Pertengahan Juli lalu ratusan habib berkumpul di Jakarta. Mereka tak sedang menggelar aksi penyisiran menggebrak tempat antimaksiat menjelang puasa. Sebaliknya, mereka justru sedang berdiskusi dalam sebuah seminar internasional tentang cara dakwah yang damai dan toleran, berdasarkan sufisme dan spiritualitas, yang mendasari kesadaran beragama masyarakat kita sejak berabad-abad silam. Dakwah Damai Kaum Habib ini, ditulis oleh Syafiq Basri Assegaff ; Penggagas Gerakan Anti-Radikalisme Islam, Muslim Bhinneka Indonesi.

Tentu saja bukan hanya habaib (jamak kata ’habib’) yang ada. Selain dari Yaman dan Pakistan, seminar juga menghadirkan pakar dari Amerika Serikat, seperti Prof Engseng Ho (Duke University), Dr Mark Woodward (Arizona State University) dan Ismail Fajri Al-Attas (Michigan State University). Dari dalam negeri, di antaranya, hadir Habib Lutfi bin Yahya (Ketua MUI Jawa Tengah), dan Prof Azyumardi Azra (UIN Jakarta).

Diskusi ilmiah itu bukan saja penting, juga tepat waktu, khususnya melihat gejala meningkatnya ekstremisme dan intoleransi di tengah umat yang kian mengkhawatirkan belakangan ini. Pasalnya, secara historis, tasawuf dan spiritualitas telah jadi tulang punggung penyebaran Islam yang ramah: tidak saja di Nusantara, juga di sejumlah wilayah di Asia Tenggara.

Dalam kaitan itu, sejumlah riset tentang masuknya Islam di Asia Tenggara menunjukkan besar peran golongan keturunan Nabi Muhammad asal Hadhramaut (Yaman bagian selatan), yang dikenal dengan sebutan Sayid al-’Alawiyyin atau habaib.

Ditengarai, kaum Alawiyin, dengan Thariqah ’Alawiyah-nya, berperan sentral dalam mempromosikan metode dakwah ini sejak awal meluasnya penyebaran Islam di Nusantara pada abad ke-13. Namun, sebelum gelombang Alawiyin itu, sekitar abad ke-13, Indonesia telah mendapatkan penyiaran dakwah berkat masuknya para tokoh Sayid (termasuk Wali Songo) ke sejumlah daerah Nusantara. Mereka ini lebih populer daripada gelar-gelar lokal, kemudian bermukim dan beranak-pinak di Nusantara.

Pada abad ke-13 itu kegiatan islamisasi Nusantara kelihatan lebih nyata, ketika bukan hanya pedagang Arab yang merantau ke negeri kita, melainkan lebih banyak guru dan da’i (juru dakwah) profesional berhasil mengislamkan para penguasa lokal di berbagai penjuru Nusantara.

Mematahkan Pedang

Secara geopolitik, kejatuhan kekhalifahan Baghdad ke tangan Mongol pada 656 (1258 M) menyebabkan kaum sufi makin berperan di dunia Muslim. Secara bertahap, mereka mengembangkan afiliasi dengan kelompok pedagang dan perajin yang turut membentuk masyarakat urban. Hal itu mempercepat proses ekspansi Islam lewat pengembaraan para syaikh, sayid, dan makhdum ke berbagai penjuru dunia.

Jauh sebelum jatuhnya Baghdad itu pada sekitar tahun 320 H, seorang cucu Nabi Muhammad SAW bernama Ahmad bin Isa (Al-Muhajir) hijrah dari Irak ke Hadhramaut untuk menghindari prosekusi penguasa Dinasti Abbasiyah di Baghdad.

Belakangan, salah seorang cucu Al-Muhajir, yakni Al-Faqih al-Muqaddam, melakukan upacara pematahan pedang, sebagai simbol politik dan sosial-religius penghentian penggunaan senjata. Sebagai gantinya, ia mempromosikan metode dakwah damai dengan pendekatan tasawuf, yang disebut sebagai ’Thariqah ’Alawiyah’ itu. (Ini koreksi tulisan saya di Kompas 3 Januari 2012, yang menyebutkan Al-Muhajir yang mematahkan pedang).

Sejak itu, penekanan pada tasawuf dan metode dakwah damai inilah yang secara turun-temurun mewarnai ”mazhab” kaum Alawiyin (berasal dari nama salah seorang kakek Al-Faqih al-Muqaddam, yakni Alwi bin Ubaydillah) di mana pun mereka berada, termasuk di Nusantara, sampai sekarang.

Dapat disepakati, faktor utama keberhasilan dakwah mereka adalah kemampuan para ulama dari kalangan habaib itu dalam mengemas pesan-pesan Islam secara harmonis dengan budaya lokal, yang berakar pada sifat keramahbudayaan tasawuf. Alhasil, dalam waktu relatif singkat mereka mendapat tempat di hati para elite berbagai pusat kerajaan ataupun masyarakat bawah bangsa-bangsa Asia Tenggara.

Kenyataannya, para raja dan penguasa setempat pun secara sukarela membuka diri terhadap Islam. Tak sedikit tokoh awal dari kalangan Alawiyin migran—yang datang ke Indonesia tanpa membawa istri—kemudian menjadi bagian keluarga beberapa kerajaan di Nusantara, Malaysia, Champa (Kamboja), dan Filipina lewat jalur pernikahan.

Para penduduk Nusantara pun, yang semula sangat menghayati ajaran-ajaran Hindu, segera menyerap dan menghayati aspek-aspek kebatinan (spiritualitas atau tasawuf) Islam ini. Seperti juga ditengarai Engseng Ho, bobot sufistik itulah yang menjadikan pesatnya keberhasilan dakwah secara damai, tanpa melibatkan penaklukan dan ekspedisi militeristik. Dapat dikatakan, aliran pemikiran dan praktik keagamaan organisasi massa seperti NU adalah warisan Thariqah ‘Alawiyah ini.

Kini Dapat Tantangan

Sayangnya, tradisi pengajaran Islam sufistik dan damai itu kini justru mendapat tantangan dari kaum literalis-radikal atau yang biasa disebut kelompok garis keras. Oleh mereka dakwah damai bahkan dianggap menyimpang.

Sikap ekstrem kelompok yang disebut belakangan ini, bila tidak diredam, sangat boleh jadi akan makin menyuburkan benih-benih fundamentalisme dan ekstremisme di Indonesia. Sebagaimana ia telah merobek-robek kedamaian di Pakistan, Afganistan dan banyak negara lain di dunia.

Dakwah Damai Habib, Artikel ditulis oleh Syafiq Basri Assegaff ; Penggagas Gerakan Anti-Radikalisme Islam, Muslim Bhinneka Indonesi. Sumber ; KOMPAS, 28 Juli 2012