Bagikan dan Rekomendasikan

Imlek Tanpa Gus Dur. Perayaan Imlek selalu tak dapat dilepaskan dari sosok guru bangsa, almarhum Gus Dur. Komitmen Gus Dur mencabut Instruksi Presiden (Inpres) No.14 Tahun 1967 dengan menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) No.6 tahun 2000, adalah peristiwa bersejarah bagi warga Tionghoa dan semua warga bangsa saat merayakan peristiwa budaya: merayakan Imlek. Namun perayaan Imlek sepeninggal dua tahun kepergian Gus Dur, bapak pluralisme, tokoh yang amat peduli dan komit dengan kelompok-kelompok minoritas, termasuk warga Tionghoa, apa yang dapat direnungkan dari merayakan Imlek kini? Ada dua refleksi pemaknaan yang dapat kita kumpulkan.

Pertama, pemahaman dasar tentang perayaan Imlek sebagai sebuah moment merayakan kehidupan. Kedua, prinsip-prinsip dasar, karya hidup dan perjuangan Gus Dur seperti: demokrasi, pluralisme, dan keadilan. Pada kedua refleksi ini kita menemukan, bahwa esensi dasar perayaan imlek dan keteladanan Gus Dur adalah: tidak lupa diri dengan sesama dan memberi diri bagi sesama. Jika dua nilai dasar ini menjadi pokok renungan dalam perayaan Imlek kali ini maka, disitulah hakikat Imlek sebagai perayaan berbagi kehidupan.

Tidak Lupa Diri

Menurut pengamat kebudayaan China, P Agung Wijayanto SJ, makna hakiki dari perayaan Imlek adalah merayakan kehidupan. Artinya, Imlek adalah sebuah perayaan berbagi kehidupan dan keindahan hidup yang dilapisi dengan nilai-nilai kebajikan sebagai wujud refleksi atas sang pemilik kehidupan yang teramat baik itu. Merayakan Imlek tak dapat dilepaskan dari pengetahuan sejarah perjalanan manusia bagi bangsa China yang ditandai oleh berbagai usaha untuk mewujudkan hidup yang membahagiakan. Kebahagian itu tidak terletak pada keberhasilan duniawi semata tetapi perpaduan antara kebaikan dan keindahan – yang di dalamnya berisi nilai-nilai kebajikan bukan hal-hal yang jahat yang dapat merendahkan martabat kemanusiaan.

Berangkat dari pemahaman dasar ini, merayakan Imlek merupakan moment refleksi diri agar manusia tidak tergelincir pada kesombongan dan lupa diri. Bagi warga Tionghoa, Imlek juga sebagai sarana saling sapa di antara keluarga. Moment untuk mengingat mereka yang telah berjasa dalan perjalanan hidup kita, berupa saling kunjung ke rumah sanak saudara maupun berdoa di makam leluhur. Perayaan Imlek juga dapat baca sebagai titik balik menata kehidupan pribadi dan sosial yang dipenuhi dengan rasa cinta dan sayang.

Dalam hubungannya dengan perayaan Imlek sepeningal Gus Dur, Jaya Suprana, seorang budayawan, teman dekat Gus Dur mengatakan: Gus Dur berjasa besar terhadap komunitas Tionghoa sehingga sekarang kita bisa bebas mengekspresikan budaya Tionghoa. Perayaan Imlek yang meriah, mustahil bisa terjadi tanpa perjuangan almarhum Gus Dur, tokoh yang sangat kita cintai. Oleh karena itu, Jaya Suprana berpesan, komitmen dan jasa Gus Dur kepada warga Tionghoa jangan sampai dikhianati. Kita jangan sampai lupa daratan, karena tanah air kita tercinta adalah Indonesia, walau pun China adalah tanah leluhur kita.

Memberi Diri

Dalam catatan lain, P Agung Wijayanto SJ, sebagai pemerhati kebudayaan China, mengatakan bangsa China dikenal sebagai bangsa yang ulet dan rajin bekerja. “Mereka merayakan kehidupan tidak dalam kesendirian, tetapi dalam kebersamaan dengan orang lain. Memberi diri bagi orang lain,” lanjutnya. Pemahaman ini mengandung arti, merayakan imlek adalah perayaan memberi diri bagi keluarga, handai tolan, dan sesama dalam bentuk berbagi Angpao, misalnya.

Dalam konteks merayakan Imlek sebagai perayaan memberi diri sekaligus momen untuk mengingat perjuangan Gus Dur yang selalu memberi diri bagi kelompok minoritas, tertindas, komunitas Tionghoa, yang berpuncak pada mengijinkan kembali masyarakat Tionghoa untuk merayakan Imlek, maka ada beberapa catatan refleksi sepeninggal Gus Dur.

Pertama, Michael Utama Purnama, pendiri Perhimpunan Indonesia-Tionghoa (INTI) mengatakan Gus Dur adalah satu-satunya tokoh yang selalu berdiri dan membela hak-hak etnis Tionghoa di Indonesia yang kerap mendapatkan perlakuan diskriminatif. Kita semua berhutang budi kepadanya. Gus Dur selalu memberi diri bagi upaya melawan ketidakadilan yang dialami kaum minoritas, termasuk warga Tionghoa.

Kedua, sepeninggal Gus Dur, warga Tionghoa tidak perlu takut menghadapi berbagai macam diskriminasi dan ketidakadilan, tetapi kita perlu merayakan semua jasa-jasa Gus Dur dengan ikut terlibat memberikan sumbangsih bagi pluralitas, perjuangan keadilan, demokrasi, dan kesejahteraan warga bangsa, seperti yang dilakukan Gus Dur sepanjang hidupnya. Bukankah jejak hidup Gus Dur adalah jejak hidup yang memberi diri dengan mereka yang tertindas dan termarjinalkan?

Ketiga, komitmen Gus Dur tentang kesetaraan dan perlakuan yang sama bagi semua warga di republik ini adalah energi pendorong bagi komunitas Tionghoa untuk berkiprah di belantika pendidikan politik di Indonesia –peran publik bukan peran domestik. Ada beberapa pribadi politisi Tionghoa, seperti Alvin Lie, Murdaya Poo, Chang Werdiyanto, dll. Secara kuantitas tidak banyak, tetapi seperti peribahasa Tionghoa lebih baik lambat daripada berdiam diri

Sejarah hidup yang pernah ditorehkan almarhum Gus Dur tidak harus diisi dengan ratapan, tetapi dengan semangat pluralisme, keadilan dan kesejahteraan bagi semua orang, agar kita dapat merayakan Imlek sebagai perayaan berbagai kehidupan dan kebahagiaan: Gong Xi Fa Chai.

Artikel Ditulis Oleh : William E Aipipidely (Konsultan Komunikasi, CSR, LSM dan Peminat Komunikasi Budaya)

Sumber Tulisan: GusDurian.Net