan Jabir Al Faruqi, ketua PW GP Ansor Jawa Tengah di tengah Rapat Konsolidasi dengan jajaran PC GP Ansor Cilacap dan PAC GP Ansor se Kabupaten Cilacap di Gedung Sekretariat PAC GP Ansor Kroya (20/5).

Jabir Al Faruqi hadir di Cilacap dalam rangka kegiatan Ansor Bersholawat Untuk Kebangkitan Nasional yang diselenggarakan oleh PC GP Ansor Cilacap, 20 Mei 2012 di Lapangan Tugu Kroya. Dalam sambutannya, Jabir mengingatkan adanya upaya memecahbelah integrasi bangsa dengan memanfaatkan isu-isu agama. “Kita tidak bisa menutup mata akan hal ini, sebab, upaya-upaya tersebut nyata adanya dan harus disikapi dengan cara-cara yang elegan mengikuti prinsip-prinsip keagamaan dan kebangsaan yang semestinya,” kata Jabir.

Jabir menambahkan, komunikasi menjadi aspek yang sangat penting dalam menjalankan roda organisasi, apalagi di zaman di mana teknologi informasi sudah menjadi kebutuhan dalam setiap aspek kehidupan. Kemajuan organisasi antara lain ditandai dengan kepiawaian penggeraknya dalam memanfaatan teknologi untuk kepentingan kordinasi dan konsolidasi.

Percepatan konsolidasi organisasi GP Ansor di Jawa Tengah mutlak membutuhkan perangkat teknologi dengan pemanfaatan media komunikasi seperti handphone dan Surat Elektronik. “pemanfaatan ini bukan hanya sekedar komunikasi persuratan atau sekedar pemberitahuan kegiatan, melainkan lebih pada bagaimana isu-isu regional maupun nasional yang berkaitan langsung dengan organisasi, bisa disampaikan secara cepat, akurat dan bisa dipertanggungjawabkan,” katanya.

Lebih jauh Jabir mengemukakan bahwa kader GP Ansor hari ini adalah calon kader NU (Nahdlatul Ulama di masa depan. Hitungannya bisa 10, 15 atau 20 tahun ke depan, kita yang hadir di sini adalah pemegang kepemimpinan NU di berbagai tingkatannya. “Kita harus menyadari, sebelum disadarkan oleh orang lain. Ini saya sampaikan mengingat GP Ansor adalah organisasi kader NU,” katanya berapi-api.