PERSEPSI dan apresiasi masyarakat terhadap pendidikan diniah (madrasah diniah) semakin baik di tengah perkembangan teknologi dan kehidupan modern. Madrasah diniah dengan keunikannya dalam mempertahankan kurikulumnya yang berbasis kutubut turots menjadikan out put lembaga pendidikan diniah memiliki karakter yang kuat dalam berperilaku dan bersikap di kehidupan global ini. Kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan diniah semakin meningkat seiring era persaingan bebas yang tidak bisa dibendung dan sulit difilter, terutama pada masa pembentukan moral anak-anak.

Tuntutan pendidikan untuk anak-anak dalam menghadapi era global harus terpenuhi, tetapi masyarakat sangat menyadari bahwa pemenuhan pendidikan formal yang berbasis sains dan skill tidak menjamin anak-anak memiliki kesantunan, kepekaan, kepedulian, etika dan sikap menghargai dalam kehidupan bermasyarakat yang beragam. Oleh karenanya keberadaan madrasah diniah yang dulu dipandang sebelah mata, sekarang banyak dicari sebagai langkah solutif dalam membentuk kepribadian anak.

Regulasi demi regulasi yang menjadi dasar kuat bagi terselenggaranya pendidikan diniah bermunculan. Jauh sebelum regulasi tersebut muncul, pendidikan diniah (madrasah diniah) telah tumbuh subur di Indonesia yang merupakan inisiatif murni para kiai dan masyarakat untuk memberikan pendidikan berbasis agama Islam dengan menggunakan kitab-kitab kuning karangan ulama terdahulu.

Dasar penyelenggaraan pendidikan diniah selain Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan, Peraturan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam, pada tahun 2017 keluar Peraturan Presiden Nomor 87 tentang Penguatan Pendidikan Karakter sebagai jawaban atas kontroversi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah yang memberlakukan waktu belajar selama 5 hari dengan 8 jam dalam 1 hari yang hal tersebut dianggap mengancam keberlangungan madrasah diniah.

Pada tahun 2018 ini keluar regulasi terbaru berupa Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 20 tentang Penguatan Pendidikan Karakter pada Satuan Pendidikan Formal yang salah satu pasalnya mengatur penyelenggaraan penguatan pendidikan karakter di satuan pendidikan formal.

Merespons Perpres Nomor 87 Tahun 2017 dan Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018, perlu inisiasi masyarakat penyelenggara pendidikan diniah dan semua stakeholder yang berkompeten untuk mengambil peran dalam menangkap peluang kemungkinan dikerjasamakannya sekolah dengan pendidikan diniah (madrasah diniyah). Pasal 8 Perpres 87 Tahun 2017 dan pasal 9 Permendikbud 20 Tahun 2018 memberikan peluang pendidikan diniah masuk ke ranah sekolah formal dengan bentuk kerja sama dalam kegiatan ekstrakurikuler sehingga keberadaan madrasah diniah yang selama ini dikhawatirkan gulung tikar karena diberlakukannya 5 hari sekolah tidak akan terjadi.

Bukan berarti penulis menyepakati pemberlakuan 5 hari sekolah dengan Full Day School, tetapi penulis membaca peluang tersebut sebagai sebuah harapan kejayaan madrasah diniah di era digital sekarang ini. Masyarakat selalu melakukan segala sesuatu secara intan, cepat dan terlayani dengan mudah. Maka keberadaan madrasah diniah yang selama ini hanya familiar dikenal oleh kalangan pesantren atau wilayah pedesaan dengan peluang ini bisa bermutasi dan berinovasi mengepakkan sayap memperluas keberadaannya di wilayah yang selama ini tidak tersentuh oleh istilah pendidikan diniah. Masyarakat lebih mengenal istilah Sekolah Islam Terpadu. Sekolah terintegrasi Madrasah Diniah yang kita tawarkan akan berbeda konten dan kurikulumnya dengan sekolah-sekolah Islam terpadu yang selama ini dikenal masyarakat. ‘

Struktur Organisasi

Formulasi kerja sama dengan sekolah formal patut kita ikhtiyarkan sebagai upaya jemput bola terhadap kebutuhan masyarakat perkotaan yang kurang mengenal madrasah diniah. Format kerja samanya adalah memanfaatkan kegiatan ekstrakurikuler penuh untuk pendidikan diniah dengan struktur organisasi tersendiri dan dengan kurikulum yang referensinya kutubut turats/ kitab-kitab kuning. Bersamaan masa pendidikan sekolah formal siswa selesai/ lulus maka pendidikan diniahnya juga lulus. Sehingga siswa yang lulus pada satuan pendidikan formal tersebut akan mendapatkan 2 jenis ijazah, yaitu ijazah formal dan ijazah nonformal madrasah diniah.

Tetapi bagi siswa sekolah formal yang telah mengikuti pendidikan diniah di madrasah diniah setempat dipersilakan tetap mengikuti dan melanjutkannya sampai selesai/ lulus dan tetap dinilai mengikuti kegiatan ekstrakurikuler penguatan pendidikan karakter. Madrasah diniah yang dikerjasamakan hanya menfasilitasi siswa yang belum mengikuti pendidikan diniah di luar sekolah formal.

Sebuah awal yang cukup sulit untuk memulainya dan membutuhkan komitmen dan kesabaran yang tinggi untuk mewujudkan pengembangan dan inovasi madrasah diniah di tengah masyarakat yang plural (perkotaan). Tetapi jika dibandingkan dengan perjuangan para kiai yang dahulu mengawali terbentuknya pendidikan diniah di surau-surau, masjid-masjid dan pesantren, maka perjuangan generasi penerus yang concern terhadap pendidikan diniah saat ini jauh lebih ringan dan lebih sederhana asalkan mau membangun sinergisitas dan komunikasi aktif dengan berbagai elemen atau instansi-instansi pemangku kebijakan pendidikan formal ataupun pendidikan nonformal.

Komitmen pemerintah terhadap keberlangsungan pendidikan diniah sudah mulai kita rasakan meskipun persentasenya masih jauh dari yang diharapkan, tetapi good will pemerintah setidaknya mulai terlihat. Realisasi dari bentuk komitmen pemerintah harus terus kita kawal, kepedulian dan perhatian pemerintah terhadap penyelenggaraan pendidikan diniah juga harus kita manfaatkan sebaik mungkin dengan cara meningkatkan mutu dan kualitas pembelajaran madrasah diniah.(34)

Aini Saadah MSI, Kasi Pendidikan Diniah Kanwil Kemenag Provinsi Jateng

— Sumber: SuaraMerdeka.Com

Follow, Share and Like:
Facebook
Facebook
Google+
Google+
http://pcnucilacap.com/integrasi-pendidikan-diniah/