Bagikan dan Rekomendasikan

Evolusi ISIS di Indonesia terus bergerak, demikian ketika membaca laporan dari Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), mengenai The Evolution of ISIS in Indonesia, di sana dinyatakan bahwa kesetiaan dari para ekstrimis Indonesia untuk IS bisa meningkatkan kemungkinkan terjadinya risiko kekerasan. Sidney Jones, direktur IPAC mengatakan, kapasitas rata-rata ekstremis Indonesia memang masih rendah, namun komitmen mereka untuk IS bisa menjadi bukti yang sangat mematikan (www.worldaffairsjournal.org)

Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa evolusi IS di Indonesia terus bergerak. Dilihat dari asal-usul dan perkembangannya, jaringan dukungan terhadap IS dimulai dengan keterlibatan beberapa orang Indonesia dalam kelompok diskusi online yang berpaham radikal yang dijalankan oleh pendiri kelompok yang berbasis di Inggris pada tahun 2005.

Situs al-mustaqbal.net (yang ikut diblokir oleh menkominfo), disinyalir menjadi ajang penarikan dukungan hingga “pembaiatan” anggota IS. IS juga telah menarik dukungan dari hampir semua calon teroris yang masih berkomitmen untuk melakukan jihad di bumi Indonesia.

Benang merah yang menghubungkan semua bagian dari jaringan pro-IS adalah kepatuhan terhadap ajaran Aman Abdurrahman, seorang ideolog radikal yang kini ditahan di Nusakambangan, di mana Abu Bakar Baasyir juga ada di sana.

Laporan IPAC tersebut, yang dirilis pada 24 September 2014 membuktikan bahwa evolusi IS di Indonesia terus bergerak dan tidak berhenti. Mereka terus bergerak. Dan yang mengejutkan –seperti halnya peredaran narkoba– pergerakan IS di Indonesia, antara lain juga dikendalikan dari penjara Nusakambangan.

IS Menyerbu Nusakambangan

“Vidio Ancaman” IS yang akan menyerbu Nusakambangan dan membebaskan Abu Bakar Ba’asyir dan Aman Abdurrahman (SM, 10/4) sudah dirilis. Seriuskah ancaman ini? Ancaman itu serius mengingat posisi sentral seorang Aman Abdurrahman. Dia dikenal sebagai petinggi IS nomor satu di Indonesia. Abu Bakar Ba’asyir sendiri sudah berbaiat kepada Aman Abdurrahman.

Ba’asyir, divonis penjara 15 tahun oleh majelis hakim PN Jakarta Selatan pada 2011. Amir Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) itu terbukti terlibat pelatihan militer kempok teroris di Aceh. Pada pertengahan 2014, muncul foto Ba’asyir membaiat sejumlah orang untuk bergabung dengan IS. Foto itu dibuat 18 Juli 2014 di dalam musala LP Pasir Putih, Nusakambangan.

Ba’asyir, bersama Abu Husna, Abu Yusuf, Abu Ja’far dan Ayah Banta pernah mengirimkan surat kepada Abu Bakar Al Baghdadi. Dia menulis; “……kami, tawanan Pasir Putih yang mendukung kekhalifahan, berharap bahwa Allah akan memudahkan Anda dan tentara khalifah untuk membantu melepaskan kita yang telah mendekam di penjara orang-orang musyrikin Indonesia, melalui perang atau tebusan “.

Upaya pembebasan Aman dan Ba’asyir oleh IS membuktikan bahwa keduanya memang berjejaring kuat dengan IS. Jika dirunut ke belakang, Sang penebar ancaman dan serbuan yang bernama Abu Jandal alis Salim Mubarok at-Tamimi itu, adalah juga murid dari Aman Abdurrahman. (Kang Nawar, dari berbagai sumber)

Laporan IPAC selengkapnya bisa anda Download di SINI.